Selasa, 02 Februari 2010

Manfaat Mencukur Rambut Bayi


Ditulis ulang : Imla W. Ilham, S.Ag

Mencukur rambut bayi yang baru lahir buat sebagian kepercayaan orang dianggap bisa membuang sial. Rambut bawaan dari bayi baru lahir dianggap disenangi makhluk halus dan bikin si bayi penyakitan. Fakta yang benar mencukur rambut bayi adalah untuk alasan kesehatan. Tradisi mencukur rambut bayi di sebagian masyarakat Indonesia agak sedikit mistis sehingga ada yang mencukurnya saat bayi berusia 7 hari, ada pula yang mencukurnya saat berusia 40 hari. Sebagian orangtua percaya jika rambut anaknya dicukur maka nantinya akan tumbuh lebih tebal dan cepat. Tapi mitos ini tidak terbukti kebenarannya karena belum ada bukti ilmiah yang mendukungnya. Alasan orangtua untuk mencukur rambut bayinya mungkin lebih tepat untuk alasan kesehatan karena belum tentu akan membantu rambut tumbuh menjadi lebih tebal atau cepat.

Rambut seseorang tumbuh dari folikel (tabung rambut) yang berada di bawah permukaan kulit kepala. Jadi apapun yang dilakukan orang dengan rambut bagian luarnya tidak akan berpengaruh terhadap perkembangan dari folikel rambut itu sendiri. Sebenarnya sudah menjadi hal yang umum bahwa bayi akan kehilangan rambutnya selama enam bulan pertama. Hal ini disebut dengan telogen effluvium. Pada intinya rambut memiliki dua fase yaitu fase pertumbuhan dan fase istirahat. Rambut akan masuk ke fase istirahat jika tubuh sedang demam atau adanya perubahan hormonal. Rambut rontok biasanya dimulai saat memasuki tahap pertumbuhan yaitu saat usianya 3 bulan ke atas. Seorang bayi yang baru lahir, kadar hormonnya akan turun tepat setelah dilahirkan. Hal inilah yang menyebabkan rambut bayi terlihat tipis saat baru lahir. Jika orangtua memutuskan untuk mencukur rambut bayi, sebaiknya dilakukan saat bayi sedang tidur sehingga tidak banyak bergerak. Ini berguna agar tidak berisiko melukai kulit kepala bayi.

Mencukur rambut bayi sangat bagus untuk membersihkan kepala bayi dari kotoran atau lemak yang menempel di kepala saat bayi dilahirkan. Dengan begitu maka kepala bayi akan bersih dan menghindari kemungkinan munculnya penyakit akibat rambut yang tidak bersih. Selain itu jangan lupa untuk tetap menjaga kebersihan rambut si bayi dengan rajin keramas sambil dipijat ringan agar bayi tidak stres. Jadi tak ada salahnya untuk mencukur rambut bayi baru untuk alasan kesehatan agar lemak-lemak yang menempel di rambut dan kulit kepala saat lahir bisa dibersihkan.

(.................... Alhamdulillah, 2 anak saya ketika masih kecil selalu saya cukur rambut mereka !)

Sumber : detik.com/health/html

Budaya HANG OUT Pada Anak-Anak

Ditulis ulang : Imla W. Ilham, S.Ag

Pada kalangan dewasa, hang out menjadi media untuk bersosialisasi atau meeting dengan rekan kerja. Menjamurnya tempat-tempat yang nyaman untuk berkumpul bersama rekan dan kolega, seperti restoran, mal dan kafe mendorong kebiasaan ini menjadi sebuah kebutuhan. Kini, budaya ini telah memasuki komunitas kecil karena pengaruh kehidupan sosial yang terbiasa berkumpul di tempat-tempat tertentu layaknya orang dewasa. Menurut konselor pendidikan dari Universitas Paramadina, Fatchiah Kertamuda MSc, hang out diartikan sebagai aktivitas yang dilakukan bersama teman sebaya maupun keluarga untuk rileksasi ataupun bersenang-senang. Pada dasarnya anak belum mengerti benar arti dari hang out. Di dalam benak anak, hang out diartikan sebatas pergi dan bersenang-senang bersama. Kegiatan belajar bersama atau bermain di rumah teman pun dikategorikan sebagai kegiatan hang out. Kebutuhan kegiatan hang out pada anak tentu berbeda dengan orang dewasa. Anak belum memiliki konsep kebutuhan layaknya orang dewasa. Mereka hanya mengikuti kebiasaan orang dewasa seperti mengobrol atau bersenda gurau di kafe, mal dan restoran. Namun, sebenarnya pada anak usia tertentu memang membutuhkan kegiatan untuk bersosialisasi. Hang out bisa jadi media untuk memenuhi tugas perkembangan anak. ”Mulai usia 7-8 tahun, anak belajar bergaul dengan teman sebaya, lebih mandiri, membentuk sikap terhadap kelompoknya, serta mengembangkan nurani, moralitas, dan sikap,” kata Fatchiah.

Psikolog perkembangan anak dari UI, Luth Savitri Msi,juga mengungkapkan kebersamaan dengan teman-teman menjadi hal penting bagi anak terutama di usia 9-10 tahun. Pada masa ini, anak ingin mencari tahu lingkungan di luar keluarga dan rumahnya, salah satu caranya hang out bersama teman. ’’Jadi jangan kaget jika terkadang anak terkesan suka membangkang atau memberontak karena pengaruh teman lebih besar dibandingkan orangtua,’’ ujarnya. Savitri menambahkan, Anak bisa mulai hang out tergantung dari lingkungan sosialnya, sejak kapan orangtua mengizinkan anak bersosialisasi bersama teman-temannya. Akan berbeda antara anak yang dibesarkan di lingkungan yang memiliki izin keluar rumah bersama teman-teman sejak SD, SMP, SMA, atau bahkan kuliah. Jika pada usia SD anak sudah diizinkan, maka budaya ini tentu lekat dan tidak asing dalam dirinya kelak, sehingga seringkali dijadikan kebutuhan oleh anak.

Melalui hang out, lanjut Savitri, anak juga dapat memastikan identitas dirinya, yaitu apakah tergolong populer atau tidak. Untuk masuk ke kelompok tertentu tak jarang anak akan memenuhi persyaratannya yang sering disebut dengan conformity. Alasan anak menyukai hang out, karena adanya perasaan kebersamaan bersama teman-teman. Mereka bisa sharing apapun tanpa takut dihakimi. ”Anak pun beranggapan dirinya sudah mampu menentukan pilihan, sehingga terkadang aturan dirasakan mengganggu. Sedangkan teman tidak memberikan aturan,” paparnya. Ditambah lagi, anak bisa membuat keputusan untuk dirinya sendiri dan orang lain serta merasa bebas melakukan kegiatan apapun. Umumnya kegiatan hang out yang biasa anak lakukan antara lain, makan dan minum di restoran cepat saji sambil mengobrol atau tukar menukar barang koleksi, menonton di bioskop, belanja, dan main games. ”Hang out dirasa anak sebagai salah satu kebutuhan tahapan perkembangan, yaitu kebutuhan sosialisasi dan autonominya,” kata Savitri.

Kegiatan berkelompok ini juga sangat mempengaruhi perkembangan sosial anak antara lain keinginan anak menyesuaikan diri dengan tuntutan sosial. Melalui hubungan dengan teman sebaya, anak akan belajar berpikir secara mandiri, mampu mengambil keputusan, serta menerima pandangan dan nilai-nilai selain dari lingkungan keluarga. Untuk diterima dalam lingkungannya, anak akan mempelajari pola perilaku yang diterima kelompoknya.”Melalui kegiatan ini maka akan terjadi transfer nilai baik hal-hal positif hingga yang bersifat negatif, ” kata Fatchiah. Tak jarang pula hal ini dapat mempengaruhi konsep diri anak. Apabila hang out tidak memberikan makna pada anak maka akan menyebabkan anak tidak nyaman dengan kelompoknya, misalnya minat atau kebiasaan dalam kelompoknya tidak sesuai dengan minatnya. Anak pun merasa ditolak dan tidak merasa diterima dalam kelompoknya. Alhasil, anak kesulitan menyesuaikan diri. ”Seringkali anak takut tidak diakui oleh teman-temannya sehingga akan berusaha mengikuti peraturan dalam kelompoknya meskipun buruk,” tambah Fatchiah. Fatchiah juga menyayangkan pilihan tempat hang out anak yang belum sesuai dengan tahapan perkembangannya seperti kafe, atau restoran. Penyebabnya, tempat-tempat tersebut umumnya lebih besar dimasuki komunitas orang dewasa dibanding anak-anak. Sehingga anak-anak pun semakin dekat dengan kebiasaan orang dewasa seperti merokok dan sebagainya. Sebab itu, orangtua harus mengamati pilihan tempat hang out anak. Sebaiknya pilih tempat yang memang memiliki unsur edukasi dan sesuai untuk anak-anak, misalnya sanggar kesenian, kebun binatang, arena bermain, dan sebagainya.

(berdasarkan "artikel" yang dikirim oleh salah seorang teman suami ke E-Mailnya/(c) : Mita Zoe)

Jumat, 15 Januari 2010

Dompet Suami !

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Dompet ....... !. Saya tidak akan pernah membuka dompet suami saya tanpa seizinnya. Saya sering membuka dompetnya, ketika ia menyuruh ambilkan uang bila saya atau anak-anak minta uang, untuk jajan atau kebutuhan privat-dapur lainnya. Sebenarnya, seluruh uang saya yang pegang. Ini bukan kebijakan saya pribadi, tapi memang permintaan suami. Ketika suami saya menerima gaji atau uang "lainnya", biasanya ia langsung setor ke saya atau ke tabungan keluarga gabung dengan gaji saya (cq. tabungan saya). Biasanya, bila suami saya butuh uang, ia akan minta pada saya. Hal ini bukan tanpa alasan. Suami saya tidak "pandai" mengatur uang. Artinya, uang yang ada dalam dompet atau tabungannya, terkadang tidak bisa dikontrolnya dengan baik. Sering terjadi, bila uang dalam dompetnya "cukup banyak" (untuk ukuran kami), uang tersebut bisa habis dalam waktu yang tidak terlalu lama. Ia sangat maniak membeli buku. Bila melihat sebuah buku baru, ia tidak akan berfikir panjang mengeluarkan uang yang ada dalam dompetnya. Demikian juga, dengan kebiasaannya duduk-duduk di kedai-lepau bila waktu senggang, baik di kampus ataupun di komplek perumahan kami. Ia paling suka diskusi atau ma-"ota". Nah ... biasanya, bila hal ini dilakukannya, ia bersama teman-temannya akan keasyikan sambil minum teh telur dan makan nasi goreng serta ..... merokok. Karena itulah, atas keinginannya, ia meminta saya untuk mengatur "belanjanya" ..... setelah ia menyetor uang kepada saya, ia akan minta sesuai keinginannya. Dan, saya tidak akan menanyakan untuk apa, disamping menghormatinya, ia juga tidak pernah minta uang banyak, paling untuk belanja dan beli minyak kenderaan. Sampai hari ini .... ia sangat puas dengan manajemen keuangan yang saya lakukan.

Demikian juga dengan dompetnya. Walaupun di kamar kami, suami saya tidak pernah menyimpan dompetnya di tempat-tempat tertentu .... bahkan, ia meletakkan dompet di sembarang tempat di dalam kamar, saya tidak akan pernah membuka tanpa se-izin-nya. Ini sangat saya tekankan kepada anak-anak saya. Mereka sering menemukan dompet suami saya terletak di meja atau kasus kamar kami, tapi IFA dan Adek selalu memberikannya kepada saya untuk diletakkan di tempat yang semestinya. Bahkan terkadang, mereka mengingatkan ayah mereka untuk tidak meletakkan dompet di sembarangan tempat. Dan saya lihat, mereka juga memperlakukan dompet ayah mereka sebagaimana saya memperlakukan dompet suami saya tersebut. Ketika Ifa dan Adek minta uang jajan, sementara dompet ayahnya ada dekat mereka, mereka akan membawa dompet tersebut pada suami saya dan membiarkan suami saya mengambil uang dan memberikannya pada mereka. Memang ....... "men-cat suatu gedung harus dimulai dari atas" !. Keteladanan harus dimulai dari "atas".

MUI : "Foto Pre-Wedding Dianggap Haram"

Ditulis ulang : Imla W. Ilham, S.Ag

Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, mengharamkan foto mesra sebelum pernikahan atau pre-wedding. Demikian pula aktivitas fotografer yang mengambil gambar-gambar pre-wedding. "Hukumnya tidak boleh karena hal itu (fotografer pre-wedding) menunjukkan sikap rela dengan kemaksiatan," kata Juru bicara Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Nabil Haroen, menjelaskan putusan haram foto pre-wedding". Foto pre-wedding dianggap haram karena menampilkan kemesraan pasangan bukan muhrim. Foto pre-wedding dianggap memuat unsur ikhtilat (percampuran laki-laki dan perempuan), kholwat (berduaan) dan kasyful aurat (membuka aurat).

Di bagian akhir putusan soal foto pra nikah ditulis catatan, "Jawaban di atas (haram) hanya berlaku bila pembuatan foto tersebut dilakukan pra-akad, tidak ada rekayasa sama sekali dan tidak ada dhon (asumsi) atau keyakinan munculnya penilaian negatif masyarakat." Ketua Majelis Ulama Indonesia, Umar Shihab, mengatakan, lembaganya belum menentukan sikap atas pengharaman foto pre-wedding. Namun, secara pribadi ia sependapat dengan pengharaman itu. "Memang kan dalam agama dikatakan lelaki dan perempuan yang belum menikah tidak boleh berdekatan dan bersentuhan meskipun itu calon istrinya, pre-weeding itukan foto yang mendekatkan antara wanita dan pria," kata Umar. Selain mengharamkan aktivitas pre-wedding, Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri Lirboyo juga mengharamkan pelurusan rambut atau rebonding bagi wanita yang belum menikah. "Bagi calon mempelai, hukumnya haram jika terdapat; ikhtilat (percampuran laki-laki dan perempuan), kholwat (berduaan) dan kasyful aurat (membuka aurat)," kata putusan tersebut. Sementara, untuk fotografernya, "hukumnya tidak boleh karena hal itu menunjukkan sikap rela dengan kemaksiatan," jelas putusan tersebut.

Di bagian akhir putusan soal foto pra nikah ditulis catatan. "Jawaban di atas hanya berlaku bila pembuatan foto tersebut dilakukan pra-akad, tidak ada rekayasa sama sekali dan tidak ada dhon (asumsi) atau keyakinan munculnya penilaian negatif masyarakat." Pengharaman juga berlaku bagi umat muslim yang memodifikasi rambut dengan gaya punk atau rasta.

(sumber : vivanews.com/16-1-2010)


Rabu, 06 Januari 2010

SAMPAH !

Oleh : Imla W. Ilham

Ya Allah Robbi Izzati Nan Maha Cantik lagi Maha Elok ......... bukan kami ingin "menodai" keindahan bumi engkau ..... ! Semoga dalam beberapa tahun ke depan, sungai-sungai seperti ini akan menjadi "fosil" dan jadi cerita buruk sebuah peradaban ummat manusia yang kemudian digantikan dengan sungai-sungai yang indah, bersih lagi elok. Saya tak tahu ..... apakah foto ini memenuhi kelayakan untuk memenangkan hadiah PULITZER ("Nobel"-nya dunia photography) ....... Oppps !







Sumber foto : www.google.com


Ditolak Singapura, Bocah Jenius Ainan Celeste Cawley ke Malaysia

Re-Write : Imla W. Ilham, S.Ag

Singapura sepatutnya bangga memiliki seorang bocah dalam ilmu kimia. Sayangnya, pemerintah negara-kota itu tampak belum mengizinkan bocah bernama Ainan Celeste Cawley untuk melanjutkan pendidikan di jenjang yang terlalu tinggi untuk usianya, yaitu program sarjana. Saat masih berusia 7 tahun, Ainan sudah bisa mengerjakan soal-soal pelajaran kimia untuk murid sekolah menengah. Kini, di usia 10 tahun putra pasangan gado-gado Irlandia-Melayu itu siap menapaki jenjang pendidikan sarjana. Masalahnya, otoritas di Singapura tak kunjung mengizinkan anak seumur Ainan untuk mengikuti program pendidikan tinggi, kendati bocah itu sudah terbukti jenius. Orang tua Ainan jelas kecewa dengan sistem pendidikan di Singapura, yang dianggap masih bersikap kaku.

"Kami selama hampir tiga tahun terus bergulat dengan sistem di sana. Namun, akhirnya kami merasa sistem di sana sangat tidak fleksibel dan tidak bersedia membuat pengecualian untuk mengakomodasi Ainan secara memuaskan," kata ayah Ainan, Valentine Cawley, saat menggelar jumpa pers di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin 4 Januari 2010. Itulah sebabnya, orang tuanya mengirim Ainan untuk pindah ke Malaysia. Kebetulan, sistem pendidikan di Negeri Jiran itu tidak kaku dan ada perguruan tinggi yang mau menerima dia belajar. Kini, menurut harian The Straits Times, Ainan sejak awal pekan ini menjadi mahasiswa Universitas HELP. Di kampus swasta yang terletak di Kuala Lumpur itu, Ainan menjalani program studi selama lima tahun.

Koran Malaysia, The New Straits Times, mengungkapkan bahwa kedua orang tua Ainan sebelumnya telah bertemu dengan Presiden Asosiasi Anak-anak Berbakat Nasional, Zuhairah Ali. Ternyata, Ali mengizinkan Ainan belajar di negaranya. Tidak seperti di Singapura, proses administrasi untuk penempatan Ainan belajar di universitas Malaysia hanya butuh waktu seminggu. "Kami sangat terkejut oleh keramahan dan cepatnya respon yang diberikan bagi Ainan di Malaysia. Padahal, tadinya kami mulai terbiasa dengan respon yang sangat lambat di Singapura," tutur Cawley. Dia memilih Universitas HELP bagi putranya karena dikenal sebagai kampus yang menerapkan standar yang tinggi dengan biaya yang terjangkau. Para staf universitas juga tampak memahami kebutuhan dan situasi yang dialami Ainan. Kendati jenius, dia tetap dipandang sebagai anak-anak.

Insert : Foto Ainan Celeste Cawley/dikutip dari vivanews.com/6 Januari 2010

Rabu, 30 Desember 2009

Pembelaan dan Integritas

Oleh : Imla W. Ilham

Kita ingat nabi Isa 'Alaihissalam difitnah sebagai anak haram dari perzinahan Siti Maryam (dalam tradisi Kristiani : bunda Maria), kemudian nabi Yusuf dituduh sebagai pemerkosa Siti Zulaikha, istri sang raja, Socrates dianggap oleh penguasa Athena Yunani kala itu telah merusak anak muda; dengan pemikiran-pemikiran "cerahnya", yang mulia Nabi Muhammad SAW. yang terus menerus dikatakan majnun (gila). Namun ingatkah kita bagaimana sejarah menuliskan sikap mereka ketika mendapati itu semua? Socrates sama sekali tak melakukan pembelaan padahal ia mampu, Nabi Muhammad SAW. tetap bergeming ketika menyuapi seorang pengemis buta yang selalu bercerita di sela-sela makannya bahwa Muhammad, sosok yang tak dikenalnya, adalah tukang sihir licik dan pembohong. Mereka sama-sama tak melakukan pembelaan.


Sikap mereka ini bagi saya merupakan bentuk sikap proaktif. Suatu sikap yang didasarkan pada keyakinan yang teguh bahwa kehormatan atau reputasi itu tidak berada di luar, namun di dalam diri. Karena sifatnya yang di dalam, jadi pihak luar tak kuasa untuk menjamah, mencoreng atau berbuat sesuatu yang akan merusak kehormatannya. Jadilah harga harga diri, kehormatan, dan reputasi mereka senantiasa terlindungi.


Apakah mereka hanya diam? Mungkin sikap dan tindakannya yang tak “melawan” dan tidak berusaha mengklarifikasi kabar fitnah dari orang lain itu kita baca sebagai tindakan diam. Namun sebenarnya, mereka berbicara banyak. Mereka menandingi musuh-musuhnya dengan gigih dan kuat. Bukan dengan klarifikasi, retorika, dan pengaduan. Namun dengan konsistensi dalam integritasnya.

Terinspirasi dari www.insanitis.com

Senin, 21 Desember 2009

Mulailah Belajar Berhenti Merokok

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Satu hal yang ingin saya garis bawahi, bahwa saya sangat menghormati dan menyayangi suami saya. Itu pasti. Ia imam saya dan dalam kondisi apapun yang terjadi padanya, saya harus menjadi "solusi terbaik" bagi nya. Saya adalah soulmate-nya. Dalam kondisi apapun. Banyak hal-hal yang saya kagumi darinya. Berbagai hal banyak yang saya pelajari darinya. Beberapa perubahan kontributif dalam diri saya, ia-lah yang banyak memegang andil. Di antara banyak kelebihan yang saya kagumi dari diri seorang Muhammad Ilham - ayah dari anak-anak saya - ada beberapa hal yang harus saya koreksi. Bukan menentang, tapi mengingatkan. Dua hal yang berbeda. Diantara beberapa perilakunya yang menurut saya tidak kontributif bagi potensi talenta dan fisiknya, satu per satu sudah mulai berubah. Namun ada satu yang sampai hari ini belum bisa saya atasi dari dirinya yaitu MEROKOK. Saya tahu, kebiasaan ini sudah dilakukannya sebelum menikah dengan saya. Walau bukan perokok berat, tapi bagi saya merokok tidak produktif bagi dirinya dan lingkungan. Rata-rata satu hari ia menghabiskan satu bungkus rokok Surya 16. Ketika saya minta ia berhenti merokok, ia akan berdiplomatis ..... dan biasanya saya kalah. Ia pintar menyusun kata-kata dan berargumentasi. Tapi, ia mengakui pada saya bahwa merokok adalah seseuatu yang tidak baik, dan ia berjanji akan mengurangi ...... ya, mengurangi.


Walau proses pengurangan tersebut tidak begitu signifikan, tapi yang jelas, sebagai istri saya selalu mengingatkannya. Ini adalah ibadah, wujud cinta saya pada keluarga. Akhir-akhir ini, saya tidak mengajaknya diskusi tentang rokok, tapi saya lebih suka mengumpulkan beberapa fakta (baik artikel ataupun gambar) tentang rokok, dan biasanya akan saya berikan padanya dalam suasana "diam", tanpa bicara ...... dan ia baca dan lihat. Biasanya ia akan bilang : "terima kasih ...... saya akan terus belajar untuk berhenti merokok, back up terus saya dengan arif bijaksana". Gambar dibawah ini adalah beberapa diantara gambar-gambar yang pernah saya perlihatkan pada suami saya tentang "apakah penting bagi manusia merokok ?" (saya up-load dari beberapa sumber terutama www.google.com).


Minggu, 20 Desember 2009

Buat IFA & ADEK : "Pelangi Ciptaan Allah"

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Pelangi Pelangi/Alangkah Indahmu/Merah Kuning Hijau/Dilangit yang Biru/Pelukismu Agung/Siapa gerangan ?/ ...... Pelangi ... Pelangi ..... Ciptaan Tuhan. Demikian bait nyanyi anak-anak yang dari ibu saya masih kecil hingga anak saya juga masih kecil, nyanyi "Pelangi" ini masih diminati. Sungguh fenomenal, dalam bahasa yang sederhana, mudah dicerna dan memposisikan Allah SWT. sebagai sang-maha kreator dengan "bukti" kreasi yang pantas dikagumi oleh semua orang dalam semua tingkat dan level umur serta strata. Apalagi, bagi anak-anak, melihat pelangi adalah suatu "kekaguman" luar biasa atas fenomena alam. Demikian halnya saya waktu kecil serta anak-anak saya (IFA-ADEK), yang kagum bila melihat pelangi. Mata terkadang tidak berkedip, dan .... tanpa disadari mereka akan bertanya dengan lugu-polos : "Ibu, siapa sih yang membuat pelangi itu". "Allah Azza wa Jalla, Nak !, Tuhan Seru Sekalian Alam". Dan, anak-anak saya tidak akan bertanya lagi ..... "sami'na wa atho'na". Dari "contoh" alam, akhirnya saya mudah menceritakan ke-mahabesar-an Allah SWT.


Foto : Http./www.harunyahya.com/

Sabtu, 19 Desember 2009

Sebuah Fantasi : "Kota Terapung"

Re-Write : Imla W. Ilham, S.Ag
(disadur dari eriricaldo.com)

Pernah membayangkan kota terapung di laut ? Jauh dari keramaian dan keruwetan kota, melainkan seperti wonderland impian masa kanak-kanak dan tentu saja sejalan dengan konsep desain kota masa depan yang mesti ramah lingkungan. Seorang desainer mencoba menuangkan ide kota terapung itu dan memenangkan sebuah kontes desain mengenai kelautan.


"The Swimming City" didesain oleh Andras Gyorfi, bisa jadi adalah solusi terbaik untuk penggemar petualangan di laut atau mungkin bagi banyak orang yang memimpikan terbebas dari keruwetan hidup di kota untuk menikmati hidup yang simple di laut.


Gyorfi - pemenang pertama kontes desain Seastead, berhasil menuangkan ide itu dengan baik. Desainnya meliputi fasilitas rekreasi seperti kolam renang yang luas, amphitheater outdoor, helipad, dan dermaga. Konsep “The Swimming City” dengan nuansa warna soft earth dan taman di atas atapnya, seperti mimpi masa kanak-kanak seperti halnya kebutuhan masa kini untuk hidup ramah dengan lingkungan. Di tiap sudutnya, kota yang menyenangkan ini penuh dengan detil arsitektur yang bikin surprise. Tiap area dari wonderland terapung ini bisa dengan mudah diakses melalui jalan-jalan setapak yang cantik, demikian juga jendela-jendela bangunannya yang bentuk dan ukurannya bervariasi menambah karakter uniknya.

Untuk sekarang, kita hanya bisa membayangkannya saja, entah kapan konsep kota petualangan dan eksplorasi bebas stress ini akan diluncurkan.


Rabu, 16 Desember 2009

Stres pada Anak-Anak

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag
(Kepala PAUD "Unggulan Sumatera Barat" Citra Al Madina Padang)


Stres bukan hanya dialami orang dewasa dengan segala macam dan jenis ragam persoalan. Pada diri anak-anak, juga sering ditemui kondisi stres. Tanda-tandanya antara lain anak sering murung, marah-marah tanpa sebab, hilang nafsu makan, dan enggan bersosialisasi. Namun, apabila kita melihat anak kita yang masih kecil sering stres, ini bukan berarti ia memiliki "track" stres untuk selanjutnya. Artinya, anak yang "berbakat" stres, kelak akan jadi mudah stres.Ada dua sumber stres pada anak, yakni nature/alami dan nurture/pengasuhan. Faktor alami bisa karena genetik atau kelainan biologis. Misalnya terjadi gangguan neurotransmitter pada saraf. Gangguan ini membuat yang bersangkutan sejak lahir akan mudah merasa cemas atau stres berlebihan, terutama bila pemicunya muncul. Sementara yang termasuk faktor pengasuhan adalah akibat pola asuh yang salah, penyimpangan interaksi keluarga atau kehidupan keluarga yang penuh dengan konflik.

Bila pola asuh orangtua positif, seperti mendukung dan mendorong anak untuk selalu aktif, memenuhi kebutuhan anak tanpa memanjakan, mengajarkan tanggung jawab dan bentuk-bentuk pengasuhan yang positif lainnya, bisa saja sampai akhir hayat mental si anak berkembang sehat. Sebaliknya, meskipun tak punya "bakat" untuk gampang stres, bila pola asuhnya tidak tepat semisal memberikan pro-teksi berlebihan, selalu meng-kritik anak, atau terlalu memanjakan, lama-lama si anak jadi tak aman dan tak mampu memahami dirinya sendiri. Hal ini menjadi "bibit" rasa rendah diri, minder, dan rasa tak berguna yang dapat berkembang menjadi gangguan mental. Sebuah penelitian yang pernah dilakukan di Amerika Serikat, hasilnya menunjukkan 70% gangguan mental pada anak lebih disebabkan pola pengasuhan yang salah ditambah dengan peranan lingkungan yang tidak mendukung anak untuk berkembang sehat secara mental.

Ketika mendapati tanda-tanda stres pada anak, orangtua harus mencari tahu penyebabnya agar dapat memberikan solusi yang tepat bagi perbaikan mentalnya. Untuk diketahui, kemampuan kognitif atau pola berpikir anak usia sekolah sudah berkembang pesat tetapi belum banyak diimbangi dengan kemampuan mentalnya. Pada saat menemui masalah, ia cenderung melakukan penyelesaian dengan jalan pintas. Dalam hal ini anak sudah bisa berpikir secara terencana tetapi tujuannya masih jangka pendek. Beda halnya dengan orang dewasa yang sudah bisa memperhitungkan segala sesuatunya untuk jangka panjang.

Minggu, 06 Desember 2009

IFA : "Ayah Suka Menonton Berita dan Orang Bagigiah"

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Malam itu, kami sekeluarga sedang berkumpul dan melakukan kegiatan santai di rumah. Suami saya sedang membaca sambil merokok (sebuah kebiasaan yang hingga hari ini saya GAGAL melarangnya). Bungsuku - ADEK - sedang berimprovisasi menjadi seorang penyanyi India (mungkin siang tadi ia menonton Film India bareng (pengasuh) Tante Fera-nya di TPI). Saya dan suami serta tante-nya tidak ambil pusing dengan kegiatan improvisasi ADEK, saya biarkan ia "lepas" tanpa mengatur dan melarang. Nampaknya, ia sangat menikmati dan saya melihat dari hari ke hari, daya imajinatif ADEK semakin tumbuh berkembang. Alhamdulillah Ya Allah. Sementar Sulungku - IFA - berada dalam "bimbingan" saya. Biasanya, pada setiap malam saya terus mendampingi IFA untuk belajar (sebuah tugas personal yang diberikan oleh suami : komitmen kami dahulu ketika baru punya anak, "Pendidikan TK dan SD anak-anak kami diserahkannya kepada saya segala yang bersangkutan dengan kebijakan, karena saya dianggapnya lebih expert pada bagian itu, semntara untuk pendidikan SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi, suami saya menganggap itu adalah ranahnya"). Karena itulah, setiap saya mendampingi IFA belajar, suami saya tidak ikut nimbrung atau mengomentari, kecuali apabila saya dan IFA menyakan sesuatu kepadanya.

Remedial membaca dan berhitung serta Iqra' selalu saya rutinkan pada IFA. Alhamdulillah, dalam usianya yang 6 tahun dan baru kelas I, IFA sudah bisa membaca tanpa mengeja - walau sedikit lambat. Sementara untuk kemampuan berhitung, capaian IFA bagi saya sudah cukup lumayan untuk anak seukuran dia. Demikian juga dengan Iqra', beliau sudah sampai pada Iqra' IV (biasanya setiap sore ia belajar mengaji di Musholla samping rumah kami). Insya Allah, tahun besok, IFA saya rencanakan masuk Les Bahasa Inggris untuk Anak-Anak (ayahnya berencana les Bahasa Inggris ini akan kontiniu diikuti IFA hingga seterusnya). Suami saya tidak mengharapkan IFA harus Juara I atau II di kelas, tapi baginya IFA ke depan menjadi anak yang memiliki kepintaran dalam bidangnya dan memiliki banyak Skill-keahlian (untuk yang ini : saya menurut saja). Namun kegiatan-kegiatan edukatif untuk IFA ini saya susun tanpa mengurangi waktunya untuk bermain dengan teman-temannya. Porsi ini saya jaga. Bahkan, ada masanya saya justru memaksa IFA untuk bermain dengan teman-temannya.

Kembali ke cerita di atas, malam itu, sebagaimana biasanya, IFA mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru SD-nya. Sambil melipat kain, saya dampingi IFA. Tugasnya tersebut tertuang dalam satu lembar kertas HVS yang telah diketik dengan komputer (huruf kapital) dengan Judul : "APAKAH KESUKAAN ANGGOTA KELUARGA?". Dalam List-Pertanyaan tersebut, mayoritas mempertanyakan, Apakah kesukaan Kamu (maksudnya : IFA). List ini kemudian memberikan ruang jawaban (garis titik-titik). Nampaknya IFA mampu untuk menjawab dan menulis jawaban itu dengan baik. Ada 5 pertanyaan di sana. Tiga pertanyaan untuk IFA, satu untuk kesukaan Ibu dan satu lagi kesukaan Ayah. Untuk pertanyaan 1-4, nampaknya biasa-biasa saja, tanpa ada yang bisa membuat saya dan suami ketawa. Namun, untuk pertanyaan yang ke-5, justru jawaban IFA membuat suami saya tertawa terbahak-bahak. Pertanyaannya : "Buatlah 2 Tontonan TV yang disukai Ayah ?". Setelah dibaca IFA, kemudian saya biarkan ia untuk berfikir sejenak, selanjutnya IFA mulai menjawab dan menulis sambil bersuara : "Ayah Ifa Suka Menonton Berita dan Orang Bagigiah". Untuk jawabannya yang pertama, saya dan suami senyum-senyum simpul, tapi untuk yang kedua (Orang Bagigiah), membuat suami saya tertawa dan terpana. "Masak Ayah suka menonton Orang Bagigiah," kata suami saya pada IFA. IFA kemudian menjawab, "Iya, IFA sering lihat Ayah menonton acara Orang Bagigiah di TV". Akhirnya, suami saya dengan lambat minta penjelasan, apa yang dimaksud dengan acara Orang Bagigiah (baca : Orang yang saling berdebat, bersitegang urat) tersebut di TV yang sering ditonton suami saya versi IFA itu. Rupanya .................. menonton acara dimana para tokoh-komentator berdebat seperti Today's Dialog dan Indo-Barometer (dua tontonan yang disukai suami saya). Diam-diam IFA memperhatikan kesukaan suami saya ini. Suami saya pun manggut-manggut.

Jumat, 04 Desember 2009

Tak Semua Hal Harus Dilayani ..... yang Penting Teruslah Berbuat !

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Karena letih menjadi rakyat biasa, maka suatu hari, seekor babi hutan membuat sebuah keputusan "fenomenal" ..... ia memproklamirkan diri menjadi raja hutan. Tanpa pikir panjang, ia kemudian bangkit dari kubangan tempat ia beristirahat, menuju singa, raja binatang buas dan menantangnya untuk bertempur. Tentu saja singa hanya memandang sekilas kepada makhluk bau ini, mengabaikannya tanpa ekspresi emosi, walaupun sang babi menggugat "otoritas" dan "kedaulatan politik"nya. Singa kemudian berlalu tanpa perlu membalas tantangannya.

Cerita ini, walaupun sederhana dan pendek, justru memberikan pelajaran bagi kita bahwa orang yang bijaksana itu tidak menghabiskan waktu mereka hanya untuk melayani gangguan orang-orang bermental rendah.

Engkau, blogger.
apa hebatnya?
memang engkau menulis bermacam - macam hal seolah engkau tahu segala
tapi apa hebatnya berwacana?
berwacana saja?

sejak aku menulis kali pertama
aku sadar sebenarnya
memang tak hebat menjadi blogger
namun lihatlah,
yang suka memancing, mereka memancing
yang suka menongkrong, mereka menongkrong
yang suka membaca, mereka membaca
yang suka menonton, mereka menonton

maka apa salahnya bagi mereka yang suka menulis untuk menulis?
apa hebatnya menjadi blogger?
tak ada! kutegaskan.


tapi aku bersumpah
pasti
ada manfaatnya menjadi blogger

semua ada masanya
sekarang berwacana
esok berkarya

atau
sekarang berwacana
sekarang pula berkarya



Ramalan dan Kalidasa

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Saya pernah membaca tentang seorang penyair India (?) tepatnya penyair Sanskerta - Kalidasa - namanya. Hidup sekitar abad ke-3 masehi. Judul bukunya saya lupa, tapi ada salah satu bahagian cerita yang cukup menarik perhatian dan masih saya ingat sampai hari ini. Ceritanya kira-kira begini :

Sebagai anak kecil, Kalidasa tinggal bersama dengan ibunya disebuah pondok di samping istana raja. Di balik tembok istana, banyak terdapat pohon mangga yang berbuah lebat. Pada waktu musimnya, buah-buah mangga tersebut mengeluarkan semerbak yang ranum-menggairahkan. Si Kalidasa ini, ketika ia tidak melihat ada orang, maka ia akan memanjat ke atas tembok dan dengan santai, menikmati mangga-mangga itu. Suatu hari, ketika sedang mencuri mangga, Kalidasa tidak menyadari kehadiran raja yang melihatnya dari jendela istana. Pagi itu, ketika sedang mengupas mangga, sang raja tidak sengaja melukai tangannya sendiri. Karena luka tersebut mengeluarkan darah yang cukup banyak, raja merasa khawatir. Raja kemudian segera mengumpulkan semua penasehatnya yang bijaksana beserta para tukang ramal, untuk mengungkapkan kepadanya, makna apa dibalik luka tersebut.

Orang-orang bijak bestari istana itu berfikir sejenak, kemudian mereka bertanya apakah raja mengalami sesuatu yang tidak biasa pada hari ini ?. Sang raja menjawab bahwa ia melihat anak kecil mencuri buah mangga di taman istana. "Celaka !" Apa yang paduka lihat sungguh tidak baik. Anak itu akan membawa malapetaka bagi paduka, " kata-kata orang bijaksana ini. "Lebih baik paduka segera menyingkirkan anak tersebut". Raja kemudian segera memerintahkan agar Kalidasa di bawa ke hadapannya. Dengan gemetar, anak kecil ini kemudin bersujud di depan raja. Kalidasa kemudian diberitahu bahwa raja telah melihatnya mencuri mangga, dan ini akan memberikan kesialan bagi raja. Karena melihat Kalidasa mencuri mangga, tangan raja terluka ..... dan ia kemudian ditanya apakah memiliki pesan terakhir sebelum dieksekusi. Kalidasa pun berkata dengan suara gemetar, "Hamba menyesal telah membawa nasib buruk bagi paduka raja, "kata Kalidasa. "Tapi tidaklah adil jika orang yang melihatku mencuri mangga itu tidak dihukum, karena ia pun membawa nasib sial dan buruk bagi ku". Jawaban ini sontak membuat raja terkejut, karena segera ia menyadari, betapa bodoh tindakannya mengikuti anjuran tukang-tukang ramal yang menyebut dirinya bijaksana. ................ "Disekeliling kita, sungguh sudah banyak Tukang-Tukang Ramal (baik Ketik REG ataupun atau Film-Film Imajinatif) yang terbungkus dalam bentuk "kepintaran" tapi tanpa kita sadari, mereka justru sedang memperbodoh kita.

Minggu, 29 November 2009

Cantik = Bodoh ?

Ditulis Ulang oleh : Imla W. Ilham

Anne Frank dalam The Diary of A Young Girl menulis tentang seorang temannya yang berinisial G.Z.: …….is the prettiest girl in our class. She has a nice face but is a kind of dumb. Membaca tulisannya ini saya jadi teringat lelucon yang menyangkut pautkan Einstein. Alkisah Einstein didatangi seorang wanita yang berminat menjadi istrinya dengan alasan agar ia bias mendapatkan keturunan yang secantik dirinya tapi memiliki kecerdasan sang jenius. Dijawab oleh Einstein: “Yang saya khawatirkan keturunan kita nanti memiliki wajah seperti saya dan mewarisi kebodohanmu”.

Apakah yang cantik itu selalu identik dengan kebodohan? Apakah sudah terbukti bahwa orang yang cerdas cenderung tidak memiliki kecantikan yang sempurna? Jangan berargumentasi dengan film – film James Bond yang bertaburan bintang – bintang cantik yang juga cerdas. Tapi ketika Anne Frank menuliskan diarynya di atas, ia masih berusia belasan. Mestinya ia menuliskannya secara jujur. Lalu, apakah benar jika kebodohan memiliki korelasi dengan kecantikan fisikal? Orang yang cantik, pasti tidak terlalu pintar?

Banyak yang berpendapat seperti itu. Tapi jika kita kaitkan dengan usaha untuk menjadi cerdas, nampaknya memang ada hubungan antara wajah yang cantik dengan kebodohan. Orang yang cantik atau tampan dan menyadari jika dirinya cantik atau tampan, terlebih jika mendapatkan sanjungan terus menerus dari orang – orang yang ada di sekelilingnya, merasa cukup dengan ketampanan atau kecantikannya lalu berhenti berusaha untuk mengembangkan dirinya. Maka, meskipun ia cerdas pada awalnya, karena kecerdasannya tidak mendapatkan perhatian yang serius, kecerdasan ini menjadi tumpul.

Source by : (c) guruindo.com

Jumat, 27 November 2009

Servern Suzuki : "Pidato Anak 12 Tahun yang Membungkam PBB"

Ditulis Ulang Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag (Tulisan ini adalah tulisan pencerahan - "warisan" buat anak-anakku terkasih)

Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki, seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children's Organization ( ECO ). ECO sendiri adalah sebuah kelompok kecil anak yg mendedikasikan diri untuk belajar dan mengajarkan pada anak" lain mengenai masalah lingkungan. Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB, dimana pada saat itu Severn yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato kuat yg memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa pemimpin dunia terkemuka. Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang sidang penuh dengan orang terkemuka yg berdiri dan memberikan tepuk tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun.

Inilah Isi pidato tersebut: (Sumber: The Collage Foundation)

Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental Children Organization Kami adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini di sini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja. Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yg akan datang. Saya berada disini mewakili anak-anak yg kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar. Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitatnya. Kami tidak boleh tidak di dengar. Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara. Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya - hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya. Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang? Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya. Tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya! Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita. Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya. Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah. Dan anda tidak dapat engembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya, yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika anda tidak tahu bagaima cara memperbaikinya. TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Disini anda adalah delegasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenarnya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi dan anda semua adalah anak dari seseorang. Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut. Saya hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama. Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan. Kami membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang. Walaupun begitu tetap saja negara-negara di Utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan. Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi. Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan - kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi. Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: " Aku berharap aku kaya, dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang " Jika seorang anak yang berada dijalanan dan tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah? Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar, bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia, seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India .

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini. Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain, untuk mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan; untuk tidak menyakiti makhluk hidup lain, untuk. Berbagi dan tidak tamak. Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut? Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konperensi ini, mengapa anda melakukan hal ini - kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah yang memutuskan, dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan mengatakan, " Semuanya akan baik-baik saja , 'kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan dan ini bukanlah akhir dari segalanya.” Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua? Ayah saya selalu berkata, “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu, bukan oleh kata-katamu”. Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut. Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.

Servern Cullis-Suzuki telah membungkam satu ruang sidang Konperensi PBB, membungkam seluruh orang-orang penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya. Setelah pidatonya selesai serempak seluruh orang yang hadir diruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun itu.


Senin, 16 November 2009

ADEK : "Ibunda, Adek Takut Sama Allah"

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Dalam tulisan terdahulu, saya dan suami perlu menghadirkan Allah Robbi Izzati dengan "ramah" pada IFA - Sulungku. Saya dan suami merasa tersentak dan harus belajar banyak dari IFA bahwa apa yang selama ini kami ajarkan tentang Allah, nyatanya ditangkap "berbeda" oleh IFA. Kalimat : "Ifa, jangan berbuat seperti itu nak, Allah akan marah bila berbuat tidak baik !" ..... ditangkap oleh IFA : "Allah lagi ... Allah lagi, pemarah betul Allah itu !". Akhirnya, mulai saat itu saya dan suami berusaha menghadirkan Allah yang "ramah" di matanya. Setelah disentakkan oleh IFA, kini kami disentakkan pula oleh ADEK - bungsu kami yang berusia 4 tahun. Bungsu kami ini orangnya agak pendiam, bertolak belakang dengan "tetanya" IFA yang suka bicara (maota). Badannya pun agak bontot. Belakangan ini, ADEK sudah mulai sering menanyakan pertanyaan kritis kepada saya.

Senja itu, hujan sangat lebat mengguyur kota Padang. Kebetulan belakangan ini, kota Padang tak henti-hentinya hujan lebat setiap sore hingga malam. Biasanya, ADEK dan IFA paling suka melihat hujan itu turun. Tapi bukan untuk mandi-mandi hujan. Kebetulan saya agak kewalahan melarang mereka. Akhirnya saya antisipasi dengan rumus : "IFA-ADEK, hari sudah senja dan mulai kelam .... masuk ke dalam rumah nak !. Jangan diluar, Ibunda takut diluar karena senja nan kelam ini, hantu banyak berkeliaran".

Lantas ADEK bertanya, "Hantu itu apa buk ?".
Bingung saya sebentar, kemudian sekenanya saya jawab, "Hantu itu tak nampak, tapi ibunda takut".
"Ayah juga takut, bu", kata Adek lagi.
"Iyaa, apalagi ayah, ia sangat takut pada hantu".
Karena penasaran, ADEK bertanya lagi, "Tapi hantu itu tidak nampak bu ...... kok takut ?".
Saya bingung lagi, "Karena tidak nampak itulah maka ibu dan ayah takut ...... udah, ayo masuk", kata saya sambil menggendong ADEK dan IFA yang tidak protes lagi.
Dalam taraf ini, saya berkesimpulan ........... ada "senjata" ampuh bagi saya untuk melarang ADEK bermain-main di luar bila hari sudah sore atau senja.

Beberapa hari kemudian .............. !
Malam itu, di ruangan tengah, saya, suami, pengasuh anak, IFA dan ADEK sedang menonton TV. Kebetulan saya menonton sebuah sinetron Islami yang ditayangkan oleh TPI. Kami terlihat serius. Tanpa saya nyana ...... Adek bertanya pada saya, "Bu, kok sering orang di TV itu bilang-bilang Allah, tapi Adek tak lihat mana itu Allah?", katanya pada saya. Mungkin ia terinspirasi pada sinetron Islami yang sering mengeluarkan kata-kata Allah.
Saya jawab pula dengan sekenanya, "Allah itu tidak nampak, nak. Allah itu Tuhan kita"
Jawab ADEK, "Ihhhh, berarti Allah itu sama dengan hantu ya bu, hantu tidak terlihat, Allah juga ... berarti Adek harus takut sama Allah".
Saya dan Suami : "terkejut, melongo dan tersenyum.
Ya Allah Robbi Izzati ..... ADEK telah berikan pada kami pelajaran. Sebelum ini Allah harus kami "ramahkan" di depan IFA, maka di depan ADEK, Allah harus kami "familiarkan". Saya sayang dengan keluargaku.

Insert : Foto ADEK waktu berumur 8 bulan



Rabu, 11 November 2009

Ya Allah ....... Saya Bersumpah

Aku Letih
Dengan Semua Parodi Dunia
Hukum bukan lagi buat mereka yang berhak
Kuasa dan Uang telah bertahta

Ya Allah ........... !!!
Dengarlah Persumpahanku

Saya bersumpah tidak pernah
terima sejumlah dana reksa
penampar wajah keluarga tercinta
air mata di berita adalah penegasnya

Saya bersumpah tidak pernah
diberi sejumlah surga dunia
pencoreng iman dan ketaatan ibadah
ayat suci di udara adalah penegasnya

Saya bersumpah tidak pernah
dijejal sejumlah dana tak terduga
penyumbat mulut juga hati nurani
kurang bukti adalah penegasnya

Saya bersumpah tidak pernah
disodorkan sejumlah tuhan dunia
yang bentuk tunainya asing di mata
pengacara senyum adalah penegasnya

(inspirasi : suarakepala.com)

Ketika Malam Dingin

Dalam dekapan dingin
Empat Tangan Mungil
Dari .......
Dua Putri Terkasihku
Menjadi Penghangat
Pada Malam Itu

Dalam Dekapan Dingin
Tiga Perempuan
Aku ....
Dua Malaikat Kecilku ....
Berada dalam Dekapan "Lelaki-ku"

Tuhan .... Robbi Izzati
Akankah ini
Hanya dalam Dekapan Dunia ?

Aku Ingin Tuhan .... Robbi Izzati
Di "Alam Sana" Nanti
Ini Aku Alami dengan Abadi

Bila Engkau Beri Aku Sorga
Sementara Dekapan ini "Entah Dimana"
Biarlah Sorga Tak Kualami
Tapi ....
Tuhan ...... Robbi Izzati
Berikan Kepadaku Dekapan ini

(Malam Dingin, Awal September 2009 ..... Ketika aku bahagia dalam dekapan orang-orang yang aku cintai)

Sabtu, 24 Oktober 2009

Ketika 7 Keajaiban Dunia Ditanyakan ......

Ditulis ulang oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Sekelompok murid ditugaskan untuk membuat daftar tentang segala sesuatu yang mereka anggap sebagi tujuh keajaiban dunia. Meskipun terjadi beberapa ketidaksepakatan, namun kebanyakan murid membuat daftar sebagi berikut :

1. Piramid di Mesir.
2. Taj mahal.
3. Grand Canyon.
4. Terusan Panama.
5. Empire State Building.
6. St. Peter's Basilica.
7. Tembok Cina.

Ketika mengumpulkan kertas para murid, Pak Guru memperhatikan ada seorang murid perempuan yang belum menyerahkan daftarnya, lalu ia bertanya apakah ia mengalami kesulitan dalam menyusun daftarnya. Murid peremuan itu menjawab," Ya, ada kesulitan sedikit. Aku tidak bisa memutuskan mana yang harus kudaftar. Ada begitu banyak keajaiban." Pak Guru berkata," Jika demikian, bacakan kepadaku apa-apa yang telah kau catat, mungkin nanti aku bisa membantumu." Murid itu ragu sejenak,tapi kemudian membacakan daftarnya, " Menurutku, tujuh keajaiban dunia adalah :

1. menyentuh.
2. merasakan.
3. melihat.
4. mendengar.

Ia ragu sejenak lalu menambahkan :

5. meraba.
6. tertawa.
7. dan mencintai.

Ruang kelas menjadi begitu sunyi sehingga suara jarum jatuh pun dapat terdengar. Kegiatan yang sering kita abaikan, kita anggap sepele dan biasa sesungguhnya merupakan kegiatan yang menakjubkan. Ini adalah peringatan bahwa, hal-hal yang paling berharga dalam kehidupan adalah hal-hal yang tidak dapat kita beli.

Inspirasi : R. Ayahbi (mohon maaf, dikutip bebas)

Sabtu, 17 Oktober 2009

Gempa 30 September : "Syukurku Padamu Ya Allah"

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Alhamdulillah, Allah SWT., masih mengamanahkan kepada kami nikmat kesehatan dan amanah anak-anak serta yang lain. Waktu gempa 30 September 2009 yang lalu, saya dan suami berada jauh dari rumah dan anak-anak. Anak-anak berada bersama dengan pengasuh yang sudah cukup lama bersama kami (biasanya IFA dan ADEK memanggilnya dengan "Tante Fera", anak tetangga saya di kampung). Saya dan suami terjebak macet dengan kondisi traumatis yang saya alami. Secara langsung, saya banyak melihat keruntuhan gedung-gedung dan kepanikan masyarakat. Apalagi, waktu itu saya dan suami berada di daerah tepi laut (Sekolah saya berada dekat Pantai Padang, dan seperti biasa setiap sore - kalau tidak sibuk - suami saya pasti menjemput saya). Saya bisa melihat kepanikan masyarakat akan datangnya tsunamy. Akhirnya, lewat perjuangan berat, saya dan suami sampai di rumah hampir jam 24.00 tengah malam (cerita tentang ini lihat artikel dalam Blog suami saya : http://ilhamfadli.blogspot.com/2009/10/padang-ancaman-gempa-88-skala-richter.html dan http://ilhamfadli.blogspot.com/2009/10/g-30-s-baca-gempa-tiga-puluh-september_12.html).

Ketika tengah malam sampai di komplek perumahan kami tersebut, saya dan suami mendapati komplek perumahan dalam susana mencekam ..... listrik padam dan saya lihat banyak rumah yang rusak berat, bahkan ada yang ambruk total. Dalam fikiran saya pada waktu itu, terbayang dua putri mungil yang kami tinggalkan, pasti menangis dan resah luar biasa. Namun Alhamduilillah, sesampainya di depan rumah, rupanya putri-putri kami lagi tidur di teras rumah bersama dengan pengasuh dan beberapa orang tetangga. Karena kasihan, saya tidak membangunkan mereka. Sementara itu, suami bersama beberapa orang pengurus RT/RW mulai keliling komplek untuk melihat-lihat kondisi komplek yang setengah hancur. Sementara itu rumah kami, tidak apa-apa, hanya ada beberapa retak kecil di teras. Syukurku padamu ya Allah.

Jumat, 16 Oktober 2009

Etika dengan Standar yang Bervariasi

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Suami saya punya teman, namanya Khilal Syauqi. Masih muda, belum 30 tahun. Lebih kurang 5 tahun ia menuntut ilmu di Mesir, Universitas Al Azhar. "Lc" gelar di akhir namanya dan "Haji" di awal namanya. Di daerah-daerah Timur Tengah, kata Khilal yang Haji ini, kita boleh menjentil-jentilkan hidung anggota kabilah di Padang Pasir atau mengelus-ngelus dagunya seakan-akan dagunya itu adalah dagu kita. Mereka tidak akan marah. Bahkan bila sudah akrab, maka setiap ketemu, biasa saja kepala kita yang ditampar atau gantian kepala kita yang "dijitak". Tapi jangan coba-coba menampar atau menyentuh pantat mereka. Mereka bisa murka besar. Entah karena apa, mereka menaruh hormat kepada bagian tubuh ini. Di Indonesia, kita boleh mengecup tangan seberapa banyak yang kita suka, tapi jangan coba-coba menjamah kepala.

Konon, kita diperbolehkan kentut di sembarang tempat di Amerika, khusus di belahan sebelah utara ..... tapi jangan lakukan di Indonesia. Kurang ajar, bar-bar, kurang pendidikan dan seterusnya menjadi label yang akan dilekatkan kepada kita. Setingkat dibawah kentut, sendawa menjadi sesuatu yang biasa di Indonesia, setidaknya yang saya alami. Ada rasa bahagia dari orang-orang terdekat kita ketika kita makan makanan yang mereka buat, maka setelah kita kenyang, sendawa kita keluar. Mereka akan tersenyum, "Alhamdulillah, tidak sia-sia saya memasak, sudah keluar sendawa anda". Sendawa menjadi signal dan parameter enak-tidak enaknya sebuah makanan. Konon, jangan lakukan hal ini di negara-negara "Barat", sendawa menjadi standar tinggi rendahnya etika seseorang di meja makan................. ketika suaminya saya "sendawa" pada waktu selesai makan, ada rasa senang luar biasa pada diri saya. Ketika suami saya "kentut" (he...he 1000 X, maaf ya bang), apalagi di depan anak-anak kami, saya akan cemberut, dan makin cemberut bila ia memberikan justifikasi, "di barat kentut tidak dilarang", katanya sambil ketawa.

Kamis, 15 Oktober 2009

Air Bangis ........ Nagari Nan Den Cinto

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

/Aia Bangih dilingkuang taluak/taluak dilingkuang pulau sambilan/manangih adiak sadang taduduak/aia mato jatuh ka pinggan/

Satu hal ................ saya sangat mencintai Air Bangis. Daerah pantai nan indah ini merupakan daerah asal saya dan suami. Bahkan dua putri cantik kami juga lahir di sini, walaupun hanya numpang lahir. Sebagai daerah pantai, Air Bangis merupakan daerah yang indah. Tepat menghadap laut, berbentuk teluk dan didepan teluk tersebut terdapat 9 buah pulau. Di antara pulau-pulau tersebut ........... saya jamin, adalah lokasi terindah di pantai barat Sumatera Barat. Karena keteguhan masyarakat terhadap nilai-nilai agama, eksplorasi daerah ini menjadi daerah wisata oleh pemerintah "belum direstui" masyarakat. Masyarakat Air Bangis masih melihat bahwa eksplorasi wisata tersebut berkorelasi dengan kemaksiatan. Jadi praktis, keindahan pulau dan pantai di teluk Air Bangis belum banyak diketahui orang. Dengan jumlah penduduk lebih kurang 40.000 jiwa dan merupakan pusat pemerintahan kecamatan Sungai Beremas, nagari Air Bangis dikenal sebagai daerah kaya ikan. Di Sumatera Barat, Air Bangis merupakan daerah produsen ikan terbesar (baik ikan basah maupun kering). Hampir semua masyarakatnya beragama Islam, dan nilai budaya-kultural Minangkabau sangat kental. Mau lihat foto-foto "mutiara terpendam" Air Bangis ?



Senin, 12 Oktober 2009

IFA : "Ayah, Memangnya Allah itu Pemarah ?"

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Sulungku IFA, sedang nakal-nakalnya. Nakal bukan berarti tidak etis. Kenakalan lebih kepada pemberontakan karena tidak sesuai dengan alam pemikirannya. Ketika ia masuk siang (IFA Kelas 1 SD di Komplek Perumahan kami dan jam masuknya selalu bervariasi : 1 minggu masuk pagi dan 1 minggu masuk siang), sebelum saya dan suami berangkat kerja, saya biasanya menyuruh IFA untuk mandi, sebagaimana yang dilakukannya kala ia masuk pagi (biasanya pukul 06.30 pagi). Saya tahu bahwa bila ia mandi pagi, berarti siang nanti ia juga akan mandi pula. Ketika pulang sekolah ..... ya mandi lagi. Namun pertimbangan saya menyuruhnya untuk mandi pagi ketika jadwal sekolahnya siang adalah agar IFA bisa segar pada pagi itu. Saya terkadang ngotot menyuruhnya. Tapi hampir selalu gagal. Alasannya ...... IFA masuk siang dan biasanya mandi itu dua kali, tidak pernah tiga kali ............. dasaaaaaaaaaaaaaaaaar !!!!!!!!!!!. Begitu juga ketika suami saya menyuruh IFA membeli sesuatu di kedai. Bila ia tidak ada kegiatan (biasanya dengan teman-temannya), IFA pasti tidak keberatan menuruti perintah suami saya ke kedai. Tapi bila IFA sedang bermain dengan teman-temannya, hampir dipastikan, IFA keberatan di suruh ayahnya. Ketika suami saya menanyakan pada IFA kenapa ia tak mau disuruh, IFA menjawab, "IFA lagi bermain, ayah kan tidak bermain ...... mengapa ayah tidak pergi sendiri ?" ........... polos, lugu dan terkesan argumentatif. Di sana letak "nakal"nya sulung saya ini.

Di rumah kami, dasar-dasar teologis-normatif sangat ditekankan oleh suami saya. Tapi tidak kaku. Sore hari IFA disuruh belajar Iqra' di TPA Musholla. Malam hari, menjelang tidur, biasanya saya (sebagaimana yang disuruh suami), selalu "mendendangkan" nyanyian Asmaul Husna pad IFA dan ADEK, sampai mereka tidur. Alhamdulillah, IFA sudah hapal Asmaul Husna, sementara ADEK hafal sekitar 20-30 dari 99 Asmaul Husna tersebut. Dasar-dasar teologis ini juga terbawa pada perintah-suruhan serta pencegahan terhadap segala sesuatu yang dilakukan oleh IFA. Apabila IFA bertengkar dengan Adiknya - ADEK, maka saya atau suami akan bilang, "Jangan Nak, Adek harus disayangi, Allah akan marah bila IFA bertengkar dengan ADEK". Bila IFA tidak mau menghabiskan makanannya, sering saya marahi dengan menyelipkan kata-kata, "Allah tidak menyukai orang yang tidak mau menghabiskan makanannya, nanti bisa masuk neraka". Awal-awalnya IFA "takut" dengan ancaman abstrak-teologis ini sehingga saya dan suami ketagihan memakai argumentasi tersebut. Ketika IFA tidak mau gosok gigi, tidak mau membuat PR, menangis, tidak mau meminjamkan sepedanya pada ADEK hingga tidak mau berdo'a menjelang tidur ............... konsep Allah marah tersebut menjadi senjata ampuh.

Siang itu, suami saya bersama dengan teman-temannya sedang membicarakan logistik-sembako bagi korban gempa di komplek kami. Saya ikut nimbrung. Sedang serius-seriusnya suami saya dengan teman-temannya membahas topik logistik sembako pasca gempa tersebut, IFA datang bersama Adiknya, ADEK. Rupanya ia mau minta izin melihat mobil Pelayanan Kesehatan Gratis yang waktu itu sedang berkunjung di komplek kami. Maklum anak-anak, IFA terus meminta izin dengan kesan "menganggu" diskusi ayahnya. Saya katakan, "nanti saja bersama Ibu, sekarang lagi banyak orang, bila sepi baru kita pergi ke sana". "IFA hanya mau melihat-lihat, bukan pergi berobat, boleh ya yah," katanya pada suami saya. Awalnya suami tak menghiraukan permintaan IFA. Ia terus sibuk "diskusi". Tapi karena permintaan IFA dirasakan suami saya telah sampai pada stadium "menganggu" kekhusyukan diskusi-nya, maka suami saya mulai mengeluarkan rumus ampuh kami berdua, "Nak, Ayah dengan om-om ini, sedang diskusi membicarakan korban gempa di komplek kita. IFA jangan ganggu dong. Allah marah pada orang yang selalu menganggu pembicaraan orang lain", kata suami saya pada IFA. IFA terdiam, kemudian dipegangnya tangan adiknya dan berlalu sambil menggerutu ...... "Allah lagi, Allah lagi ......... malas IFA-nya, Allah itu pemarah, sedikit-sedikit Allah, sedikit-sedikit Allah, pemarah betul Allah itu"................... suami saya melongo-termenung, sementara teman-teman diskusinya ketawa terbahak-bahak. Belakangan mereka mengetawakan suami saya yang dikalahkan oleh kepolonsan IFA dan kekaguman mereka terhadap IFA. Sekarang kami lagi berikhtiar untuk "meramahkan" Allah di mata IFA.

Selasa, 15 September 2009

Ramadhan yang "Mengasyikkan"

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Alhamdulillah, tak terasa beberapa hari lagi, Ramadhan 1430 H./2009 M. meninggalkan kita. Banyak "catatan-catatan manis" bagi keluarga kami selama Ramadhan kali ini. Sulungku Ifa, hingga Ramadhan hari ke-27, ia bisa berpuasa 26 hari. Itu artinya, hanya bolong satu hari. Dalam usia 6 tahun, kelas 1 Sekolah Dasar, sulungku yang sekarang kelihatan kurus-ramping (mungkin karena puasa), memiliki potensi bisa berpuasa 100 % selama Ramadhan kali ini, sungguh menurut saya adalah prestasi luar biasa. Saya melihat bahwa Ifa "benar-benar" puasa. Ia hampir tidak pernah tidur pada siang hari. Bersama dengan Adeknya dan teman-temannya yang mayoritas tidak berpuasa, Ifa selalu bermain sepeda, bahkan ditengah panas terik. Ia tak pernah nangis, minta "berbuka yang dipercepat". Saya dan suami baru kelas 3 SD (usia 9/10 tahun), mampu menuntaskan puasa satu bulan penuh, sementara sulung-ku justru di usianya yang 6 tahun. Saya dan suami sangat gembira ..................... SATU HAL : Ia telah mulai mengalahkan kami - ayah dan ibundanya - satu demi satu. SATU HAL LAGI : Ifa tak pernah minta "reward" karena prestasi-teologisnya ini. Sampai detik ini tak pernah keluar lontaran perkataan, "Ayah, belikan Ifa baju atau celana atawa jam tangan barbie karena Ifa bisa puasa", ............. Tak Pernah. Mungkin karena trenyuh, minggu lalu suami saya - Ayah Ifa - berjanji pada Ifa akan membelikan jam tangan mungil - "warna stroberry" - sebagaimana yang dahulu selalu diidam-idamkannya. "Ayah janji, nak", demikian kata suami saya belakangan ini setiap kami sekeluarga berbuka bersama.

Disamping kebahagiaan saya karena Ifa mampu berpuasa secara maksimal, ada kebahagiaan lain saya - Alhamdulillah, pemasangan keramik di rumah kami sudah rampung. Ifa juga telah memiliki kamar sendiri, demikian juga Adek dengan "tante Vera-nya" (pengasuh Ifa dan Adek). Saya dan suami memiliki kamar sendiri terpisah. Dan satu lagi kamar buat adik-adik saya dan suami yang laki-laki serta ruang perpusatakaan. Alhamdulillah, semuanya sudah ber-keramik.......... menurut saya sungguh indah. Keramik dengan warna putih agak kecoklatan dengan cat rumah "coklat kopi susu" ditingkahi dengan warna putih.

Di bulan Ramadhan ini pula, kami sekeluarga merasakan kenikmatan lain juga ........... selalu berbuka bersama. Suami saya yang siang hari cukup sibuk di kampus, biasanya pulang jelang berbuka. Sementara saya pulang jam 2 siang, lebih cepat dari hari-hari biasanya. Setelah berbuka dan Sholat Maghrib, suami saya biasanya pergi ceramah taraweh di berbagai masjid-musholla di Kota Padang ........ dan pulang jam 10.00 malam. Biasanya anak-anak sudah tidur. Sementara saya "tadarus-ringan" di rumah. Setelah saya hidangkan nasi (beliau biasanya dua kali makan malam, waktu berbuka dan pulang ceramah), ia makan dan setelah itu pergi ke kedai ........... biasa, "ma ota" dengan teman-temannya, dan ini berlangsung sampai jam 12.00 tengah malam. Saya tak melarangnya, paling-paling mengingatkan agar menjaga kesehatan. Namun terkadang saya juga bertanya, "mengapa ia tidak langsung istirahat ?". Dengan diplomatis ia akan menjawab, "saya ceramah santai dengan teman-teman di kedai karena mereka tak sempat dan mungkin tak mau pergi ke Masjid dan Musholla ........... substansi Masjid dan Musholla saya pindahkan ke kedai". Saya diam. Belakangan ini, saya juga pernah melihat ia menjadi "juru tulis" teman-temannya yang main domino. Ia tidak bisa main domino. Saya juga mulai protes....... mengapa harus domino, tidakkah itu sesuatu yang "tidak baik?". Ia kemudian menjawab, "siapa bilang domino itu tidak baik. Walaupun saya tak bisa main domino, bukan berarti saya harus menghakimi domino. Coba tunjukkan beda domino dengan judi. Domino ya domino, judi ya judi. Kalau main domino menggunakan taruhan, saya tak setuju, bahkan akan saya cegah. Tapi untuk sekedar main domino ........... apa bedanya dengan main sempoa dan catur..... mempertajam kemampuan matematik otak dan interaksi intra-personal", katanya. Saya kembali diam. Konon, dikomplek saya ada 3 orang yang dipanggil ustadz (biasa memberikan ceramah), dan 2 diantaranya "maniak domino", tapi tak termasuk suami saya .......... ia hanya sering menjadi "juru tulis".

Kamis, 20 Agustus 2009

Keluguan Politik Ilham "Kecil"

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag


Cerita ini merupakan "cerita lama" yang luput saya posting, tentang kelucuan dan keluguan suami saya waktu ia masih kecil ketika berhadapan dengan pejabat daerah. Ceritanya begini : ........... Kala itu, sekitar tahun 1982. Di kampung halaman kami, Air Bangis (saya dan suami satu kampung)., kedatangan Gubernur. Tahun 1980-an, Air Bangis merupakan daerah yang hampir terisolir di pantai barat Sumatera Barat. Daerah pantai yang berjarak hampir 315 km dari Kota Padang. Daerahnya indah, berbentuk teluk yang dikelilingi oleh sembilan buah pulau dan merupakan daerah transisi kultural (antara etnik Minangkabau dengan Mandahiling, karena Air Bangis berbatasan langsung dengan Kabupaten Mandahiling Natal lewat laut). Air Bangis juga dikenal sebagai daerah historis-kaya sejarah karena di daerah ini merupakan salah satu daerah "perang" Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Tambusai dan Tuanku Rao (bahkan Tuanku Rao ditenggelamkan oleh kolonial Belanda di pantai Air Bangis....... sehingga di Air Bangis ada nama gugusan karang yaitu karang Tuanku Rao). Tahun 1982 tersebut, kedatangan pejabat-pejabat dari daerah (baik Kabupaten maupun Propinsi) menjadi sesuatu yang dianggap "mukjizat". Tahun 1982 itu, Air Bangis didatangi oleh Bpk. Ir. Azwar Anas (ketika menjadi Gubernur Sumatera Barat). Kedatangannya disambut dengan riuh rendah a-la masyarakat "hampir terisolir" Air Bangis. Apalagi kedatangannya dengan menggunakan helikopter yang membuat masyarakat Air Bangis jadi histeria ............. maklum melihat pesawat terbang yang "lalu" saja diatas udara Air Bangis bisa membuat masyarakat Air Bangis kala itu jadi histeris, apalagi ada helikopter yang mendarat ............. dijamin "mak nyoooss".

Kata suami saya, kala itu ia berusia 8 tahun (kelas 2 SD). Kata suami saya lagi, kala itu suasana sedang "sedikit panas", maklum jelang Pemilu 1982. And .... Kata suami saya lagi, waktu itu ia disuruh oleh guru-gurunya memakai pakaian seragam "ala kadarnya" bersama dengan teman-temannya untuk menyambut kedatangan "wong gedong" tersebut. Ketika helikopter mendarat di lapangan hijau Air Bangis, Gubernur dan Rombongan kemudian diarak ke Gedung Pertemuan Nagari. Masyarakat Air Bangis, kala itu, yang berjubel menyambut kedatangan Gubernur tersebut, "terpecah dua", sebagian mengiringi Guberenur yang diarak ke Gedung Pertemuan Nagari, sebagian lagi "menonton helikopter". Singkat cerita, ketika Gubernur sampai ke Gedung Pertemuan Nagari, setelah melalui acara "tetek bengek", sampailah pada acara sambutan resmi dari Bpk. Ir. Azwar Anas yang kala itu sangat gagah. Dalam pidatonya, lebih banyak bernuansakan kampanye (maklum suasana pemilu 1982) - tepatnya mengkampanyekan Golkar -- dibandingkan dengan arahan yang bersifat mencerahkan. Nah .... ditengah-tengah pidatonya, Gubernur meminta seorang anak untuk maju ke depan. Anak yang maju ke depan tersebut adalah anak yang duduk-mencangkung di barisan depan, yang mungkin dianggap oleh Gubernur serius mendengar pidatonya. Padahal, anak tersebut hanyalah melongo mendengar pidato yang isinya "hampir tidak bisa dipahaminya". Dengan langkah pasti nan tegap, walaupun tubuhnya pendek, si anak yang memakai pakaian pramuka "ala kadarnya" serta menggunakan sepatu bot-putih anti air buatan Cina yang dibeli pada Tekong Cina bernama Kiat di Kampung Cina Air Bangis, melangkah menuju tempat sang Gubernur pidato. Si anak tersebut .............. ya, ia suami saya. Kemudian, terjadilah komentar singkat :

Gubernur : Siapa nama kamu ?
Si Anak : Muhammad Ilham, pak Gubernur
Gubernur : Apa cita-cita kamu
Si Anak : Jadi Gubernur, pak Gubernur
Gubernur : wah ............ bagus itu. Apa pekerjaan ayahmu ?
Si Anak : Ayah saya tukang jahit, ibu saya jualan ketupat (jawaban yang komplit)
Gubernur : Bisa baca Pancasila?
Si Anak : Bisa, pak Gubernur
Gubernur : Coba baca !
Si Anak : Pancasila ............ Satu (mulai membaca) dan seterusnya
(Setelah si anak ini selesai membaca Pancasila........... Gubernur kemudian menyuruh si anak untuk mengikuti kata-katanya dengan pekikan yang lantang)
Gubernur : Hidup Golkaaaaaaaaaaaaaar !!!!!!!!!
Si Anak : ?????????? (ia diam)
Gubernur : Ayo, kenapa diam ?
Si Anak : Saya dan ayah saya memilih PPP pak Gubernur, bukan Golkar
Gubernur : .......................... @Gubernur : .......................... @$&$@!# !!!!!!!!!!!!!
amp;$@!# !!!!!!!!!!!!!

(Besoknya, suami saya dimarahi oleh guru-guru SD-nya, tetapi mertua saya bangga .... buktinya ia langsung membelikannya sepatu bot putih anti air yang baru dari tekong Cina bernama Liem She Kiat @ Kiat di Kampung Cina Air Bangis ............. konon dibayar tidak kontan alias kredit). Selanjutnya ......... suami saya tetap tidak pusing dengan kemarahan guru-guru SD-nya. Ia tetap menganggap dialog singkatnya dengan Gubernur tersebut memberikan keberkahan baginya, sepatu bot putih anti air yang sejak ia masuk SD belum pernah diganti oleh ayahnya, justru diganti dengan yang baru. Dan konon, foto-nya waktu dialog dengan Gubernur tersebut, sampai hari ini tetap dipajang oleh kakaknya di Air Bangis, walaupun telah lusuh. Nama fotografernya masih diingat oleh suami saya, Ruslin Sutan Batuah @ Sulin. Ia teman akrab mertua saya. Konon, "insiden" dialog tersebut membuat Ruslin Sutan Batuah "ketawa senang", buktinya mertua saya tidak harus membayar untuk menebus foto "bersejarah" itu, padahal Ruslin yang bergelar Sutan Batuah tersebut butuh waktu 3 hari ke Padang ..... hanya untuk mencucikan foto ini, 3 buah ...... 1 untuk mertua saya, 1 lagi untuk SD tempat suami saya sekolah dan 1 lagi untuknya.

Insert : Foto "Ilham Kecil" saat dialog dengan Gubernur Sumbar (Tahun 1982) Ir. H. Azwar Anas

Minggu, 16 Agustus 2009

Terkadang Nasionalisme Anak-Anak Jauh Lebih Tinggi Dibandingkan Kita

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag (Kepala PAUD Citra Al Madina Padang)

Minggu, 16 Agustus 2009. Ketika pagi menjelang, sulungku Ifa baru siap mandi dan berpakaian. Ia sedang libur sekolah. Pagi itu, ia memulai kegiatan rutinnya bila sedang libur..... bersepeda (tepatnya belajar sepeda) di seputaran komplek bareng teman-temannya. Sedangkan saya mulai "mengolah pakaian kotor" di Mesin Cuci, sementara suami saya membersihkan pekarangan samping rumah (kebun tanaman obat). Kegiatan rutin liburan mulai bergeliat di rumah dan komplek perumahan kami. Beberapa saat kemudian, Ifa datang sambil sambil sedikit marah dan bertanya kepada saya : "Ibunda, kok rumah kita tidak dipasangin bendera merah putih?". Mati Aku ! .............. tak bisa saya jawab. Memang, suami saya lupa memasang bendera merah putih jelang 17 Agustusan, biasanya beliau tidak pernah lupa memasang bendera tersebut, apalagi ia ketua di komplek perumahan kami. Kebetulan, tadi malam saya bertanya pada suami tentang keberadaan bendera merah putih kami. Suami saya mengatakan bahwa bendera tersebut entah dimana diletakkannya. Memang ada usaha malam itu untuk mencari, tapi tak ketemu. Akhirnya, ia mengambil kesimpulan : "ya udaah, lihat besoklah, kalau ada waktu ..... ya kalau ada waktu, saya akan ke Pasar Raya, beli bendera merah putih baru lagi, memangnya nasionalisme ditentukan oleh bendera merah putih, buktinya, anggota DPR-RI waktu sidang Paripurna tanggal 15 Agustus 2009 yang lalu, lupa menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya jelang sidang dibuka", katanya. Ia pandai berdebat dan berkelit, walaupun saya rasa itu hanyalah justifikasi karena ia malas pergi ke Pasar Raya membeli bendera. Kala itu saya diam dan .................. ya udahlah kalau begitu.

Kembali ke Ifa. Saya diam sambil terus "mengocok pakaian kotor" di mesin cuci produk Jepang (yaa... produk Jepang karena produks Indonesia belum saya temui, setidaknya belum ada refrensi teman-teman ........... padahal saya cinta produk dalam negeri .....wakakkakkkak wakkkaakkkak). "Ibunda, jawab Ifa, mengapa kita tak pasang bendera merah putih?", tanya sulung saya yang baru duduk di Kelas 1 SD ini. Akhirnya saya defensif dan mulai menjawab, "Coba tanya sama ayah". Ia pun berlalu menuju ayahnya yang sedang membersihkan kebun samping rumah, dan saya ikuti. Sebagaimana yang ditanyakan Ifa pada saya, pertanyaan tersebut diulanginya kembali pada ayahnya. Bagaimana reaksi suami saya ? ............. diam dan tersenyum. Ia tak bisa memberikan sebuah justifikasi sebagaimana yang diberikannya pada saya. "Malu Ifa, rumah teman-teman Ifa pakai bendera semua. Kata ibu guru Ifa di sekolah, kita harus mengibarkan bendera merah putih di rumah kita, tandanya kita sayang pada Indonesia", katanya sambil "menghakimi" ayahnya yang tersenyum sambil garuk-garuk kepala. "Bendera Merah Putih kita hilang", kata ayahnya. "Kenapa tak dibeli kemaren?", tangkis Ifa. "Ntar, ayah beli". "Sekarang aja, supaya bendera bisa dipasang cepat ........ malu Ifa, pokoknya ayah beli cepat", ujar Ifa kembali sambil mau menangis. Ayahnya ................ 15-0, kalah telak. "Ya Nak, ayah mandi dulu, baru ayah pergi beli bendera". "Ndak usah mandi, lama nanti, sekarang aja", kata Ifa. Suami saya memandangi saya sambil ingin meminta "perlindungan" agar menyakinkan Ifa, setidaknya untuk mandi saja dahulu. Saya tersenyum .......... dan mengatakan, "Ifa betul, tak perlu mandi", sambil ketawa saya masuk lagi ke rumah.

Ya..... suami saya yang biasanya pintar merangkai kata-kata untuk meyakinkan orang dan suka berdebat, dan biasanya bisa meyakinkan anak-anaknya bahkan anak-anak kami terkesan "tak bisa berlantas angan" padanya. Suami saya menjadi "kartu truf" bagi saya bila Ifa atau Adek bertengkar dan sulit untuk dicegah, dan suami saya memiliki kemampuan antisipatif...... hickkks. Tapi pagi ini ia dikalahkan oleh sebuah "keluguan nasionalisme" dari sulungku, Ifa binti Ilham. Dan, ketika pagi jelang siang bendera mulai berkibar di depan rumah kami, Ifa-pun mulai tersenyum dan berkata pada ayahnya, "gitu dong" ......... dan ia kemudian main sepeda lagi sambil "memberitahukan" kepada teman-temannya bahwa ia dan ayahnya adalah "nasionalis sejati". DIRGAHAYU KEMERDEKAAN INDONESIA.

Sabtu, 15 Agustus 2009

Semoga Negara Tak Melupakan Anak-Anak "Mereka"

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Saya masih ingat, malam itu beberapa hari yang lalu dikala kota Padang diguyur hujan nan lebat, sekitar Jam 11 malam, saya bersama suami menonton TVOne. Berdua. Serius sambil makan kerupuk kentang yang sorenya saya buat. Anak-anak saya, Ifa dan Adek sudah tidur. Mereka nampaknya memberikan waktu bagi kami berdua untuk sekedar menonton TV dengan acara yang agak "serius". Entah kenapa, saya mulai asyik dan respek terhadap berita teroris. Suatu hal yang selama ini tidak ingin saya tonton, apatah lagi menyukainya. Diantara rentetan silih berganti, sambung menyambung dan berulang-ulang, berita tentang "Mengejar Teroris" a-la TVOne tersebut, ada satu tayangan yang membuat mata saya sabak-berair, ketika Suci Hani menaburkan bunga di pusara sang suaminya .... Ibrohim @ a'am @ boim ...... si kreator bom J.W. Marrit dan Ritz Carlton, 17 Juli 2009 yang lalu. Sabak mata saya bukan simpati pada Ibrohim ataupun Nurdin M. Thop dan anak cucu ideologinya. Untuk kasus ini, saya sudah diajarkan oleh suami sebuah parameter baku : "Islam itu Rahmatan lil 'Alamin ..... rahmat bagi seluruh alam". Dan saya agak "bodoh" untuk urusan wacana Islam Radikal ini dengan seluruh istilahnya. Bagi saya, kegiatan-kegiatan Thopian (ideologi Nordin M. Thop, kalau boleh saya mengistilahkanya dengan ini) di Indonesia belakangan ini, justru menggambarkan bahwa mereka telah mencederai keagungan Islam sebagai agama Rahmatan lil 'Alamin. Sabak mata saya ketika melihat seorang istri, pada malam hari ditengah-tengah pressure sosial dan sorot kamera bak "mata dewa medusa" menaburkan bunga di pusara suaminya, yang beberapa hari lalu tewas ditembak Tim Densus 88 Anti Teror di Desa Beji Temanggung, yang siangnya dikuburkan tanpa kehadiran keluarga, yang suaminya ditolak dikuburkan oleh warga kampungnya, yang anak-anaknya terus menanyakan keberadaan ayahnya, yang mungkin air matanya sudah tak bisa mengalir lagi secara alamiah. Ya.... saya tak bisa merasakan bagaimana pedih-perihnya hati seorang Suci Hani, istri Ibrohim@A'am@Boim.

Saya tak bisa bayangkan, bagaimana perkembangan psikologis anak-anak mereka. Saya tak bisa bayangkan, bagaimana sisa amunisi "kekuatan psikologis" yang harus dimiliki oleh wanita bernama Suci Hani ini untuk melangkah ke depan membimbing tangan-tangan mungil anak-anaknya. Sambil menghapus air mata, saya menoleh kepada suami saya yang diam-hening membisu kala itu, dan mulai berkata, "Ya Allah Rabbil 'Izzati, Dzat paling tinggi maha sayang lagi kasih, tempat bermanja hamba-hambanya ..... janganlah engkau hilangkan keinginan dari pemimpin negeri ini untuk memperhatikan anak-anak yang ayah mereka teroris tersebut..... anak-anak tersebut tak punya pilihan, seandainya mereka bebas memilih, tentu mereka ingin menikmati indahnya masa anak-anak mereka seperti anak-anak yang lain. Semoga Komnas HAM Anak-Anak lebih intens memperhatikan hak-hak mereka". Saya hapus air mata saya, lalu saya berkata kepada suami yang masih melongo melihat saya, "Bang, mencintai keluarga dan memberikan inspirasi terbaik bagi orang lain, itulah muslim yang sebenarnya. Semoga Indonesia tidak lagi memberikan cerita sedih seperti Suci Hani". Suami saya ketawa dan ia berujar, "I Love You Full".


Minggu, 09 Agustus 2009

Adek : Antara Mbah Surip dan Bom

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Dua minggu terakhir ini, kosakata yang paling laris di rumah kami, dan saya asumsikan juga laris dalam masyarakat, adalah "Mbah Surip" dan "Bom". Saking larisnya dua kosakata ini, membuat anak saya yang paling kecil-bontot, Adek, sering menggunakan kata-kata ini. Dalam cekramanya dengan sang kakak, Ifa, atau ketika bermain dengan teman-temannya di komplek perumahan kami, sering Adek secara lamat-lamat terdengar oleh saya berkata : "aaaaaaaaa, aaaaaaa, aaaaaaaaaaa, " pada teman-temannya. Awalnya saya dan suami agak merasa heran, mengapa Adek mengeluarkan kata-kata seperti itu pada teman-temannya. Tapi akhirnya saya sadar kembali, itu merupakan "brand"-nya Mbah Surip. Di rumah, Adek tidak begitu berani, apalagi sama ayahnya. Di rumah, Adek justru bercengkerama dengan ayahnya dengan "brand" Mbah Surip yang lain : "huaaaa .... haaa .... haaaa" dan ayahnya pun ketawa mendengar apa yang diekspresikan Adek. Luar biasa pengaruh media dan Mbah Surip. Kalau dulu, Adek menyukai Sule dan Olga, sekarang sudah berganti dengan Mah Surip, tapi lebih kepada penggalan-penggalan nyanyi "Tak Gendong" seperti "aaaaaaaaaa" dan "haaaaaaaa" tersebut.

Pagi tadi (Sabtu/8 Agustus 2009), ketika saya membersihkan pekarangan dan kebun samping rumah, Adek bersama Ifa bermain-main dengan sepeda bersama teman-temannya. Kebetulan, suami saya membelikan sepeda buat Ifa dan Adek (suami saya membelikan sepeda bukan karena permintaan "ngotot" dari Ifa untuk dibelikan sepeda, tapi memang keinginan suami saya untuk membelinya. Ia beranggapan, sepeda adalah refleksi skill, dan seorang anak harus mampu bersepada, sebagaimana halnya nanti ia akan membelikan gitar dan mengajarkan berenang). Ketika Adek, Ifa dan teman-temannya sedang asyik-asyiknya bersepada, dan ketika saya sedang asyik-asyiknya membersihkan kebun di pekarangan rumah ............ Adek menangis. Rupanya, ia tidak diberikan kesempatan oleh kakaknya mengendarai sepeda. Saya diam saja sambil melihat, bagaimana reaksi Adek pada Ifa. Adek terus menangis meminta agar dia diberi kesempatan untuk belajar mengendarai sepeda, tapi kakanya tetap tidak mau memberikan kesempatan itu. "Awas, nanti Adek beritahu sama Ayah", kata Adek. Ifa tetap diam dan terus mengendarai sepeda. "Nanti Adek minta uang sama Ayah, Adek tak kasih teta", kata Adek (dia memanggil kakanya dengan panggilan "Teta Ifa". Ifa tetap diam. Karena tak ada respon, Adek mengeluarkan potensi suara untuk menangis : "aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa", lantas teman-temannya bilang, "Adek mirip Mbah Surip", sambil tertawa. Karena kesal diejek, akhirnya Adek pergi ke arah saya sambil tetap menangis. Saya yakin, ia akan mengadu pada saya. Tapi tidak, ia hanya berdiri disamping saya, sambil mengusap air mata, ia kemudian menjerit pada kakak dan teman-temannya yang lagi mentertawakan Adek sambil mengeluarkan kata-kata, "Awas, nanti Adek Bom". Dan saya ........ terpana !!!!!

Senin, 03 Agustus 2009

Menjadi Pendongeng yang Ekspressif

Ingatkah Anda saat si kecil menyodorkan buku cerita dan meminta Anda membacakan cerita saat ia hendak tidur? Manfaatkan momen seperti ini, tak hanya makin mendekatkan hubungan Anda dengan anak, tetapi juga memberikan pendidikan baginya. Sebab, para ahli berpendapat bahwa dongeng dapat menjadi salah satu media yang efektif dalam mendidik anak. Namun, bagaimana cara mendongeng yang benar agar pesan dapat tersampaikan dengan benar? Kak Kusomo yang dikenal sebagai raja dongeng membagi beberapa tips cara mendongeng yang baik :

1. Pendongeng harus ekspresif. Untuk menarik perhatian anak, seorang pendongeng harus dapat berekspresi dan enerjik. “Kalau pendongeng lemas dan datar dalam mendongeng, mana ada anak yang mau mendengar,” ujar Kak Kusomo. Menurutnya, dalam mendongeng harus ada perubahan intonasi, mimik wajah, dan gerakan tubuh. “Oleh karena itu, untuk menjadi pendongeng ekspresif, mimik wajah, intonasi, dan bahasa tubuh harus terus dilatih.”

2. Banyak membaca. Menurut Kak Kusomo, seorang pendongeng harus mempunyai banyak cerita. Pasalnya, anak akan bosan jika terus-menerus mendengar cerita yang sama. “Perbanyaklah membaca cerita-cerita rakyat atau literatur lain. Dengan begitu, pendongeng juga dapat berimprovisasi dalam mendongeng,” tutur Kak Kusomo.

3. Memilih cerita yang mempunyai pesan. Tidak semua cerita rakyat mempunyai pesan moral yang bagus bagi anak-anak. “Ada beberapa cerita rakyat yang tidak cocok untuk anak, misalnya tentang perang saudara dan lain-lain. Jadi pilihlah cerita-cerita yang pesan moral atau budayanya dapat ditiru anak,” lanjutnya.

4. Sesuaikan dengan usia anak. Kak Kusomo menuturkan tiap-tiap tingkatan umur. Untuk umur di bawah 5 tahun, dongeng yang cocok adalah mengenai lingkungan, seperti cerita hewan atau tumbuhan. Pada umur 5-7 tahun, anak boleh mulai dikenalkan dengan cerita rakyat. Selanjutnya, anak pada umur 9-12 tahun cocok dengan cerita mengenai fiksi, seperti petualangan. Usia maksimal anak diberi dongeng adalah umur 12 tahun. Setelah itu anak perlu dirangsang dengan metode cerita bersama, seperti diskusi. (Sumber : kompas.com)