Senin, 16 November 2009

ADEK : "Ibunda, Adek Takut Sama Allah"

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Dalam tulisan terdahulu, saya dan suami perlu menghadirkan Allah Robbi Izzati dengan "ramah" pada IFA - Sulungku. Saya dan suami merasa tersentak dan harus belajar banyak dari IFA bahwa apa yang selama ini kami ajarkan tentang Allah, nyatanya ditangkap "berbeda" oleh IFA. Kalimat : "Ifa, jangan berbuat seperti itu nak, Allah akan marah bila berbuat tidak baik !" ..... ditangkap oleh IFA : "Allah lagi ... Allah lagi, pemarah betul Allah itu !". Akhirnya, mulai saat itu saya dan suami berusaha menghadirkan Allah yang "ramah" di matanya. Setelah disentakkan oleh IFA, kini kami disentakkan pula oleh ADEK - bungsu kami yang berusia 4 tahun. Bungsu kami ini orangnya agak pendiam, bertolak belakang dengan "tetanya" IFA yang suka bicara (maota). Badannya pun agak bontot. Belakangan ini, ADEK sudah mulai sering menanyakan pertanyaan kritis kepada saya.

Senja itu, hujan sangat lebat mengguyur kota Padang. Kebetulan belakangan ini, kota Padang tak henti-hentinya hujan lebat setiap sore hingga malam. Biasanya, ADEK dan IFA paling suka melihat hujan itu turun. Tapi bukan untuk mandi-mandi hujan. Kebetulan saya agak kewalahan melarang mereka. Akhirnya saya antisipasi dengan rumus : "IFA-ADEK, hari sudah senja dan mulai kelam .... masuk ke dalam rumah nak !. Jangan diluar, Ibunda takut diluar karena senja nan kelam ini, hantu banyak berkeliaran".

Lantas ADEK bertanya, "Hantu itu apa buk ?".
Bingung saya sebentar, kemudian sekenanya saya jawab, "Hantu itu tak nampak, tapi ibunda takut".
"Ayah juga takut, bu", kata Adek lagi.
"Iyaa, apalagi ayah, ia sangat takut pada hantu".
Karena penasaran, ADEK bertanya lagi, "Tapi hantu itu tidak nampak bu ...... kok takut ?".
Saya bingung lagi, "Karena tidak nampak itulah maka ibu dan ayah takut ...... udah, ayo masuk", kata saya sambil menggendong ADEK dan IFA yang tidak protes lagi.
Dalam taraf ini, saya berkesimpulan ........... ada "senjata" ampuh bagi saya untuk melarang ADEK bermain-main di luar bila hari sudah sore atau senja.

Beberapa hari kemudian .............. !
Malam itu, di ruangan tengah, saya, suami, pengasuh anak, IFA dan ADEK sedang menonton TV. Kebetulan saya menonton sebuah sinetron Islami yang ditayangkan oleh TPI. Kami terlihat serius. Tanpa saya nyana ...... Adek bertanya pada saya, "Bu, kok sering orang di TV itu bilang-bilang Allah, tapi Adek tak lihat mana itu Allah?", katanya pada saya. Mungkin ia terinspirasi pada sinetron Islami yang sering mengeluarkan kata-kata Allah.
Saya jawab pula dengan sekenanya, "Allah itu tidak nampak, nak. Allah itu Tuhan kita"
Jawab ADEK, "Ihhhh, berarti Allah itu sama dengan hantu ya bu, hantu tidak terlihat, Allah juga ... berarti Adek harus takut sama Allah".
Saya dan Suami : "terkejut, melongo dan tersenyum.
Ya Allah Robbi Izzati ..... ADEK telah berikan pada kami pelajaran. Sebelum ini Allah harus kami "ramahkan" di depan IFA, maka di depan ADEK, Allah harus kami "familiarkan". Saya sayang dengan keluargaku.

Rabu, 11 November 2009

Ya Allah ....... Saya Bersumpah

Aku Letih
Dengan Semua Parodi Dunia
Hukum bukan lagi buat mereka yang berhak
Kuasa dan Uang telah bertahta

Ya Allah ........... !!!
Dengarlah Persumpahanku

Saya bersumpah tidak pernah
terima sejumlah dana reksa
penampar wajah keluarga tercinta
air mata di berita adalah penegasnya

Saya bersumpah tidak pernah
diberi sejumlah surga dunia
pencoreng iman dan ketaatan ibadah
ayat suci di udara adalah penegasnya

Saya bersumpah tidak pernah
dijejal sejumlah dana tak terduga
penyumbat mulut juga hati nurani
kurang bukti adalah penegasnya

Saya bersumpah tidak pernah
disodorkan sejumlah tuhan dunia
yang bentuk tunainya asing di mata
pengacara senyum adalah penegasnya

(inspirasi : suarakepala.com)

Ketika Malam Dingin

Dalam dekapan dingin
Empat Tangan Mungil
Dari .......
Dua Putri Terkasihku
Menjadi Penghangat
Pada Malam Itu

Dalam Dekapan Dingin
Tiga Perempuan
Aku ....
Dua Malaikat Kecilku ....
Berada dalam Dekapan "Lelaki-ku"

Tuhan .... Robbi Izzati
Akankah ini
Hanya dalam Dekapan Dunia ?

Aku Ingin Tuhan .... Robbi Izzati
Di "Alam Sana" Nanti
Ini Aku Alami dengan Abadi

Bila Engkau Beri Aku Sorga
Sementara Dekapan ini "Entah Dimana"
Biarlah Sorga Tak Kualami
Tapi ....
Tuhan ...... Robbi Izzati
Berikan Kepadaku Dekapan ini

(Malam Dingin, Awal September 2009 ..... Ketika aku bahagia dalam dekapan orang-orang yang aku cintai)

Sabtu, 24 Oktober 2009

Ketika 7 Keajaiban Dunia Ditanyakan ......

Ditulis ulang oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Sekelompok murid ditugaskan untuk membuat daftar tentang segala sesuatu yang mereka anggap sebagi tujuh keajaiban dunia. Meskipun terjadi beberapa ketidaksepakatan, namun kebanyakan murid membuat daftar sebagi berikut :

1. Piramid di Mesir.
2. Taj mahal.
3. Grand Canyon.
4. Terusan Panama.
5. Empire State Building.
6. St. Peter's Basilica.
7. Tembok Cina.

Ketika mengumpulkan kertas para murid, Pak Guru memperhatikan ada seorang murid perempuan yang belum menyerahkan daftarnya, lalu ia bertanya apakah ia mengalami kesulitan dalam menyusun daftarnya. Murid peremuan itu menjawab," Ya, ada kesulitan sedikit. Aku tidak bisa memutuskan mana yang harus kudaftar. Ada begitu banyak keajaiban." Pak Guru berkata," Jika demikian, bacakan kepadaku apa-apa yang telah kau catat, mungkin nanti aku bisa membantumu." Murid itu ragu sejenak,tapi kemudian membacakan daftarnya, " Menurutku, tujuh keajaiban dunia adalah :

1. menyentuh.
2. merasakan.
3. melihat.
4. mendengar.

Ia ragu sejenak lalu menambahkan :

5. meraba.
6. tertawa.
7. dan mencintai.

Ruang kelas menjadi begitu sunyi sehingga suara jarum jatuh pun dapat terdengar. Kegiatan yang sering kita abaikan, kita anggap sepele dan biasa sesungguhnya merupakan kegiatan yang menakjubkan. Ini adalah peringatan bahwa, hal-hal yang paling berharga dalam kehidupan adalah hal-hal yang tidak dapat kita beli.

Inspirasi : R. Ayahbi (mohon maaf, dikutip bebas)

Sabtu, 17 Oktober 2009

Gempa 30 September : "Syukurku Padamu Ya Allah"

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Alhamdulillah, Allah SWT., masih mengamanahkan kepada kami nikmat kesehatan dan amanah anak-anak serta yang lain. Waktu gempa 30 September 2009 yang lalu, saya dan suami berada jauh dari rumah dan anak-anak. Anak-anak berada bersama dengan pengasuh yang sudah cukup lama bersama kami (biasanya IFA dan ADEK memanggilnya dengan "Tante Fera", anak tetangga saya di kampung). Saya dan suami terjebak macet dengan kondisi traumatis yang saya alami. Secara langsung, saya banyak melihat keruntuhan gedung-gedung dan kepanikan masyarakat. Apalagi, waktu itu saya dan suami berada di daerah tepi laut (Sekolah saya berada dekat Pantai Padang, dan seperti biasa setiap sore - kalau tidak sibuk - suami saya pasti menjemput saya). Saya bisa melihat kepanikan masyarakat akan datangnya tsunamy. Akhirnya, lewat perjuangan berat, saya dan suami sampai di rumah hampir jam 24.00 tengah malam (cerita tentang ini lihat artikel dalam Blog suami saya : http://ilhamfadli.blogspot.com/2009/10/padang-ancaman-gempa-88-skala-richter.html dan http://ilhamfadli.blogspot.com/2009/10/g-30-s-baca-gempa-tiga-puluh-september_12.html).

Ketika tengah malam sampai di komplek perumahan kami tersebut, saya dan suami mendapati komplek perumahan dalam susana mencekam ..... listrik padam dan saya lihat banyak rumah yang rusak berat, bahkan ada yang ambruk total. Dalam fikiran saya pada waktu itu, terbayang dua putri mungil yang kami tinggalkan, pasti menangis dan resah luar biasa. Namun Alhamduilillah, sesampainya di depan rumah, rupanya putri-putri kami lagi tidur di teras rumah bersama dengan pengasuh dan beberapa orang tetangga. Karena kasihan, saya tidak membangunkan mereka. Sementara itu, suami bersama beberapa orang pengurus RT/RW mulai keliling komplek untuk melihat-lihat kondisi komplek yang setengah hancur. Sementara itu rumah kami, tidak apa-apa, hanya ada beberapa retak kecil di teras. Syukurku padamu ya Allah.

Jumat, 16 Oktober 2009

Etika dengan Standar yang Bervariasi

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Suami saya punya teman, namanya Khilal Syauqi. Masih muda, belum 30 tahun. Lebih kurang 5 tahun ia menuntut ilmu di Mesir, Universitas Al Azhar. "Lc" gelar di akhir namanya dan "Haji" di awal namanya. Di daerah-daerah Timur Tengah, kata Khilal yang Haji ini, kita boleh menjentil-jentilkan hidung anggota kabilah di Padang Pasir atau mengelus-ngelus dagunya seakan-akan dagunya itu adalah dagu kita. Mereka tidak akan marah. Bahkan bila sudah akrab, maka setiap ketemu, biasa saja kepala kita yang ditampar atau gantian kepala kita yang "dijitak". Tapi jangan coba-coba menampar atau menyentuh pantat mereka. Mereka bisa murka besar. Entah karena apa, mereka menaruh hormat kepada bagian tubuh ini. Di Indonesia, kita boleh mengecup tangan seberapa banyak yang kita suka, tapi jangan coba-coba menjamah kepala.

Konon, kita diperbolehkan kentut di sembarang tempat di Amerika, khusus di belahan sebelah utara ..... tapi jangan lakukan di Indonesia. Kurang ajar, bar-bar, kurang pendidikan dan seterusnya menjadi label yang akan dilekatkan kepada kita. Setingkat dibawah kentut, sendawa menjadi sesuatu yang biasa di Indonesia, setidaknya yang saya alami. Ada rasa bahagia dari orang-orang terdekat kita ketika kita makan makanan yang mereka buat, maka setelah kita kenyang, sendawa kita keluar. Mereka akan tersenyum, "Alhamdulillah, tidak sia-sia saya memasak, sudah keluar sendawa anda". Sendawa menjadi signal dan parameter enak-tidak enaknya sebuah makanan. Konon, jangan lakukan hal ini di negara-negara "Barat", sendawa menjadi standar tinggi rendahnya etika seseorang di meja makan................. ketika suaminya saya "sendawa" pada waktu selesai makan, ada rasa senang luar biasa pada diri saya. Ketika suami saya "kentut" (he...he 1000 X, maaf ya bang), apalagi di depan anak-anak kami, saya akan cemberut, dan makin cemberut bila ia memberikan justifikasi, "di barat kentut tidak dilarang", katanya sambil ketawa.

Kamis, 15 Oktober 2009

Air Bangis ........ Nagari Nan Den Cinto

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

/Aia Bangih dilingkuang taluak/taluak dilingkuang pulau sambilan/manangih adiak sadang taduduak/aia mato jatuh ka pinggan/

Satu hal ................ saya sangat mencintai Air Bangis. Daerah pantai nan indah ini merupakan daerah asal saya dan suami. Bahkan dua putri cantik kami juga lahir di sini, walaupun hanya numpang lahir. Sebagai daerah pantai, Air Bangis merupakan daerah yang indah. Tepat menghadap laut, berbentuk teluk dan didepan teluk tersebut terdapat 9 buah pulau. Di antara pulau-pulau tersebut ........... saya jamin, adalah lokasi terindah di pantai barat Sumatera Barat. Karena keteguhan masyarakat terhadap nilai-nilai agama, eksplorasi daerah ini menjadi daerah wisata oleh pemerintah "belum direstui" masyarakat. Masyarakat Air Bangis masih melihat bahwa eksplorasi wisata tersebut berkorelasi dengan kemaksiatan. Jadi praktis, keindahan pulau dan pantai di teluk Air Bangis belum banyak diketahui orang. Dengan jumlah penduduk lebih kurang 40.000 jiwa dan merupakan pusat pemerintahan kecamatan Sungai Beremas, nagari Air Bangis dikenal sebagai daerah kaya ikan. Di Sumatera Barat, Air Bangis merupakan daerah produsen ikan terbesar (baik ikan basah maupun kering). Hampir semua masyarakatnya beragama Islam, dan nilai budaya-kultural Minangkabau sangat kental. Mau lihat foto-foto "mutiara terpendam" Air Bangis ?




Senin, 12 Oktober 2009

IFA : "Ayah, Memangnya Allah itu Pemarah ?"

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Sulungku IFA, sedang nakal-nakalnya. Nakal bukan berarti tidak etis. Kenakalan lebih kepada pemberontakan karena tidak sesuai dengan alam pemikirannya. Ketika ia masuk siang (IFA Kelas 1 SD di Komplek Perumahan kami dan jam masuknya selalu bervariasi : 1 minggu masuk pagi dan 1 minggu masuk siang), sebelum saya dan suami berangkat kerja, saya biasanya menyuruh IFA untuk mandi, sebagaimana yang dilakukannya kala ia masuk pagi (biasanya pukul 06.30 pagi). Saya tahu bahwa bila ia mandi pagi, berarti siang nanti ia juga akan mandi pula. Ketika pulang sekolah ..... ya mandi lagi. Namun pertimbangan saya menyuruhnya untuk mandi pagi ketika jadwal sekolahnya siang adalah agar IFA bisa segar pada pagi itu. Saya terkadang ngotot menyuruhnya. Tapi hampir selalu gagal. Alasannya ...... IFA masuk siang dan biasanya mandi itu dua kali, tidak pernah tiga kali ............. dasaaaaaaaaaaaaaaaaar !!!!!!!!!!!. Begitu juga ketika suami saya menyuruh IFA membeli sesuatu di kedai. Bila ia tidak ada kegiatan (biasanya dengan teman-temannya), IFA pasti tidak keberatan menuruti perintah suami saya ke kedai. Tapi bila IFA sedang bermain dengan teman-temannya, hampir dipastikan, IFA keberatan di suruh ayahnya. Ketika suami saya menanyakan pada IFA kenapa ia tak mau disuruh, IFA menjawab, "IFA lagi bermain, ayah kan tidak bermain ...... mengapa ayah tidak pergi sendiri ?" ........... polos, lugu dan terkesan argumentatif. Di sana letak "nakal"nya sulung saya ini.

Di rumah kami, dasar-dasar teologis-normatif sangat ditekankan oleh suami saya. Tapi tidak kaku. Sore hari IFA disuruh belajar Iqra' di TPA Musholla. Malam hari, menjelang tidur, biasanya saya (sebagaimana yang disuruh suami), selalu "mendendangkan" nyanyian Asmaul Husna pad IFA dan ADEK, sampai mereka tidur. Alhamdulillah, IFA sudah hapal Asmaul Husna, sementara ADEK hafal sekitar 20-30 dari 99 Asmaul Husna tersebut. Dasar-dasar teologis ini juga terbawa pada perintah-suruhan serta pencegahan terhadap segala sesuatu yang dilakukan oleh IFA. Apabila IFA bertengkar dengan Adiknya - ADEK, maka saya atau suami akan bilang, "Jangan Nak, Adek harus disayangi, Allah akan marah bila IFA bertengkar dengan ADEK". Bila IFA tidak mau menghabiskan makanannya, sering saya marahi dengan menyelipkan kata-kata, "Allah tidak menyukai orang yang tidak mau menghabiskan makanannya, nanti bisa masuk neraka". Awal-awalnya IFA "takut" dengan ancaman abstrak-teologis ini sehingga saya dan suami ketagihan memakai argumentasi tersebut. Ketika IFA tidak mau gosok gigi, tidak mau membuat PR, menangis, tidak mau meminjamkan sepedanya pada ADEK hingga tidak mau berdo'a menjelang tidur ............... konsep Allah marah tersebut menjadi senjata ampuh.

Siang itu, suami saya bersama dengan teman-temannya sedang membicarakan logistik-sembako bagi korban gempa di komplek kami. Saya ikut nimbrung. Sedang serius-seriusnya suami saya dengan teman-temannya membahas topik logistik sembako pasca gempa tersebut, IFA datang bersama Adiknya, ADEK. Rupanya ia mau minta izin melihat mobil Pelayanan Kesehatan Gratis yang waktu itu sedang berkunjung di komplek kami. Maklum anak-anak, IFA terus meminta izin dengan kesan "menganggu" diskusi ayahnya. Saya katakan, "nanti saja bersama Ibu, sekarang lagi banyak orang, bila sepi baru kita pergi ke sana". "IFA hanya mau melihat-lihat, bukan pergi berobat, boleh ya yah," katanya pada suami saya. Awalnya suami tak menghiraukan permintaan IFA. Ia terus sibuk "diskusi". Tapi karena permintaan IFA dirasakan suami saya telah sampai pada stadium "menganggu" kekhusyukan diskusi-nya, maka suami saya mulai mengeluarkan rumus ampuh kami berdua, "Nak, Ayah dengan om-om ini, sedang diskusi membicarakan korban gempa di komplek kita. IFA jangan ganggu dong. Allah marah pada orang yang selalu menganggu pembicaraan orang lain", kata suami saya pada IFA. IFA terdiam, kemudian dipegangnya tangan adiknya dan berlalu sambil menggerutu ...... "Allah lagi, Allah lagi ......... malas IFA-nya, Allah itu pemarah, sedikit-sedikit Allah, sedikit-sedikit Allah, pemarah betul Allah itu"................... suami saya melongo-termenung, sementara teman-teman diskusinya ketawa terbahak-bahak. Belakangan mereka mengetawakan suami saya yang dikalahkan oleh kepolonsan IFA dan kekaguman mereka terhadap IFA. Sekarang kami lagi berikhtiar untuk "meramahkan" Allah di mata IFA.

Selasa, 15 September 2009

Ramadhan yang "Mengasyikkan"

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Alhamdulillah, tak terasa beberapa hari lagi, Ramadhan 1430 H./2009 M. meninggalkan kita. Banyak "catatan-catatan manis" bagi keluarga kami selama Ramadhan kali ini. Sulungku Ifa, hingga Ramadhan hari ke-27, ia bisa berpuasa 26 hari. Itu artinya, hanya bolong satu hari. Dalam usia 6 tahun, kelas 1 Sekolah Dasar, sulungku yang sekarang kelihatan kurus-ramping (mungkin karena puasa), memiliki potensi bisa berpuasa 100 % selama Ramadhan kali ini, sungguh menurut saya adalah prestasi luar biasa. Saya melihat bahwa Ifa "benar-benar" puasa. Ia hampir tidak pernah tidur pada siang hari. Bersama dengan Adeknya dan teman-temannya yang mayoritas tidak berpuasa, Ifa selalu bermain sepeda, bahkan ditengah panas terik. Ia tak pernah nangis, minta "berbuka yang dipercepat". Saya dan suami baru kelas 3 SD (usia 9/10 tahun), mampu menuntaskan puasa satu bulan penuh, sementara sulung-ku justru di usianya yang 6 tahun. Saya dan suami sangat gembira ..................... SATU HAL : Ia telah mulai mengalahkan kami - ayah dan ibundanya - satu demi satu. SATU HAL LAGI : Ifa tak pernah minta "reward" karena prestasi-teologisnya ini. Sampai detik ini tak pernah keluar lontaran perkataan, "Ayah, belikan Ifa baju atau celana atawa jam tangan barbie karena Ifa bisa puasa", ............. Tak Pernah. Mungkin karena trenyuh, minggu lalu suami saya - Ayah Ifa - berjanji pada Ifa akan membelikan jam tangan mungil - "warna stroberry" - sebagaimana yang dahulu selalu diidam-idamkannya. "Ayah janji, nak", demikian kata suami saya belakangan ini setiap kami sekeluarga berbuka bersama.

Disamping kebahagiaan saya karena Ifa mampu berpuasa secara maksimal, ada kebahagiaan lain saya - Alhamdulillah, pemasangan keramik di rumah kami sudah rampung. Ifa juga telah memiliki kamar sendiri, demikian juga Adek dengan "tante Vera-nya" (pengasuh Ifa dan Adek). Saya dan suami memiliki kamar sendiri terpisah. Dan satu lagi kamar buat adik-adik saya dan suami yang laki-laki serta ruang perpusatakaan. Alhamdulillah, semuanya sudah ber-keramik.......... menurut saya sungguh indah. Keramik dengan warna putih agak kecoklatan dengan cat rumah "coklat kopi susu" ditingkahi dengan warna putih.

Di bulan Ramadhan ini pula, kami sekeluarga merasakan kenikmatan lain juga ........... selalu berbuka bersama. Suami saya yang siang hari cukup sibuk di kampus, biasanya pulang jelang berbuka. Sementara saya pulang jam 2 siang, lebih cepat dari hari-hari biasanya. Setelah berbuka dan Sholat Maghrib, suami saya biasanya pergi ceramah taraweh di berbagai masjid-musholla di Kota Padang ........ dan pulang jam 10.00 malam. Biasanya anak-anak sudah tidur. Sementara saya "tadarus-ringan" di rumah. Setelah saya hidangkan nasi (beliau biasanya dua kali makan malam, waktu berbuka dan pulang ceramah), ia makan dan setelah itu pergi ke kedai ........... biasa, "ma ota" dengan teman-temannya, dan ini berlangsung sampai jam 12.00 tengah malam. Saya tak melarangnya, paling-paling mengingatkan agar menjaga kesehatan. Namun terkadang saya juga bertanya, "mengapa ia tidak langsung istirahat ?". Dengan diplomatis ia akan menjawab, "saya ceramah santai dengan teman-teman di kedai karena mereka tak sempat dan mungkin tak mau pergi ke Masjid dan Musholla ........... substansi Masjid dan Musholla saya pindahkan ke kedai". Saya diam. Belakangan ini, saya juga pernah melihat ia menjadi "juru tulis" teman-temannya yang main domino. Ia tidak bisa main domino. Saya juga mulai protes....... mengapa harus domino, tidakkah itu sesuatu yang "tidak baik?". Ia kemudian menjawab, "siapa bilang domino itu tidak baik. Walaupun saya tak bisa main domino, bukan berarti saya harus menghakimi domino. Coba tunjukkan beda domino dengan judi. Domino ya domino, judi ya judi. Kalau main domino menggunakan taruhan, saya tak setuju, bahkan akan saya cegah. Tapi untuk sekedar main domino ........... apa bedanya dengan main sempoa dan catur..... mempertajam kemampuan matematik otak dan interaksi intra-personal", katanya. Saya kembali diam. Konon, dikomplek saya ada 3 orang yang dipanggil ustadz (biasa memberikan ceramah), dan 2 diantaranya "maniak domino", tapi tak termasuk suami saya .......... ia hanya sering menjadi "juru tulis".

Kamis, 20 Agustus 2009

Keluguan Politik Ilham "Kecil"

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag


Cerita ini merupakan "cerita lama" yang luput saya posting, tentang kelucuan dan keluguan suami saya waktu ia masih kecil ketika berhadapan dengan pejabat daerah. Ceritanya begini : ........... Kala itu, sekitar tahun 1982. Di kampung halaman kami, Air Bangis (saya dan suami satu kampung)., kedatangan Gubernur. Tahun 1980-an, Air Bangis merupakan daerah yang hampir terisolir di pantai barat Sumatera Barat. Daerah pantai yang berjarak hampir 315 km dari Kota Padang. Daerahnya indah, berbentuk teluk yang dikelilingi oleh sembilan buah pulau dan merupakan daerah transisi kultural (antara etnik Minangkabau dengan Mandahiling, karena Air Bangis berbatasan langsung dengan Kabupaten Mandahiling Natal lewat laut). Air Bangis juga dikenal sebagai daerah historis-kaya sejarah karena di daerah ini merupakan salah satu daerah "perang" Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Tambusai dan Tuanku Rao (bahkan Tuanku Rao ditenggelamkan oleh kolonial Belanda di pantai Air Bangis....... sehingga di Air Bangis ada nama gugusan karang yaitu karang Tuanku Rao). Tahun 1982 tersebut, kedatangan pejabat-pejabat dari daerah (baik Kabupaten maupun Propinsi) menjadi sesuatu yang dianggap "mukjizat". Tahun 1982 itu, Air Bangis didatangi oleh Bpk. Ir. Azwar Anas (ketika menjadi Gubernur Sumatera Barat). Kedatangannya disambut dengan riuh rendah a-la masyarakat "hampir terisolir" Air Bangis. Apalagi kedatangannya dengan menggunakan helikopter yang membuat masyarakat Air Bangis jadi histeria ............. maklum melihat pesawat terbang yang "lalu" saja diatas udara Air Bangis bisa membuat masyarakat Air Bangis kala itu jadi histeris, apalagi ada helikopter yang mendarat ............. dijamin "mak nyoooss".

Kata suami saya, kala itu ia berusia 8 tahun (kelas 2 SD). Kata suami saya lagi, kala itu suasana sedang "sedikit panas", maklum jelang Pemilu 1982. And .... Kata suami saya lagi, waktu itu ia disuruh oleh guru-gurunya memakai pakaian seragam "ala kadarnya" bersama dengan teman-temannya untuk menyambut kedatangan "wong gedong" tersebut. Ketika helikopter mendarat di lapangan hijau Air Bangis, Gubernur dan Rombongan kemudian diarak ke Gedung Pertemuan Nagari. Masyarakat Air Bangis, kala itu, yang berjubel menyambut kedatangan Gubernur tersebut, "terpecah dua", sebagian mengiringi Guberenur yang diarak ke Gedung Pertemuan Nagari, sebagian lagi "menonton helikopter". Singkat cerita, ketika Gubernur sampai ke Gedung Pertemuan Nagari, setelah melalui acara "tetek bengek", sampailah pada acara sambutan resmi dari Bpk. Ir. Azwar Anas yang kala itu sangat gagah. Dalam pidatonya, lebih banyak bernuansakan kampanye (maklum suasana pemilu 1982) - tepatnya mengkampanyekan Golkar -- dibandingkan dengan arahan yang bersifat mencerahkan. Nah .... ditengah-tengah pidatonya, Gubernur meminta seorang anak untuk maju ke depan. Anak yang maju ke depan tersebut adalah anak yang duduk-mencangkung di barisan depan, yang mungkin dianggap oleh Gubernur serius mendengar pidatonya. Padahal, anak tersebut hanyalah melongo mendengar pidato yang isinya "hampir tidak bisa dipahaminya". Dengan langkah pasti nan tegap, walaupun tubuhnya pendek, si anak yang memakai pakaian pramuka "ala kadarnya" serta menggunakan sepatu bot-putih anti air buatan Cina yang dibeli pada Tekong Cina bernama Kiat di Kampung Cina Air Bangis, melangkah menuju tempat sang Gubernur pidato. Si anak tersebut .............. ya, ia suami saya. Kemudian, terjadilah komentar singkat :

Gubernur : Siapa nama kamu ?
Si Anak : Muhammad Ilham, pak Gubernur
Gubernur : Apa cita-cita kamu
Si Anak : Jadi Gubernur, pak Gubernur
Gubernur : wah ............ bagus itu. Apa pekerjaan ayahmu ?
Si Anak : Ayah saya tukang jahit, ibu saya jualan ketupat (jawaban yang komplit)
Gubernur : Bisa baca Pancasila?
Si Anak : Bisa, pak Gubernur
Gubernur : Coba baca !
Si Anak : Pancasila ............ Satu (mulai membaca) dan seterusnya
(Setelah si anak ini selesai membaca Pancasila........... Gubernur kemudian menyuruh si anak untuk mengikuti kata-katanya dengan pekikan yang lantang)
Gubernur : Hidup Golkaaaaaaaaaaaaaar !!!!!!!!!
Si Anak : ?????????? (ia diam)
Gubernur : Ayo, kenapa diam ?
Si Anak : Saya dan ayah saya memilih PPP pak Gubernur, bukan Golkar
Gubernur : .......................... @Gubernur : .......................... @$&$@!# !!!!!!!!!!!!!
amp;$@!# !!!!!!!!!!!!!

(Besoknya, suami saya dimarahi oleh guru-guru SD-nya, tetapi mertua saya bangga .... buktinya ia langsung membelikannya sepatu bot putih anti air yang baru dari tekong Cina bernama Liem She Kiat @ Kiat di Kampung Cina Air Bangis ............. konon dibayar tidak kontan alias kredit). Selanjutnya ......... suami saya tetap tidak pusing dengan kemarahan guru-guru SD-nya. Ia tetap menganggap dialog singkatnya dengan Gubernur tersebut memberikan keberkahan baginya, sepatu bot putih anti air yang sejak ia masuk SD belum pernah diganti oleh ayahnya, justru diganti dengan yang baru. Dan konon, foto-nya waktu dialog dengan Gubernur tersebut, sampai hari ini tetap dipajang oleh kakaknya di Air Bangis, walaupun telah lusuh. Nama fotografernya masih diingat oleh suami saya, Ruslin Sutan Batuah @ Sulin. Ia teman akrab mertua saya. Konon, "insiden" dialog tersebut membuat Ruslin Sutan Batuah "ketawa senang", buktinya mertua saya tidak harus membayar untuk menebus foto "bersejarah" itu, padahal Ruslin yang bergelar Sutan Batuah tersebut butuh waktu 3 hari ke Padang ..... hanya untuk mencucikan foto ini, 3 buah ...... 1 untuk mertua saya, 1 lagi untuk SD tempat suami saya sekolah dan 1 lagi untuknya.

Insert : Foto "Ilham Kecil" saat dialog dengan Gubernur Sumbar (Tahun 1982) Ir. H. Azwar Anas

Minggu, 16 Agustus 2009

Terkadang Nasionalisme Anak-Anak Jauh Lebih Tinggi Dibandingkan Kita

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag (Kepala PAUD Citra Al Madina Padang)

Minggu, 16 Agustus 2009. Ketika pagi menjelang, sulungku Ifa baru siap mandi dan berpakaian. Ia sedang libur sekolah. Pagi itu, ia memulai kegiatan rutinnya bila sedang libur..... bersepeda (tepatnya belajar sepeda) di seputaran komplek bareng teman-temannya. Sedangkan saya mulai "mengolah pakaian kotor" di Mesin Cuci, sementara suami saya membersihkan pekarangan samping rumah (kebun tanaman obat). Kegiatan rutin liburan mulai bergeliat di rumah dan komplek perumahan kami. Beberapa saat kemudian, Ifa datang sambil sambil sedikit marah dan bertanya kepada saya : "Ibunda, kok rumah kita tidak dipasangin bendera merah putih?". Mati Aku ! .............. tak bisa saya jawab. Memang, suami saya lupa memasang bendera merah putih jelang 17 Agustusan, biasanya beliau tidak pernah lupa memasang bendera tersebut, apalagi ia ketua di komplek perumahan kami. Kebetulan, tadi malam saya bertanya pada suami tentang keberadaan bendera merah putih kami. Suami saya mengatakan bahwa bendera tersebut entah dimana diletakkannya. Memang ada usaha malam itu untuk mencari, tapi tak ketemu. Akhirnya, ia mengambil kesimpulan : "ya udaah, lihat besoklah, kalau ada waktu ..... ya kalau ada waktu, saya akan ke Pasar Raya, beli bendera merah putih baru lagi, memangnya nasionalisme ditentukan oleh bendera merah putih, buktinya, anggota DPR-RI waktu sidang Paripurna tanggal 15 Agustus 2009 yang lalu, lupa menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya jelang sidang dibuka", katanya. Ia pandai berdebat dan berkelit, walaupun saya rasa itu hanyalah justifikasi karena ia malas pergi ke Pasar Raya membeli bendera. Kala itu saya diam dan .................. ya udahlah kalau begitu.

Kembali ke Ifa. Saya diam sambil terus "mengocok pakaian kotor" di mesin cuci produk Jepang (yaa... produk Jepang karena produks Indonesia belum saya temui, setidaknya belum ada refrensi teman-teman ........... padahal saya cinta produk dalam negeri .....wakakkakkkak wakkkaakkkak). "Ibunda, jawab Ifa, mengapa kita tak pasang bendera merah putih?", tanya sulung saya yang baru duduk di Kelas 1 SD ini. Akhirnya saya defensif dan mulai menjawab, "Coba tanya sama ayah". Ia pun berlalu menuju ayahnya yang sedang membersihkan kebun samping rumah, dan saya ikuti. Sebagaimana yang ditanyakan Ifa pada saya, pertanyaan tersebut diulanginya kembali pada ayahnya. Bagaimana reaksi suami saya ? ............. diam dan tersenyum. Ia tak bisa memberikan sebuah justifikasi sebagaimana yang diberikannya pada saya. "Malu Ifa, rumah teman-teman Ifa pakai bendera semua. Kata ibu guru Ifa di sekolah, kita harus mengibarkan bendera merah putih di rumah kita, tandanya kita sayang pada Indonesia", katanya sambil "menghakimi" ayahnya yang tersenyum sambil garuk-garuk kepala. "Bendera Merah Putih kita hilang", kata ayahnya. "Kenapa tak dibeli kemaren?", tangkis Ifa. "Ntar, ayah beli". "Sekarang aja, supaya bendera bisa dipasang cepat ........ malu Ifa, pokoknya ayah beli cepat", ujar Ifa kembali sambil mau menangis. Ayahnya ................ 15-0, kalah telak. "Ya Nak, ayah mandi dulu, baru ayah pergi beli bendera". "Ndak usah mandi, lama nanti, sekarang aja", kata Ifa. Suami saya memandangi saya sambil ingin meminta "perlindungan" agar menyakinkan Ifa, setidaknya untuk mandi saja dahulu. Saya tersenyum .......... dan mengatakan, "Ifa betul, tak perlu mandi", sambil ketawa saya masuk lagi ke rumah.

Ya..... suami saya yang biasanya pintar merangkai kata-kata untuk meyakinkan orang dan suka berdebat, dan biasanya bisa meyakinkan anak-anaknya bahkan anak-anak kami terkesan "tak bisa berlantas angan" padanya. Suami saya menjadi "kartu truf" bagi saya bila Ifa atau Adek bertengkar dan sulit untuk dicegah, dan suami saya memiliki kemampuan antisipatif...... hickkks. Tapi pagi ini ia dikalahkan oleh sebuah "keluguan nasionalisme" dari sulungku, Ifa binti Ilham. Dan, ketika pagi jelang siang bendera mulai berkibar di depan rumah kami, Ifa-pun mulai tersenyum dan berkata pada ayahnya, "gitu dong" ......... dan ia kemudian main sepeda lagi sambil "memberitahukan" kepada teman-temannya bahwa ia dan ayahnya adalah "nasionalis sejati". DIRGAHAYU KEMERDEKAAN INDONESIA.

Sabtu, 15 Agustus 2009

Semoga Negara Tak Melupakan Anak-Anak "Mereka"

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Saya masih ingat, malam itu beberapa hari yang lalu dikala kota Padang diguyur hujan nan lebat, sekitar Jam 11 malam, saya bersama suami menonton TVOne. Berdua. Serius sambil makan kerupuk kentang yang sorenya saya buat. Anak-anak saya, Ifa dan Adek sudah tidur. Mereka nampaknya memberikan waktu bagi kami berdua untuk sekedar menonton TV dengan acara yang agak "serius". Entah kenapa, saya mulai asyik dan respek terhadap berita teroris. Suatu hal yang selama ini tidak ingin saya tonton, apatah lagi menyukainya. Diantara rentetan silih berganti, sambung menyambung dan berulang-ulang, berita tentang "Mengejar Teroris" a-la TVOne tersebut, ada satu tayangan yang membuat mata saya sabak-berair, ketika Suci Hani menaburkan bunga di pusara sang suaminya .... Ibrohim @ a'am @ boim ...... si kreator bom J.W. Marrit dan Ritz Carlton, 17 Juli 2009 yang lalu. Sabak mata saya bukan simpati pada Ibrohim ataupun Nurdin M. Thop dan anak cucu ideologinya. Untuk kasus ini, saya sudah diajarkan oleh suami sebuah parameter baku : "Islam itu Rahmatan lil 'Alamin ..... rahmat bagi seluruh alam". Dan saya agak "bodoh" untuk urusan wacana Islam Radikal ini dengan seluruh istilahnya. Bagi saya, kegiatan-kegiatan Thopian (ideologi Nordin M. Thop, kalau boleh saya mengistilahkanya dengan ini) di Indonesia belakangan ini, justru menggambarkan bahwa mereka telah mencederai keagungan Islam sebagai agama Rahmatan lil 'Alamin. Sabak mata saya ketika melihat seorang istri, pada malam hari ditengah-tengah pressure sosial dan sorot kamera bak "mata dewa medusa" menaburkan bunga di pusara suaminya, yang beberapa hari lalu tewas ditembak Tim Densus 88 Anti Teror di Desa Beji Temanggung, yang siangnya dikuburkan tanpa kehadiran keluarga, yang suaminya ditolak dikuburkan oleh warga kampungnya, yang anak-anaknya terus menanyakan keberadaan ayahnya, yang mungkin air matanya sudah tak bisa mengalir lagi secara alamiah. Ya.... saya tak bisa merasakan bagaimana pedih-perihnya hati seorang Suci Hani, istri Ibrohim@A'am@Boim.

Saya tak bisa bayangkan, bagaimana perkembangan psikologis anak-anak mereka. Saya tak bisa bayangkan, bagaimana sisa amunisi "kekuatan psikologis" yang harus dimiliki oleh wanita bernama Suci Hani ini untuk melangkah ke depan membimbing tangan-tangan mungil anak-anaknya. Sambil menghapus air mata, saya menoleh kepada suami saya yang diam-hening membisu kala itu, dan mulai berkata, "Ya Allah Rabbil 'Izzati, Dzat paling tinggi maha sayang lagi kasih, tempat bermanja hamba-hambanya ..... janganlah engkau hilangkan keinginan dari pemimpin negeri ini untuk memperhatikan anak-anak yang ayah mereka teroris tersebut..... anak-anak tersebut tak punya pilihan, seandainya mereka bebas memilih, tentu mereka ingin menikmati indahnya masa anak-anak mereka seperti anak-anak yang lain. Semoga Komnas HAM Anak-Anak lebih intens memperhatikan hak-hak mereka". Saya hapus air mata saya, lalu saya berkata kepada suami yang masih melongo melihat saya, "Bang, mencintai keluarga dan memberikan inspirasi terbaik bagi orang lain, itulah muslim yang sebenarnya. Semoga Indonesia tidak lagi memberikan cerita sedih seperti Suci Hani". Suami saya ketawa dan ia berujar, "I Love You Full".


Minggu, 09 Agustus 2009

Adek : Antara Mbah Surip dan Bom

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Dua minggu terakhir ini, kosakata yang paling laris di rumah kami, dan saya asumsikan juga laris dalam masyarakat, adalah "Mbah Surip" dan "Bom". Saking larisnya dua kosakata ini, membuat anak saya yang paling kecil-bontot, Adek, sering menggunakan kata-kata ini. Dalam cekramanya dengan sang kakak, Ifa, atau ketika bermain dengan teman-temannya di komplek perumahan kami, sering Adek secara lamat-lamat terdengar oleh saya berkata : "aaaaaaaaa, aaaaaaa, aaaaaaaaaaa, " pada teman-temannya. Awalnya saya dan suami agak merasa heran, mengapa Adek mengeluarkan kata-kata seperti itu pada teman-temannya. Tapi akhirnya saya sadar kembali, itu merupakan "brand"-nya Mbah Surip. Di rumah, Adek tidak begitu berani, apalagi sama ayahnya. Di rumah, Adek justru bercengkerama dengan ayahnya dengan "brand" Mbah Surip yang lain : "huaaaa .... haaa .... haaaa" dan ayahnya pun ketawa mendengar apa yang diekspresikan Adek. Luar biasa pengaruh media dan Mbah Surip. Kalau dulu, Adek menyukai Sule dan Olga, sekarang sudah berganti dengan Mah Surip, tapi lebih kepada penggalan-penggalan nyanyi "Tak Gendong" seperti "aaaaaaaaaa" dan "haaaaaaaa" tersebut.

Pagi tadi (Sabtu/8 Agustus 2009), ketika saya membersihkan pekarangan dan kebun samping rumah, Adek bersama Ifa bermain-main dengan sepeda bersama teman-temannya. Kebetulan, suami saya membelikan sepeda buat Ifa dan Adek (suami saya membelikan sepeda bukan karena permintaan "ngotot" dari Ifa untuk dibelikan sepeda, tapi memang keinginan suami saya untuk membelinya. Ia beranggapan, sepeda adalah refleksi skill, dan seorang anak harus mampu bersepada, sebagaimana halnya nanti ia akan membelikan gitar dan mengajarkan berenang). Ketika Adek, Ifa dan teman-temannya sedang asyik-asyiknya bersepada, dan ketika saya sedang asyik-asyiknya membersihkan kebun di pekarangan rumah ............ Adek menangis. Rupanya, ia tidak diberikan kesempatan oleh kakaknya mengendarai sepeda. Saya diam saja sambil melihat, bagaimana reaksi Adek pada Ifa. Adek terus menangis meminta agar dia diberi kesempatan untuk belajar mengendarai sepeda, tapi kakanya tetap tidak mau memberikan kesempatan itu. "Awas, nanti Adek beritahu sama Ayah", kata Adek. Ifa tetap diam dan terus mengendarai sepeda. "Nanti Adek minta uang sama Ayah, Adek tak kasih teta", kata Adek (dia memanggil kakanya dengan panggilan "Teta Ifa". Ifa tetap diam. Karena tak ada respon, Adek mengeluarkan potensi suara untuk menangis : "aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa", lantas teman-temannya bilang, "Adek mirip Mbah Surip", sambil tertawa. Karena kesal diejek, akhirnya Adek pergi ke arah saya sambil tetap menangis. Saya yakin, ia akan mengadu pada saya. Tapi tidak, ia hanya berdiri disamping saya, sambil mengusap air mata, ia kemudian menjerit pada kakak dan teman-temannya yang lagi mentertawakan Adek sambil mengeluarkan kata-kata, "Awas, nanti Adek Bom". Dan saya ........ terpana !!!!!

Senin, 03 Agustus 2009

Menjadi Pendongeng yang Ekspressif

Ingatkah Anda saat si kecil menyodorkan buku cerita dan meminta Anda membacakan cerita saat ia hendak tidur? Manfaatkan momen seperti ini, tak hanya makin mendekatkan hubungan Anda dengan anak, tetapi juga memberikan pendidikan baginya. Sebab, para ahli berpendapat bahwa dongeng dapat menjadi salah satu media yang efektif dalam mendidik anak. Namun, bagaimana cara mendongeng yang benar agar pesan dapat tersampaikan dengan benar? Kak Kusomo yang dikenal sebagai raja dongeng membagi beberapa tips cara mendongeng yang baik :

1. Pendongeng harus ekspresif. Untuk menarik perhatian anak, seorang pendongeng harus dapat berekspresi dan enerjik. “Kalau pendongeng lemas dan datar dalam mendongeng, mana ada anak yang mau mendengar,” ujar Kak Kusomo. Menurutnya, dalam mendongeng harus ada perubahan intonasi, mimik wajah, dan gerakan tubuh. “Oleh karena itu, untuk menjadi pendongeng ekspresif, mimik wajah, intonasi, dan bahasa tubuh harus terus dilatih.”

2. Banyak membaca. Menurut Kak Kusomo, seorang pendongeng harus mempunyai banyak cerita. Pasalnya, anak akan bosan jika terus-menerus mendengar cerita yang sama. “Perbanyaklah membaca cerita-cerita rakyat atau literatur lain. Dengan begitu, pendongeng juga dapat berimprovisasi dalam mendongeng,” tutur Kak Kusomo.

3. Memilih cerita yang mempunyai pesan. Tidak semua cerita rakyat mempunyai pesan moral yang bagus bagi anak-anak. “Ada beberapa cerita rakyat yang tidak cocok untuk anak, misalnya tentang perang saudara dan lain-lain. Jadi pilihlah cerita-cerita yang pesan moral atau budayanya dapat ditiru anak,” lanjutnya.

4. Sesuaikan dengan usia anak. Kak Kusomo menuturkan tiap-tiap tingkatan umur. Untuk umur di bawah 5 tahun, dongeng yang cocok adalah mengenai lingkungan, seperti cerita hewan atau tumbuhan. Pada umur 5-7 tahun, anak boleh mulai dikenalkan dengan cerita rakyat. Selanjutnya, anak pada umur 9-12 tahun cocok dengan cerita mengenai fiksi, seperti petualangan. Usia maksimal anak diberi dongeng adalah umur 12 tahun. Setelah itu anak perlu dirangsang dengan metode cerita bersama, seperti diskusi. (Sumber : kompas.com)

Jumat, 17 Juli 2009

Jakarta "Meledak" Lagi

"Jakarta meledak lagi", demikian penggalan nyanyian Kaka "Slank" yang menjadi musik pengiring Breaking News Metro TV. J.W. Marriot dan Ritz Carlton pun menjadi pusat perhatian dunia. Jum'at, pukul 06.46 dan 06.48 menjadi waktu "keramat" yang membuat Indonesia kembali kehilangan kepercayaan dunia. Terorisme Thopian (pengikut Noordin M. Thop), menjadi kesimpulan awal dan terkuat dalam menyimpulkan subjek pelaku dibalik peristiwa ini. Walaupun pernyataan Presiden SBY dan kemudian diperkuat oleh "ompung" Syamsir Siregar (Kepala Badan Intelijen Negara) yang tidak menunjuk kelompok tertentu (baik agama ataupun partai politik), namun nuansa "Islam garis keras" sebagai subjek pelaku sudah menjadi opini yang terbentuk, mulai dari pendapat para pengamat yang "samar-samar" maupun diskusi "kelas" kedai kopi di pelosok negeri. Genderang perang dengan mantra "persumpahan SBY" hari Jum'at lalu, nampaknya memberikan kepada kita sebuah kenyataan bahwa peristiwa tersebut sungguh sangat menyakitkan bagi kita. Proses membangun kepercayaan internasional akhirnya terkesan hampa-tak bermakna.




Kamis, 09 Juli 2009

Sulungku "IFA" Masuk Sekolah Dasar

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Alhamdulilllah, sulungku Ifa tamat dari TK Bundo Kanduang dalam usia 6 tahun kurang 1 bulan. Baru kemaren, rasanya saya berjuang melahirkannya, baru kemaren rasanya saya melihat celoteh kecilnya - menyusun kata-kata untuk sekedar menampaikan sesuatu kepada saya, baru kemaren rasanya ifa menangis karena takut masuk TK. Hari ini, gadis kecil mungilku nan cantik, Ifa Ilham, telah menyelesaikan salah satu tanggung jawabnya -- menamatkan pendidikannya di TK, dan ia memberikan kepada kami satu hadiah ......... "ijazah TK Bundo Kanduang". Saya simpan dengan baik sebagaimana saya menyimpan seluruh "karya akademiknya" seperti coretan-coretan kertas gambar sejak ia kali pertama mengenal warna dan huruf. Saya simpan dalam blog pribadinya (dan juga blog pribadi adiknya). Ini akan menjadi "record-history" kehidupannya kelak.

Ifa begitu bahagia ketika saya mendaftarkannya ke sekolah disamping komplek : SEKOLAH DASAR Negeri 51 Kuranji Padang. Sekolah negeri yang didalamnya berkumpul teman-teman sepermainan Ifa "alumni TK Bundo Kanduang". Banyak teman-teman saya, terutama di komplek yang bertanya-tanya, "mengapa Ifa tidak dimasukkan ke Sekolah Dasar di tempat saya ?" (maksudnya SD Citra Al Madina yang favorit tersebut). Mengapa harus di SD Negeri yang gratis ? Bahkan sambil bergurau, salah seorang teman mengatakan bahwa Ifa mengambil hak orang lain yang seharusnya mendapatkan Sekolah Gratis. Ifa menurut mereka bisa masuk SD Citra Al Madina. Kebetulan SD Negeri 51 Kuranji hanya menerima 2 lokal sehingga banyak diantara anak-anak teman-teman saya di sekitar komplek yang tidak bisa masuk. Memang, secara pribadi saya berkeinginan memasukkan anak saya ke SD berkualitas seperti SD Citra Al Madina. Apalagi, SD tempat Ifa sekolah sekarang ini, jumlah satu lokal sekitar 40 orang. Saya tidak bisa membayangkan out-put yang dihasilkan dari kondisi ini. Harusnya, Ifa dimasukkan ke SD Citra Al Madina atau SD lain yang tidak "seekstrim" SD Negeri 51 Kuranji (40 orang satu lokal sederhana). Walaupun uang masuk dan uang sekolah SD Citra Al Madina sangat besar bagi kami, namun kami yakin Allah SWT. akan memberikan jalan. Tetapi suami saya punya perspektif lain. Semua ini bukan karena faktor dana (karena Sekolah Gratis). Suami saya beranggapan bahwa Ifa butuh lingkungan awal yang bisa memberikan padanya model sosial yang variatif. Dari SD seperti SD Negeri 51 Kuranji ini, Ifa akan menemukan model-model sosial, relasi-relasi sosial serta proses interaksi sosial yang lebih dinamis (karena mayoritas terdiri dari anak-anak yang orang tua mereka dari kalangan menengah ke bawah). Ini akan berpotensi memberikan kecerdasan sosial dan kepedulian sosialnya serta kemandirian personal. Suami saya mengakui, mungkin dari aspek kualitas sangat jauh dari SD Citra Al Madina (maklum ..................... sekolah negeri, gratis lagi). Namun, suami saya yang merupakan produk SD kelas kampung ini justru mengatakan : "pengasahan dan mempotensialkan potensi intelektual anak, 40 % yang bisa diharapkan dari Sekolah, yang 60 % lagi, tugas kita sebagai orang tua mengasahnya di rumah). Karena itulah, saya sekarang mulai mempersiapkan kelas tersendiri untuk anak saya Ifa di rumah. Saya bertekad, saya akan menyisihkan 2 jam setiap malam, untuk menjadi "mitra-diskusi"nya. Saya dan suami juga akan "menghormati" dunia anak-anaknya bersama-sama dengan teman-teman bermainnya. Biarlah ia "jatuh-bangun dan bertengkar" dengan teman sebayanya ketika bermain karena dari itu nanti ia akan mendapatkan proses pembelajaran. Kemudian, setiap sore siap ashar, saya akan usahakan cepat untuk pulang ke rumah, hanya sekedar untuk memakaikan jilbab padanya ..... karena Ifa mau pergi ke Musholla - belajar ngaji (saya berfantasi, sulungku ini memiliki suara indah dalam Tilawatil Qur'an). Suami saya bahkan mendaftarkan Ifa Les Bahasa Inggris untuk anak-anak di salah satu lembaga Bahasa Inggris berkualitas di Kota Padang (kelas sabtu/minggu). Ia begitu berfantasi agar Ifa bisa menikmati bahasa lain selain bahasa ibu-nya. Selamat memasuki dunia Sekolah Dasar anakku. Ayah dan Ibu siap menjadi "mitra-diskusi" mu. Ayah dan Ibu siap menjadi temanmu. Ayah dan Ibu siap mendengarkan keluhan dan kegiranganmu.

Kamis, 18 Juni 2009

Anakku ..... Kamu Ingin Tahu tentang Ayah ?

Oleh : Ayah IFA & ADEK

............. dalam mata nan sabak, ayah-pun menulis :

Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun dan (tapi) selalu membutuhkan kehadirannya. Ayah hanya menyuruhmu mengerjakan pekerjaan yang kamu sukai. Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar. Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret.

Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya pergi bermain dengan teman-teman mereka. Karena dia sadar itu adalah akhir masa kecil mereka. Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tahu bahwa ibumu hamil, tapi begitu kamu lahir, ia mulai membuat revisi (waktu ibumu hamil ..... ayah keliling Kota Padang, mencari perumahan yang baru dibangun, ayah ingin beli rumah mungil untuk kamu, karena ayah tahu bahwa sebuah rumah milik kita sangat kamu butuhkan). Ayah mungkin tidak tahu jawaban segala sesuatu, tapi ia membantu kamu mencarinya. Ayah mungkin tampak galak di matamu, tetapi di mata teman-temanmu dia tampak lucu dan menyayangi.

Ayah selalu senang membantumu menyelesaikan PR, kecuali PR matematika terbaru. Ayah lambat mendapat teman, tapi dia bersahabat seumur hidup. Ayah benar-benar senang membantu seseorang… tapi ia sukar meminta bantuan. Ayah sangat senang kalau seluruh keluarga berkumpul untuk makan malam… walaupun harus makan dalam remangnya lilin karena lampu mati. Ayah paling tahu bagaimana mendorong ayunan cukup tinggi untuk membuatmu senang tapi tidak takut. Ayah akan memberimu tempat duduk terbaik dengan mengangkatmu dibahunya, ketika pawai lewat. Ayah tidak akan memanjakanmu ketika kamu sakit, tapi ia tidak akan tidur semalaman. Siapa tahu kamu membutuhkannya. Ayah menganggap orang itu harus berdiri sendiri, jadi dia tidak mau memberitahumu apa yang harus kamu lakukan, tapi ia akan menyatakan rasa tidak setujunya. Ia selalu berfikir dan bekerja keras untuk membayar spp mu tiap semester, meskipun kamu tidak pernah membantunya menghitung berapa banyak kerutan di dahinya. Bahkan dia akan senang hati mendengarkan nasehatmu untuk menghentikan kebiasaan merokoknya.. .. Ayah mengangkat beban berat dari bahumu dengan merengkuhkan tangannya disekeliling beban itu….

Ayah tidak pernah marah, tetapi mukanya akan sangat merah padam ketika anak gadisnya menginap di rumah teman tanpa izin. Ayah mengatakan “tidak apa-apa mengambil sedikit resiko asal kamu sanggup kehilangan apa yang kamu harapkan”. Pujian terbaik bagi seorang ayah adalah ketika dia melihatmu melakukan sesuatu persis seperti caranya. Ayah lebih bangga pada prestasimu, daripada prestasinya sendiri. Kalau tidak salah ayah pernah berkata :” kalau kau ingin mendapatkan pedang yang tajam dan berkwalitas tinggi, janganlah mencarinya dipasar apalagi tukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung dari pandai besinya. Begitupun dengan cinta dan teman dalam hidupmu, jika kau ingin mendapatkan cinta sejatimu kelak, maka minta dan pesanlah pada Yang Menciptakannya”. Dan untuk masa depan anak gadisnya ayah berpesan: “jangan cengeng meski kau seorang wanita, jadilah selalu bidadari kecilku dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak, jadilah wanita tangguh bagi laki-laki yang lebih bisa melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kau gantikan posisi Ayah di hatimu”. Bila kamu mendapatkan lelaki terbaik yang harus engkau cintai dengan hati, nak ...... jangan gantikan posisi ayah di relung hatimu nan terdalam. Dan terpenting adalah… Ayah tidak pernah menghalangimu untuk mencintai Tuhan, bahkan ayah akan membentangkan seribu jalan, seangkasa peluang dan selautan kesempatan agar kau dapat menggapai cintaNya, karena diapun mencintaimu karena cintaNya.

(Terinspirasi dari : sarirava.blogspot.com)

Minggu, 07 Juni 2009

Indonesia : Nomor 7 Pengakses Situs Porno

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Dari 1 miliar pengguna internet di dunia, Indonesia berada di peringkat tujuh negara pengakses situs porno. Peringkat itu jauh lebih baik dari 6 negara lain yang umumnya berada di Asia dan Afrika. Dalam kategori keyword “sex” yang acap dipakai dalam mesin pencari (semacam google dan lainnya), negara peringkat pertama yang paling banyak mengakses adalah Pakistan, lalu disusul India, Mesir, Turki, Aljazair, Maroko dan Indonesia. Di bawahnya ada Vietnam, Iran, dan Kroasia. Hal itu terungkap dalam Sosialisasi dan Workshop Sistem Informasi, Perangkat Lunak dan Konten yang diadakan Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) RI di Hotel Bumiminang, 22–23 April 2009. “Namun, posisi nomor tujuh itu, tidak bisa serta merta menganggap 20 juta pengguna internet di seluruh Indonesia adalah pengakses situs porno. Karena keyword (kata kunci) ’sex’ itu, tidak selalu berkaitan dengan pornografi,” jelas Kasubdit Konten Multimedia Depkominfo Selliane Halia Ishak dalam pemaparannya di hadapan peserta workshop yang dibuka Sekdaprov Sumbar Firdaus K itu. Fakta dari asumsi Selliane tersebut, terbukti untuk keyword pornografi yang lain, seperti kata “porn” dan “xxx”, tidak satupun Indonesia berada di peringkat 10 besar. Tempat pertama justru ditempati Afrika Selatan untuk keyword porn” dan Bolivia untuk keyword “xxx”.


Yang paling membanggakan adalah, dari 1 miliar pengguna internet pada 2008, Indonesia berada di peringkat 14 dunia atau 1,7% atau terbesar di banding negara Asia Tenggara lainnya. Tapi berada di bawah China (peringkat 2), Jepang (3), India (5), dan Korea Selatan (8). Itu artinya, internet sudah menjadi kebutuhan bagi sebagian besar rakyat Indonesia. “Menurut The Internet Economy Indicator, internet mempunyai nilai ekonomi yang besar dibanding asuransi maupun kendaraan sekali pun,” sebutnya. Pasalnya, tambah dia, internet mempunyai kekuatan dalam mengubah kultur (budaya). Seperti kultur pencarian (melalui googling), kultur sosial (melalui friendster, facebook, dan sebagainya). Selain itu, internet merupakan media murah dan efektif dalam penyebaran informasi, memengaruhi orang dan personal branding. Tapi untuk apa internet bagi pengguna di Indonesia? Yaitu, selain membuka pornografi, juga untuk game, chatting, buka email, situs social network dan download program bajakan. (dikutip dari : max/www.padang-today.com)

Jumat, 05 Juni 2009

Teh Hitam Buat Suamiku

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Dalam tulisan terdahulu, saya telah deskripsikan bagaimana manfaat Teh Bunga Rosella bagi kesehatan tubuh. Hingga hari ini, Teh Bunga Rosella tersebut, terus diminum oleh suamiku, yang memang memiliki hobbi minum Air Teh (terutama Teh Es ..... pakai Es, walaupun hari hujan, malam ataupun pagi...... katanya sangat nikmat). Mengingat penyakit Migrain dan rasa sakit pada pinggang serta persendian (akibatnya ia "mada" ..... sering mandi malam), maka saya mencari beberapa minuman herbal yang bernuansakan Teh, seperti Teh Bunga Rosella. Setelah beberapa bulan ini ia rutin meminum Teh Bunga Rosella, ia merasa terjadi pengurangan yang cukup signifikan pada rasa sakit di pinggang dan persendiannya. Sedangkan Migrain-nya, terjadi sedikit kemajuan, tapi tidak signifikan. Beberapa waktu lalu, melalui teman, saya diperkenalkan lagi minuman herbal yang bisa digunakan untuk mengantisipasi berbagai keluhan suami saya (Migrain dan Sakit pinggang tersebut)..... yaitu Teh Hitam.

Ketika saya komunikasikan dengan suami, ia setuju, bahkan karena mendengar kata "Teh" tersebut, ia antusias bahkan menambahkan, "boleh dong nanti diberi gula dan es". Saya bilang, "ndak usah, coba dulu tanpa gula apalagi es". Ia oke. Selanjutnya, saya beli 1 Kotak (seperti gambar), dan sejak 3 minggu lalu, suami saya mulai meminum teh hitam ini dengan sesekali tetap meminum Teh Bunga Rosella. Setelah 2 minggu berlalu, ia nampak gembira karena Migrainnya sudah mulai hilang, walaupun sedikit-sedikit ada "yang berkunjung". Bahkan ia mulai lagi melaksanakan aktifitas "maniak"nya -- membaca dan mengetik serta "ngetem" di depan komputer. Walaupun harganya cukup mahal, 1 Kotak Rp. 90.000,- (untuk 3 Minggu), dan bila dibandingkan dengan Teh Bunga Rosella yang hanya Rp. 15.000 Satu Dus Plastik yang bisa digunakan untuk 2 Minggu, tapi saya rasa hal ini tidak berarti bila dibandingkan dengan rasa sakit yang dialaminya. Apalagi sekarang, ia minum teh (pagi, siang atau malam) selalu dengan Teh Hitam dan Teh Bunga Rosella yang diimprovisasinya dengan gula dan sesekali es. Sekedar untuk pengetahuan, manfaat Teh Hitam cukup banyak.

(Saya sadur dari Tulisan di Kotak Teh Hitam), manfaat Teh Hitam antara lain : (1). Menurunkan aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah), (2). Membantu meningkatkan kesehatan tubuh dan stamina, (3). Membantu meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh, (4). Membantu meningkatkan metabolisme dan kekebalan tubuh, (5). Membantu melancarkan pencernaan dan air seni, (6). Mencegah migrain dan rasa pusing pada kepala, (7). Membantu menetralisir lemak dalam makanan, (8). Membantu menormalkan kadar gula darah dan kadar kolesterol, (9). Membantu menghentikan pendarahan dan pencegah infeksi, (10). Membantu melindungi tubuh anda dari bakteri dan virus, (11). Membantu menghambat penggumpalan sel-sel platelet darah, (12). Membantu menormalkan hyperfunction serta kelenjar gondok, (13). Membantu mengurangi kemungkinan terjadinya karies gigi dan penyakit gusi, dan (14). Membantu melawan osteoporosis dan pengapuran pada urat nadi.

Senin, 25 Mei 2009

Mengapa Harus Sule, Olga dan Ruben ?

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Adek…….. anak saya yang paling bungsu, ketika ditanya, “Siapa orang yang diidolakannya?”. Maka jawabannya membuat saya dan suami tersenyum dan terkejut – “Adek suka sama Sule, Olga dan Ruben”. Kesukaannya terhadap entertainer Indonesia yang akhir-akhir ini sedang naik daun, memiliki alasan. Setiap pulang dari Baby School jam 4 sore, ia kemudian main dengan teta-ya (panggilan kesayangannya terhadap kakaknya Ifa) di komplek bareng dengan anak-anak tetangga. Siap Maghrib, biasanya teta-nya akan belajar membaca atau Iqra’ dengan saya. Adek, biasanya mencari kesibukan sendiri seperti mewarnai atau main tali karet. Saya selalu membelikan majalah-majalah anak-anak yang khusus content-nya mewarnai. Namun ini tidak berlangsung lama, dan selanjutnya ia akan meminta untuk menonton TV. Selalu siap Maghrib. Alasannya sangat sederhana, jam-jam tersebut di Trans TV ditayangkan acara sinema-komedi ”OKB dan Opera van Java”. Bintang ”mercusuarnya” – Sule dan Olga. Ketika ayahnya memindahkan channel dengan segala daya upaya bujuk rayu, ia akan protes dengan tangisan yang berkepanjangan.

Ketika Adek bermain-main dengan teman-temannya di komplek, ia sering menyebut-nyebut Sule, Olga dan Ruben dalam komparasi-imaginatifnya. Ini sering terdengar oleh suami saya. Biasanya ia agak tersenyum kecut (terkadang ketawa seakan-akan menikmati improvisasi imaginatif Adek tersebut), walaupun saya tahu ia agak marah pada saya ataupun pada Adek mengapa ”harus Sule dan Olga” yang ditonton. Mengapa harus dua tokoh ”brilyan dalam dunia komedi Indonesia” ini yang diidolakan Adek. Namun, terkadang suami saya selalu bilang, kita tak bisa menyalahkan Adek ataupun TV, yang salah adalah kita (saya dan suami). Kita tidak bisa dan mampu memberikan idola alternatif yang sesuai dengan usia dan perkembangan kepribadiannya. Belakangan ini, saya mengorientasikan Adek untuk menonton sinetron Tarzan Cilik ataupun Si Entong. Saya juga melibatkannya untuk belajar bersama-sama dengan kakaknya. Siap maghrib, ia saya ajak belajar Asmaul Husna dengan nyanyian. Nampaknya ia sudah mulai menikmatinya. Saya juga mulai mengintesifkan membeli CD seperti CD Film Diego ataupun Ipin dan Upin. Sedikit demi sedikit, Sule-Olga dan Ruben sudah hampir hilang dalam improvisasi imaginatifnya.

Suami saya pernah cerita. Tahun 1980-an akhir ada satu Tabloid yang cukup digemari masyarakat. Nama Tabloidnya, Monitor. Dipimpin oleh seorang jurnalis pintar, Arswendo Atmowiloto. Tabloid ini pernah membuat geger ummat Islam Indonesia dengan Tajuk ”Idola Masyarakat Indonesia”. Iwan Fals Nomor Satu, Nabi Muhammad Nomor 8, dibawah Arswendo pula. Persoalannya adalah, mengapa Nabi Muhammad SAW. yang agung itu ditempatkan oleh Arswendo di peringkat 8. Ummat Islam Indoesia merasa dilecehkan. Monitor didemo, Monitor di caci, Monitor dibreidel dan Arswendo dipenjara. Kata suami saya, peristiwa ini memberikan kepada kita dua pelajaran berarti. Pertama, Arswendo salah karena menafikan aspek etika kewarganegaraan dan kesantunan dalam kehidupan beragama. Ia melecehkan ”perasaan” ummat Islam, walaupun secara metodologi keilmuan, Arswendo betul karena pendapatnya tersebut berdasarkan fakta keilmuan (angket/kuisioner). Namun, kebenarang ilmu harus berada dibawah kesantunan dan etika kemanusiaan. Kedua, peristiwa Monitor ini memberikan pelajaran paling berharga bagi ummat Islam Indonesia. Ummat Islam Indonesia gagal ”menghidupkan” ketokohan Nabi Muhammad dalam hati ummat Islam Indoesia. Kita (guru, dosen, orrang tua, tokoh-tokoh Islam), tidak mampu menjadikan Nabi Muhammad menjadi idola ummat. Buktinya, versi Monitor, ia berada di peringkat 8. Apalagi, tanyakan pada anak-anak, tahukah mereka tentang Fatimah, Khadijah ataupun Ali, Umar, Abu Bakar dan Utsman. Mereka mungkin lebih familiar dengan Luna Maya, Olga ataupun Sule dan Ruben – sebagaimana yang terjadi pada Adek. Akhirnya, saya dan suami sepakat, apabila Adek mengidolakan Sule, Olga dan Ruben, maka saya dan suami adalah orang yang bertanggung jawab penuh karena tidak mampu memberikan idola komparatif yang lebih sesuai dengan latarnya. TV dan lingkungan tidak salah. Itu adalah tantangan. Karena itu, apa yang tejadi pada Adek, memberikan sebuah pelajaran berarti bagi kami suami istri.

Foto Adek dengan teman-temannya di "Baby School" Bundo Kanduang Belimbing. Adek di depan Nomor 3 dari kiri (lagi mengunyah makanan, Adek kurang cantik nampaknya).

Kamis, 14 Mei 2009

AHMADINEDJAD : "Nominasi Idola Anak-Anakku"

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Dengan latar belakang ilmu tarbiyah dan berkecimpung dalam dunia anak-anak, rasanya saya tidak memiliki pengetahuan yang lumayan tentang biografi orang-orang terkenal apalagi tentang ilmu politik. Entah kenapa, untuk yang terakhir ini (politik), saya sedikit apriori. Apalagi tentang politik internasional. Saya tidak mau mendikotomikan diri : barat-timur, Sunni-Syiah apatah lagi Amerika Serikat - Anti Amerika Serikat. Disamping pengetahuan saya tentang hal ini "sangat luar biasa dangkal", arahan agar dewasa dalam berfikir oleh suami juga membentuk pola pikir saya. Pada prinsipnya saya tak mau menghabiskan waktu dan energi untuk mendikotomikan hal tersebut. Saya hanya ingin menjadi "hamba Allah" yang baik, bekerja dengan ikhlas dan mengabdi pada keluarga (jadi ibunda yang baik bagi anak-anakku serta istri bermartabat bagi suamiku) dan pengabdian tulus buat profesi. Sehingga tidaklah mengherankan, apabila saya tidak memiliki idola "tokoh-tokoh dunia". Namun, ketika suami saya mengenalkan beberapa tokoh "lintas ideologi keIslaman", menceritakan sisi-sisi baik mereka, saya juga agak tersentuh.

Suami saya banyak memiliki tokoh idola, dan biasanya selalu hanya untuk aspek tertentu saja. Kecuali Nabi Muhammad SAW. dan Ali bin Abi Thalib serta Umar bin Khattab, hampir tak ada idola suami saya yang sifatnya total. Ia mengagumi Mandela dengan konsistensi perjuangannya, Mama Theresa dengan "sifat malaikatnya", Che Guevara dengan idealismenya, bahkan Tan Malaka serta Muhammad Hatta untuk aspek prinsip hidup dan kepintarannya. Hampir tak ada artis/entertainer yang diidolakannya. Paling-paling Sir Alex Ferguson (karena ia pengagum berat klub bola Manchester United), atau kesukaannya terhadap karya seorang seniman/artis seperti ia sangat menyukai musik Kitaro, Enya dan Opick (dan ini biasanya diputar pada malam hari sewaktu ia membaca), dan belakangan ini ia menyukai musik dangdut-nya Ridho Irama........ sungguh sangat sulit menebaknya. Beberapa hari belakangan ini, saya diperkenalkan oleh Suami saya tentang Ahmad Ahmadinedjad, Presiden Iran yang "tegar, berani serta zuhud". Tentang Iran, saya tak banyak tahu. Paling-paling, sedikit tentang Khomeini, atau tentang Film "The Children of Heaven" yang mengharukan itu. Saya juga pernah melihat, ada foto Ali Shariati di Perpustakaan Pribadi kami yang bergandengan dengan foto Khomeini, Ulama-Ulama Minangkabau, Hatta, Tan Malaka, Habibie, SBY dan Albert Einstein serta William Stephen Hawkings. Saya pernah tanya pada suami saya, siapa Ali Shariati itu ? Ia menjawab, "Inspirator Revolusi Islam Iran, Idola saya ketika mempelajari sosialisme Islam". Kebetulan Skripsi Sarjananya tentang Filsafat Sejarah Ali Shariati. Kembali ke Ahmadinedjad....... saya disodori beberapa gambar yang membuat saya trenyuh. Seorang Presiden yang untuk aspek tertentu mempraktekkan kezuhudan Umar bin Khattab. Walaupun saya tidak mengidolakannya, tapi setidaknya, ada "tersangkut" pada hati saya kekaguman terhadap seorang hamba Allah, dalam posisi yang begitu banyak bujukan rayuan, masih bisa mempraktekkan kesederhanaan bersikap dan bertingkahlaku. Rasanya saya ingin mendedikasikan namanya buat nanti (Isya Allah) bila Allah menagmanahkan pada saya anak laki-laki. Sayang namanya tidak begitu menarik ...... tapi entah nanti, mana tahu, dengan kombinasi nama lain.


Mahmoud Ahmadinejad, ketika di wawancara oleh TV Fox (AS) soal kehidupan pribadinya: “Saat anda melihat di cermin setiap pagi, apa yang anda katakan pada diri anda?”. Jawabnya: “Saya melihat orang di cermin itu dan mengatakan padanya, Ingat, kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung jawab yang berat, yaitu melayani bangsa Iran”.


Saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan Ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang sangat tinggi nilainya itu kepada masjid2 di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan. Ia mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP, lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan 2 kursi kayu, meski sederhana tetap terlihat impresive. Di banyak kesempatan ia bercengkerama dengan petugas kebersihan di sekitar rumah dan kantor kepresidenannya. Di bawah kepemimpinannya, saat ia meminta menteri2 nya untuk datang kepadanya dan menteri2 tsb akan menerima sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan2 darinya, arahan tersebut terutama sekali menekankan para menteri2nya untuk tetap hidup sederhana dan disebutkan bahwa rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi, sehingga pada saat menteri2 tsb berakhir masa jabatannya dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak. Langkah pertamanya adalah ia mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977, sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran. Rekening banknya bersaldo minimum, dan satu2nya uang masuk adalah uang gaji bulanannya. Gajinya sebagai dosen di sebuah universitas hanya senilai US$ 250. Sebagai tambahan informasi, Presiden masih tinggal di rumahnya. Hanya itulah yang dimilikinya seorang presiden dari negara yang penting baik secara strategis, ekonomis, politis, belum lagi secara minyak dan pertahanan. Bahkan ia tidak mengambil gajinya, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya. Satu hal yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yg selalu dibawa sang presiden tiap hari selalu berisikan sarapan; roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya dan memakannya dengan gembira, ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden.



Saya ingin mengajarkan kepada anak-anak saya, bahwa manusia-manusia besar tersebut tidak hanya terdapat dalam novel, sinetron ataupun film. Dalam dunia nyata, dunia masa sekarang, dunia dengan tantangan "kekinian", masih ada tokoh-tokoh Islam yang pantas untuk diteladani.

Senin, 11 Mei 2009

Komunikasi Efektif : Belajar Mendengar Anak

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Salah seorang raja Arab Saudi, Sultan Faisal bin Abdul ‘Aziz (Almarhum), suatu waktu pernah berkata, “Kita diberi oleh Allah 1 mulut dan 2 telinga”. Artinya, mari kita lebih banyak belajar untuk “mendengar” dibandingkan terus-terusan “memerintah” ini dan itu. Terhadap anak, rasanya apa yang dikemukakan oleh Raja Faisal yang zuhud ini, pantas bagi kita sebagai orang tua untuk belajar “mendengarkan” anak. Dalam sebuah penelitian, orangtua biasanya berbicara tujuh kali dan mendengar satu kali. Ini harus dibalik menjadi berbicara satu kali dan mendengar tujuh kali. Karena pada dasarnya anak itu selalu ingin didengarkan. Orangtua perlu membentuk komunikasi yang efektif di antara sempitnya ruang waktu bersama keluarga. Komunikasi, sesungguhnya tidak hanya terbatas dalam bentuk kata-kata. Komunikasi, adalah ekspresi dari sebuah kesatuan yang sangat kompleks. Bahasa tubuh, senyuman, peluk kasih, ciuman sayang, dan kata-kata. Keluarga sebagai tempat berangkat dan kembali. Karena itu ketika ada waktu bertemu dengan seluruh anggota keluarga hendaknya manfaatkan dengan semaksimal mungkin. Kalau ada waktu bertemu, maka tingkat kesabaran orangtua harus lebih tinggi. Jangan sampai karena orangtua merasa capai, lantas marah dengan anak karena hal sepele. Karena kemarahan itu akan merusak komunikasi efektif.

Seni mendengarkan membutuhkan totalitas perhatian dan keinginan mendengarkan, hingga sang pendengar dapat memahami sepenuhnya kompleksitas emosi dan pikiran orang yang sedang berbicara. Bahkan, komunikasi yang sejati, sang pendengar mampu memahami apa yang terjadi atau yang dirasakan oleh lawan bicara meski dengan kata-kata yang sangat minimal. Dalam memecahkan berbagai masalah harus berdasarkan pada pertimbangan win-win solution. Artinya orangtua di sini tidak boleh otoriter, tapi harus melihat jalan terbaik untuk kedua belah pihak. Proses komunikasi efektif antara orangtua dengan anak, sangat membantu anak memahami dirinya sendiri, perasaannya, pikirannya, pendapatnya dan keinginan-keinginannya. Anak dapat mengidentifikasi perasaannya secara tepat sehingga membantunya untuk mengenali perasaan yang sama pada orang lain. Bagaimana, sudahkah kita menerapkan komunikasi efektif dengan buah hati? ............. saya dan suami, sedang berusaha untuk terus belajar, bagaimana untuk bisa "mendengar"kan apa yang dikatakan Ifa dan Adek.


Saya (sebelah kanan) bersama dengan seorang teman yang lagi asyik baca al-Qur'an d alam Acara MTQ Kepala Sekolah TK, SD, SLTP dan SLTA Se-Kota Padang. Walaupun tidak memperoleh juara..... ada kebahagiaan luar biasa telah bisa ikut.

Rabu, 29 April 2009

Bunga Rosella Buat Suamiku

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Suami saya memiliki kebiasaan yang disatu sisi sangat baik namun disisi lain justru kebiasaan tersebut membuat ia terkadang sakit....... maniak membaca dan "ngetem" di depan komputer. Saya sangat menyadari bahwa kebiasaannya ini sudah mendarahdaging padanya sejak kami belum menikah. Ayahnya (mertua saya : Almarhum), di kampung dulu dikenal sebagai seorang guru honorer yang memiliki bacaan "kelas tinggi" untuk ukuran kampung saya waktu tahun 1980-an/1990-an yaitu Majalah Tempo dan Panji Masyarakat, bahkan konon mertua saya ini juga memiliki buku-buku Soekarno (biografinya) serta buku-buku sosialis yang sangat banyak (maklum waktu beliau masih muda pernah menjadi Ketua Pemuda Marhaenis Kota Medan tahun 1960-an). Jadi, suami saya sejak kecil sudah "dipaksa" membaca bacaan-bacaan berat seukuran dia dan kampungnya. Bahkan, buku-buku Soekarno dan Sosialis sekalipun, sejak kecil dibacanya, termasuk buku-buku Hamka. Jadi tidaklah mengherankan apabila di perpustakaan kami, buku-buku mertua saya yang diberikannya kepada suami saya hampir 200 buah buku. Kebiasaan ini terus berlangsung hingga kini....... suami saya paling suka membaca buku (terutama buku Filsafat, Politik, Sejarah, Budaya dan Sosial). Di rumah kami ada 4 kamar (3 kamar tidur dan 1 kamar pustaka). Kamar pustaka tersebut cukup besar dan memuat hampir 4.000 (empat ribu) koleksi buku-buku suami saya.

Ketika kami sudah menikah, biasanya ia membaca pada jam-jam hening, antara tengah malam hingga jelang subuh, sambil mengetik ataupun main internet. Apalagi bila beliau sedang mempersiapkan bahan kuliah, penelitian ataupun menulis buku (hingga sekarang ia telah menghasilkan 7 buah buku). Kalau sekarang, ketika sore kami pulang (tapi ia sering pulang jelang Maghrib), ia biasanya terus ke Musholla, dan sampai jam 9 malam, ia akan duduk-duduk dengan teman-teman di komplek di kedai. Biasa ..... "maota politik". Beliau dari dulu hingga sekarang memang paling suka berkumpul-kumpul di kedai-kedai, baik di komplek perumahan kami ataupun ketika sedang di kampung. Ia paling suka diskusi dan berdebat (konon, tahun 1996, ia pernah menjadi Juara Debat Mahasiswa Tingkat Universitas Andalas). Setelah pulang ke rumah sekitar jam 9 malam, ia biasanya bercengkerama dengan anak-anak, tidak begitu lama. Setelah itu, ia akan membaca, mengetik dan sesekali menonton TV apabila ada acara Dialog/Berita ataupun Bola (beliau juga maniak bola.... idolanya dari dulu Manchester United). Bila ia tidak melakukan kegiatan luar seperti riset atau penelitian, kegiatan-kegiatan ini seperti rutin dilakukannya. Akibatnya, saya melihat bahwa ia sering pusing dan mengidap penyakit yang sering kambuh yaitu migrain. Akhir-akhir ini, migrainnya sering kambuh karena memang intensitas kegiatannya di kampus, penelitian dan kegiatan-kegiatan lainnya cukup menyita istirahatnya. Bila Migrainnya kambuh, saya terkadang kasihan melihatnya. Matanya sebelah kanan memerah dan berair seperti menangis. Kadang-kadang ia saya urut, tapi tak banyak membantu. Saya sering menasehatinya agar cepat tidur, istirahat ataupun kurangi membaca atau berada di depan komputer. Tapi dasar sudah talentanya, nasehat tersebut tidak pernah didengarnya. Bahkan terkadang dalam mata memerah dan berair itu, bila ada acara Today Dialog di Metro TV, ia akan "memaksakan" diri untuk menonton.

Belakangan ini, disamping Migrain, ia juga merasakan nyeri-nyeri di tulang ataupun pinggangnya setiap bangun pagi. Mungkin letih atau memang karea kebiasaannya yang tidak baik lainnya ..... suka mandi malam (biasanya habis pulang dari Musholla). Saya suruh ia sering ke klinik untuk chekup migrain dan rasa nyeri tersebut. Namun, hanya sekali dua.... itupun obat yang diberikan dokter jarang dimakannya dengan alasan "tidak mau sering mengkonsumsi obat-obat kimia". Kondisi ini akhirnya membuat saya berusaha mencari obat-obat herbal. Melalui seorang teman, akhirnya saya diberitahu tentang khasiat Teh Bunga Rosella. Saya promosikan pada suami. Ia oke. Saya beli di sebuah apotik di Simpang Anduring. Awalnya ia tidak begitu menikmati. Namun lama kelamaan, ia enjoy. Belakangan ini ia mengatakan bahwa rasa nyeri dan sakit di pinggang sudah jauh berkurang, tinggal migrain. Dan Alhamdulillah, ia sekarang rutin meminum teh Bunga Rosella itu.

Rosella, atau dalam bahasa latinnya - Hibiscus Sabdariffa Linn (cantik namanya yaa....) adalah tanaman dari keluarga sejenis kembang sepatu. Konon tanaman ini berasal dari Afrika dan Timur Tengah. Tanaman perdu ini bisa mencapai 3-5 meter tingginya dan bila sudah dewasa, tanaman ini mengeluarkan bunga warna merah. Bagian bunga dan biji inilah yang bermanfaat serta baik bagi kesehatan. Menurut Depkes RI (No. SPP. 1065/35.15/05), dalam setiap 100 gram Rosella mengandung 260-280 mg Vitamin C, D, B1 dan B2. Kandungan lainnya adalah 486 mg Kalsium, Omega 3, Magnesium, Beta Karotin serta Asam Amino Esensial (he...he....saya bukan ahli farmasi, saya salin saja dari kotak Teh Bunga Rosella yang saya beli di salah satu apotik untuk suami saya, jadi walaupun tak tahu kegunaan zat ini, setidaknya zat-zat tersebut baik bagi tubuh). Konon, bunga Rosella ini juga baik untuk pencernaan bila dikonsumsi. Dan zat-zat tertentu dalam kandungan bunga Rosella ini dipercaya mampu menangkal radikal bebas penyebab kanker, mencegah keropos tulang, dan untuk zat-zat lainnya juga bisa meremajakan sel tubuh serta melindungi tubuh dari inveksi kuman dan virus (Waaah, Allahu Akbar, ruaaar biasa). Jadi, rasanya saya tidak salah memberikan obat herbal-alamiah ini pada suami saya. Walaupun pada awalnya ia protes, tapi lama kelamaan karena ia merasakan ada kemajuan, justru ia terus yang selalu mengingatkan saya untuk selalu membeli bunga Rosella. Untuk ini pula, saya setiap pagi selalu "membekali"nya satu gelas besar (dari plastik) seduhan teh bunga Rosella bila ia berangkat ke kampus...... terus hingga tulisan ini saya buat. Nampaknya, ia senang dan tak keberatan.

Insert : Bunga Rosella (bahan teh Bunga Rosella)

Senin, 27 April 2009

EMMA YOHANNA : Anggota DPD RI (2009-2014)

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag
(Kepala TK-PAUD Citra Al Madina Padang)

Seketika Pemilu 9 April 2009 yang lalu selesai dilaksanakan, saya dan keluarga selalu mengikuti perkembangan angka demi angka perolehan suara, khususnya perolehan suara Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI). Ada rasa dag dig dug, karena memang salah seorang calon yang berkompetisi meraih gelar "senator" tersebut adalah Ibu Emma Yohanna, pimpinan Yayasan Pendidikan Citra Al Madina Padang. Hari demi hari, saya terus memantau perkembangan suara yang diperoleh "mami Emma" (demikian Ifa dan Adek memanggilnya). Alhamdulillah, akhirnya Ibu Emma Yohanna dapat meraih posisi nomor 2 dari 4 orang yang menjadi jatah Sumatera Barat untuk DPD RI dari Utusan Sumatera Barat.

Saya merasa bahagia, karena memang disamping memiliki ikatan emosional (beliau adalah pemilik serta pimpinan Yayasan Pendidikan Citra Al Madina), juga saya anggap sebagai orang tua saya. Saya dapat merasakan bagaimana kebahagiaan yang dirasakannya. Walaupun tugas berat menantinya, namun saya yakin, dengan kualitas dan kapabilitas yang dimilikinya, Ibu Emma Yohanna akan mampu berbuat. Walaupun saya sedih karena beliau "bukan lagi miliki kami seutuhnya", tapi sudah menjadi milik masyarakat Sumatera Barat. Ibu Emma, selamat berjuang. Anak-anak saya (Ifa dan Adek), juga merasa bahagia karena tetangga di kompleks saya selalu berkata kepada Ifa dan Adek, "Ifa, maminya mau pindah ke Jakarta, ya?". Ibu, selamat berjuang. Bahagia dan suka cita atas semuanya. Semoga sehat selalu.

Insert : Foto Emma Yohanna, Pemilik dan Pimpinan Yayasan Pendidikan Citra Al Madina Padang (Anggota DPD RI 2009-2014)

Jumat, 17 April 2009

PAUD Citra Almadina Padang : 1 diantara 10 PAUD Unggulan Nasional 2008/2009

Ditulis Ulang Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag
(Kepala Sekolah TK-PAUD Citra Almadina Padang)

PADANG EKSPRES - Februari 2009. Yayasan Pendidikan Citra Almadina di Jalan Purus I No 8A Padang peroleh sertifikat sebagai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) unggulan nasional dari Depdiknas RI. Citra Almadina menjadi satu-satunya lembaga pendidikan usia dini di Sumbar yang memperoleh penghargaan ini. Secara nasional Depdiknas hanya memilih 10 lembaga pendidikan terbaik. Kasubid Pembinaan Taman Penitipan Anak Direktorat PAUD Depdiknas Tuti Wahyuti, usai Launching TPA Pusat Unggulan PAUD Citra Almadina dan Workshop BCCT di kantor yayasan Citra Almadina, kemaren mengatakan terpilihnya yayasan ini melewati penyaringan yang ketat. Citra Almadina dinilai memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan Depdiknas sebagai PAUD unggulan di indonesia. “Yayasan ini akan menjadi pusat rujukan pendidikan usia dini di Sumbar. Dan sekaligus sebagai tempat melakukan uji coba dan magang,” kata Tuti.


Foto bersama majelis guru dengan anak-anak TK A (tidak termasuk TK B dan PG)

Majelis Guru dan Staff Administrasi PAUD (TK dan Play Group) Citra Al Madina Padang :
(Kiri-Kanan : Berdiri) Siska Maidona, Indra, Abdullah Ginting, Vivit, Yanti, Jameela dan Alitnawati.
(Kiri-Kanan : Duduk) Siska Rahayu, Lidya, Imla W. Ilham, Sophie, Riah dan Eri


Ketua yayasan, Ema Yohana yang didampingi oleh Kepala TK-PAUD Citra Almadina, Imla W. Ilham, S.Ag mengatakan, Yayasan Citra Almadina terpilih sebagai PAUD unggulan pada September 2007 lalu. Sejak ditunjuk Depdiknas sebagai PAUD unggulan, Citra Almadina telah melakukan program-program ungulan pendidikan anak usia dini. Seperti penerapan Beyond Centres and Circle Times (BCCT). “Bentuknya saat ini kita menggelar workshop BCCT untuk pengelola taman penitipana anak (TPA). Sebelumnya Desember lalu, juga sudah digelar workshop BBC untuk guru-guru playgroup,” jelasnya.


Acara yang dibuka secara resmi oleh Kadis Pendidikan Sumbar Burhasman Bur ini diikuti 50 peserta dari Kota Padang dan Kabupaten/kota di Sumbar lainnya. Dalam sambutannya, Burhasman mengatakan, pendidikan usia dini harus diperhatikan lebih. Harus ada sentuhan pada tingkatan pendidikan ini, soalnya PAUD adalah dasar dari kecerdasan anak di masa depan. Dalam konsep ini guru-guru menghadirkan dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Hasilnya, siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses mencoba sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat sekarang dan kelak.

Salah satu kegiatan anak TK-PAUD Citra Al Madina Padang (Outing) ke LANUD Tabing Padang


Rabu, 15 April 2009

Sekolah dan Perjuangan Anak-Anak di China Barat

Di negara China bagian barat tepatnya di desa Gulucan, setiap hari anak-anak usia sekolah pergi dan pulang hanya melewati satu-satunya jalan saja, yaitu jalan terjal dipinggang gunung yang curam, riskan dan sungguh menakutkan (setidaknya bagi anak-anak dan orang tua seperti saya). Coba sekarang lihat gambar-gambar dibawah & bayangkan bagaimana perjuangan mereka untuk sampai ke sekolah..... dan mereka itu masih anak-anak. Mereka bukan hanya berjuang untuk mengatasi kebodohan, tapi juga "dipaksa" oleh alam untuk berjuang mengatasi rasa takut. Sungguh, alam juga memberikan media pembelajaran. Berangkat dari rumah, dalam perjalanan hingga sampai ke sekolah. Kemudian pulang sekolah mereka akan pulang ke rumah melewati jalan yang sama ..?


Sumber : www.unesco.com


Jatuh Cinta (Again) Pada Suami

Diedit ulang dari Kompas.Com oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Ada perbedaan mendasar antara jatuh cinta (in love), dengan mencintai (to love) seseorang. Jatuh cinta sifatnya hanya sesaat. Itulah saat di mana kita berdebar-debar menanti telepon seseorang, menunggu kehadirannya, membuat kita jadi lupa makan atau enggan tidur karena tidak ingin kehilangan waktu bersamanya. Inilah perasaan awal yang kita alami terhadap seseorang. Sedangkan mencintai adalah tahap lebih lanjut, setelah kita betul-betul mengenalnya, dan menerima segala kelebihan dan kekurangannya. Banyak di antara kita yang awalnya menikah tanpa perasaan cinta pada suami. Kita menikahinya karena merasa ia adalah pria yang baik, memiliki visi yang sama mengenai masa depan, dan mempunyai sifat-sifat atau karakter yang dapat melengkapi diri kita. Meskipun kita tidak pernah jatuh cinta padanya. Kita tidak merasa berdebar-debar menunggu kehadirannya. Kita hanya menyayanginya, karena telah menemani hidup kita sehari-hari.


Namun setelah menikah, dan semakin lama Anda mengenalnya, semakin Anda dapat melihat sisi-sisi baik dirinya yang lain. Suami ternyata seseorang yang selalu ingin menyenangkan hati Anda. Ketika Anda bangun pagi di hari Minggu, ia tersenyum pada Anda dan menanyakan apa yang Anda inginkan untuk sarapan. Ia tak keberatan membatalkan janji untuk hangout dengan teman-temannya, karena Anda sedang membutuhkannya. Ia selalu memuji dan menghabiskan masakan Anda, meskipun Anda tahu masakan Anda tidak seenak buatan ibunya. Ia selalu menghargai semua jerih payah Anda menata rumah, meskipun hal itu kadang tak sesuai dengan seleranya. Ia juga selalu mengatakan bahwa Anda tetap seksi, sekalipun Anda mengeluh bokong Anda tak lagi sekencang sebelum melahirkan buah hati Anda. Karena sikap-sikapnya itu, perlahan-lahan mulai tumbuh perasaan yang lebih dalam terhadap suami. Ketika ia sedang terlelap di samping Anda, Anda menyadari betapa cintanya pada Anda tak berubah setelah bertahun-tahun. Ketika ia sedang terbaring sakit di rumah sakit, Anda menyadari bahwa Anda tak siap jika harus menjalani hidup Anda sendirian tanpa kehadirannya. Tanpa Anda sadari, Anda sering merindukannya ketika ia sedang bertugas ke luar kota. Anda merasa berdebar-debar ketika ingin memberinya kejutan di hari ulang tahunnya.


Itulah saat ketika Anda sedang jatuh cinta pada suami Anda. You’re in love with your husband. Anda merasakan sesuatu hal yang tak Anda alami ketika masih berstatus pacar. Berbahagialah bila Anda mengalami hal ini. Perasaan cinta yang tumbuh perlahan seperti ini akan semakin kuat, berbeda jika Anda jatuh cinta pada pasangan sebelum menikah. Ketika perasaan berdebar-debar itu mulai memudar seiring usia pernikahan Anda, hubungan Anda dan suami mulai kering, datar, tak menggairahkan lagi. Lebih parah lagi ketika akhirnya Anda melihat sifat-sifat asli yang tak ditunjukkannya dulu. Bila Anda pun ingin merasakan jatuh cinta pada suami, ada beberapa hal yang perlu Anda lakukan. Anda memang tidak akan melihat hasilnya dalam sekejap, karena hal ini membutuhkan kerelaan Anda:


1. Kenalilah dirinya lebih jauh. Perhatikan hal-hal kecil yang dilakukannya, kata-kata yang diucapkannya, atau apa yang menjadikan dirinya seperti sekarang. Mintalah mertua Anda menceritakan bagaimana suami Anda waktu kecil. Dengan menggali sisi lain dirinya, Anda akan menemukan lebih banyak sifat-sifat baiknya yang sebelumnya tidak Anda sadari.


2. Tulislah sisi-sisi baiknya dalam kepala Anda, dan lihat bagaimana sifat tersebut memengaruhi hubungan Anda. Ia seseorang yang selalu mengalah, dan ketika akhirnya ia marah karena sesuatu yang Anda lakukan, Anda sadar bahwa selama ini Anda bersikap egois padanya. Hal ini akan menumbuhkan rasa syukur bahwa ia mampu membuat Anda menjadi lebih baik.


3. Bukalah diri Anda. Jika ia ingin mengantarkan Anda ke suatu tempat meskipun Anda merasa sanggup berangkat sendiri, terima saja tawaran tersebut. Anda mungkin tidak menyadari bahwa hal ini akan membuatnya tenang, karena istrinya telah sampai di tempat tujuan dengan selamat. Sebagai imbal baliknya, tawarkan apa yang dapat Anda lakukan untuknya. Anda akan sadar, sangat menyenangkan membuat dirinya senang.


4. Terimalah apa yang menjadi kelemahannya. Ketika Anda mengetahui apa yang menjadi penyebab kekurangan dirinya, Anda tidak lagi berusaha menyerangnya, melainkan justru ingin membantunya. Misalnya, ia seorang yang tidak percaya diri karena orangtuanya tidak pernah memuji perbuatannya, atau hasil karyanya waktu kecil. Pujilah dia, seperti dia memuji Anda.


Nah, bila Anda tidak merasakan cinta yang mendebarkan seperti yang dialami teman-teman waktu kuliah dulu, Anda mungkin hanya belum melewati masa-masa itu. Kelak Anda pun akan menyadari bahwa suami begitu lovable. Betapa ia seorang yang begitu mudah mencintai dan dicintai. Anda hanya perlu melihat sisi lain dirinya dengan lebih dekat.


Minggu, 12 April 2009

Menjawab dengan Menumbuhkan Imajinasi Anak

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag (Kepala TK-PAUD Citra Al Madina Padang)

Saya ingat lebih kurang empat tahun lalu, ketika saya mengandung Adek (lagi berat-beratnya lho), anak saya IFA menanyakan : “Ibu, adik sekarang sedang apa dalam perut ibu ? Perut ibu kan sempit, pasti adik tak bisa bermain-main seperti IFA”. Bingung juga saya menjawab pertanyaan anakku yang saat itu baru berumur sekitar 2 tahun lebih sedikit. Akhirnya, saya jawab saja dengan menumbuhkan imajinasinya. Memang ada kesan bohong, tapi bila saya jawab dengan jawaban yang sebenarnya, IFA pasti tidak memiliki kemampuan mencerna dan memahami. Saya yakin, akan timbul pertanyaan selanjutnya yang justru berpotensi akan membuat saya kelabakan untuk menjawabnya. Ya… saya bangkitkan imajinasi IFA dan mengatakan bahwa adiknya sekarang sedang bermain sebagaimana halnya IFA bermain di rumah.


Apa pentingnya imajinasi untuk anak? Bukankah itu hanya membuang waktunya dengan lamunan-lamunannya saja yang tak pernah mungkin akan terjadi? Pertanyaan tersebut pasti muncul di benak anda bila anda belum paham apa imajinasi yang boleh dan tidak boleh dia lalukan. Menurut saya imajinasi menumbuhkan daya pikir kreatif anak untuk bisa mengembangkan kecerdasaanya sehingga dia akan berpikir kritis dan selau memiliki second opinion terhadap apa yang dia lihat dan rasakan serta berpikir bahwa selain yang dia lihat mungkin ada yang belum dia lihat yang bisa saja yang membuat hal ini terjadi. Atau intinya mengajarkan sia anak agar mampu keluar dari satu pikiran atau pendapat (out of the box) yang bisa membawa lebih dari satu kemungkinan yang bisa terjadi. Yah memang bila anak anda berpikir atau berimajinasi menjdi superman, ultraman, power rangers, dll tentunya hal tersebut membuat dia lupa waktu tetapi bila dia berimajinasi tentang masa depanya apakah hal tersebut tidak penting? Misal dia ingin menjadi dokter bila dewasa nanti agar bisa mengobati mama dan papa bila sakit, atau dia ingin menjadi presiden sehingga dia bisa membantu dan memperjuangkan orang-orang miskin, atau dia berharap bisa menjadi astronaut sehingga bisa jadi ilmuan dan pergi ke bulan, dsb. Tentunya imajinasi yang baik akan menjadikan dia berpikir untuk meraih apa yang dia inginkan.

Apapun imajinasi mereka yang saat ini dia khayalkan adalah buah dari informasi yang dia dapatkan selama ini. Tanpa informasi yang dia dapatkan maka mustahil dia bisa melakukan imajinasi sesuatu yang sama sekali dia belum pernah lihat tau atau rasakan sebelumnya. Jadi imajinasi yang mereka lakukan adalah bersumber dari informasi yang dia dapatkan sebelumnya, bila informasi yang anda berikan adalah tentang dunia real dan mencerikatan apa dan bagaimana sesuatu yang bisa terjadi dan baik maka dia akan mulai berimajinasi dengan sesuatu yang bisa saja terjadi bila dia berusaha sesuai dengan yang anda ceritakan kepadanya. Tetapi sebaliknya jika anda memberikan informasi tentang hal-hal yang sifatnya hanya khayalan dan tidak pernah akan terjadi walaupun dia berusaha sekuat apapun tentunya dia akan berkhayal hanya pada area yang bisa dia jangkau walaupun dia tahu itu tak akan pernah terjadi. Terangkan apa yang boleh dan tidak boleh dia khayalkan dan bagaimana cara untuk bisa menjadi sesuatu yang dia harapkan dalam khayalannya tersebut dapat menjadi kenyataan.


Jumat, 03 April 2009

Paling Sulit Disembuhkan : "Syaraf Otak karena Sering Menonton Pornografi"

Ditulis Ulang Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag

Peringatan keras bagi penghobi tayangan porno. Ahli bedah saraf dari San Antonio, AS, Donald Hilton Jr MD, membeberkan kerusakan otak karena kecanduan pornografi dalam diskusi memahami dahsyatnya kerusakan otak akibat kecanduan pornografi dan narkoba dari tinjauan kesehatan di Departemen Kesehatan. Menurut pakar neuro science dari Metodist Speciality and Transplant Hospital San Antonio itu, sejatinya semua kecanduan (adiktif) berpengaruh terhadap kerusakan otak. Misalnya, kecanduan makanan (obesitas), judi, narkoba, maupun pornografi. Hanya, tingkat kerusakan otak akibat kecanduan pornografi dinilai paling tinggi. Jika dibiarkan, hal itu bisa mengakibatkan penyusutan (pengecilan) otak. Ujung-ujungnya, terjadi kerusakan otak. Permanen dan tidaknya kerusakan tersebut bergantung intervensi medis yang dilakukan.


Hilton menyatakan, penyusutan otak bisa berangsur-angsur kembali normal asalkan dilakukan pengobatan secara intens. Setidaknya dibutuhkan waktu sekitar 1,5 tahun. Sebab, pada dasarnya, otak terus mengalami regenerasi jaringan. ”Dengan demikian, otak yang mengecil itu bisa kembali lagi. Namun, cepat atau lambatnya pemulihan tersebut bergantung kasus kecanduan yang diderita. Kerusakan otak akibat kecanduan makanan (obesitas) maupun drugs cenderung lebih mudah diatasi ketimbang pornografi. Ada perbedaan antara otak yang sudah kecanduan terhadap sesuatu dan yang tidak. Otak yang telanjur kecanduan memiliki mekanisme kontrol yang kecil terhadap rangsangan. Sebaliknya, otak yang belum kecanduan masih memiliki kontrol yang besar untuk mencegah perintah agar tidak kecanduan.

Berdasar hasil penelitian yang dilakukan Hilton bersama istrinya, di antara semua kasus kecanduan, pornografi merupakan salah satu yang tersulit. Bahkan melebihi kecanduan obat. Menurut dia, mayoritas anak maupun remaja mengonsumsi tayangan pornografi dari internet. Lantaran masukan itu hanya datang satu arah atau tanpa melalui diskusi maupun saringan dari orang tua, anak cenderung menerima informasi tersebut secara mentah. Di AS, 10 persen anak muda mengakses situs pornografi.

(Sumber : www.jawapos.com)


Sungguh Indahnya Melahirkanmu .... Nak !

Anakku,…
Bila ibu boleh memilih
Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu
Maka ibu akan memilih mengandungmu…
Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah

Sembilan bulan nak,… engkau hidup di perut ibu
Engkau ikut kemanapun ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman, karena ibu kecewa dan berurai air mata…

Anakku,…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi caesar, atau ibu harus berjuang melahirkanmu
Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat ibu rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua
Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit,
Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun

Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia
Saat itulah… saat paling membahagiakan
Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah,
Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan,
Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah di telinga mungilmu

Anakku,…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah, atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu,
Maka ibu memilih menyusuimu,
Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada ibu dalam kantuk ibu,
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan

Anakku,…
Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat
Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu

Tetapi anakku…
Hidup memang pilihan…
Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan merana
Maka maafkanlah nak…
Maafkan ibu…
Maafkan ibu…
Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita,
Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang
Percayalah nak…
Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu
Percayalah nak…
Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu…
(Dikutip dari Bila Ibu Boleh Memilih, kumpulan puisi hati Ratih Sanggarwati)

Insert :
Foto IFA dalam gendongan ibu ketika selesai aqiqah (umur 21 hari)

Minggu, 29 Maret 2009

Tipe-Tipe Orang Tua

Ditulis Ulang oleh : Imla W. Ilham, S.Ag
(Kepala TK-PAUD Citra Al Madina Padang)

Kondisi ketidakpatutan dalam memperlakukan anak telah melahirkan berbagai gaya orang tua (Parenting Style) yang melakukan kesalahan 'miseducation" terhadap pengasuhan pendidikan anak-anaknya. Elkind (1989) mengelompokkan berbagai gaya orang tua dalam mengasuh anak, antara lain:

1. Gourment Parents (ortu borju)
Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses. Memiliki rumah bagus, mobil mewah, liburan ke tempat-tempat eksotis di dunia, dengan gaya hidup kebarat-baratan. Apabila menjadi orang tua maka mereka akan cenderung merawat anak-anaknya seperti halnya merawat karir dan harta mereka. Penuh dengan ambisi! Berbagai macam buku akan dibaca karena ingin tahu isu-isu mutakhir tentang cara mengasuh anak. Mereka sangat percaya bahwa tugas pengasuhan yang baik seperti halnya membangun karier, maka superkids merupakan bukti dari kehebatan mereka sebagai orang tua. Orang tua kelompok ini memakaikan anak-anaknya baju-baju yang mahal bermerk terkenal, memasukannya ke dalam program-program ekslusif yang prestisius. Keluar masuk restoran mahal. Usia 3 tahun anak-anaknya sudah diajak tamasya keliling dunia mendampingi orang tuanya. Jika suatu saat kita melihat sebuah sekolah yang halaman parkirnya dipenuhi oleh berbagai merk mobil terkenal, maka itulah sekolah dimana banyak kelompok orang tua gourment menyekolahkan anaknya.

2. College Degree Parents (ortu intelek)

Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang menengah keatas. Mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Sering melibatkan diri dalam berbagai kegiatan di sekolah anaknya. Mereka percaya pendidikan yang baik merupakan pondasi dari kesuksesan bidup. Terkadang mereka juga tergiur menjadikan anak-anak mereka superkids. Terkadang mereka juga memasukkan anak-anak mereka ke sekolah mahal yang prestisius sebagai bukti bahwa mereka mampu dan percaya bahwa pendidikan yang baik tentu juga harus dibayar dengan pantas. Kelebihan kelompok ini adalah sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang dilaksanakan di sekolah anak-anaknya. Dan dalam banyak hal mereka banyak membantu dan peduli dengan kondisi sekolah.

3. Gold Medal Parents (ortu selebritis)

Kelompok ini adalah kelompok orang tua yang menginginkan anak-anaknya menjadi kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering mengikutkan anaknya ke berbagai kompetisi dan gelanggang. Ada gelanggang ilmu pengetahuan seperti Olimpiade Matematika dan sains. Ada juga gelanggang seni seperti ikut menyanyi, kontes menari, terkadang kontes kecantikan. Berbagai cara akan mereka tempuh agar anak-anaknya dapat meraih kemenangan dan menjadi 'seorang bintang sejati'. Sejak dini mereka persiapkan anak-anaknya menjadi Sang Juara. Banyak kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku ambisi kelompok gold medal parents ini. Gold medal parents menimbulkan banyak bencana bagi anak-anak mereka!

4. Do it Yourself Parents
Merupakan kelompok orang tua yang mengasuh anak-anaknya secara alami dan menyatu dengan semesta. Mereka sering menjadi pelayan profesional di bidang sosial dan ibadah. Kelompok ini menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang tidak begitu mahal dan sesuai dengan keuangan mereka. Mereka juga bermimpi menjadikan anak-anaknya superkids. Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka diajak mencintai lingkungannya. Mereka juga mengajarkan merawat dan memelihara hewan atau tumbuhan yang mereka sukai. Kelompok ini merupakan kelompok penyayang binatang dan mencintai lingkungan hidup yang bersih.

5. Outward Bound Parents (ortu paranoid)
Mereka memprioritaskan pendidikan yang dapat memberi kenyamanan dan keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuan mereka sederhana, agar anak-anaknya dapat bertahan di dunia yang penuh permusuhan. Dunia di luar keluarga mereka dianggap penuh dengan marabahaya. Jika mereka menyekolahkan anak-anaknya maka mereka lebih memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati tempat-tempat tawuran yang berbahaya. Kelompok ini kadang terpengaruh dan menerima konsep superkids. Mereka mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang hebat agar dapat melindungi mereka dari segala mara bahaya. Terkadang memasukkan anak-anaknya mengikuti karate, yudo, pencak silat sejak dini untuk melatih kecakapan. Mereka terlalu berlebihan melihat marabahaya di luar rumah tangga mereka, mudah panik dan ketakutan melihat situasi yang selalu mereka pikir akan membawa dampak buruk kepada anak-anak. Akibatnya anak-anak mereka menjadi 'steril' dari lingkungannya.

6. Prodigy Parents (ortu instant)
Merupakan kelompok orang tua yang sukses dalam karier namun tidak memiliki pendidikan yang cukup. Mereka memandang kesuksesan mereka dibidang bisnis merupakan bakat semata. Oleh karena itu mereka juga memandang sekolah dengan sebelah mata, hanya sebagai kekuatan yang akan menumpulkan kemampuan anak-anaknya. Mereka memandang anak-anak mereka akan hebat dan sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti apa yang cocok diberikan kepada anak-anak mereka. Mereka mudah terpengaruh kiat-kiat atau cara-cara unik dalam mendidik anak tanpa bersekolah. Buku-buku instant dalam mendidik anak sangat mereka sukai.

7. Encounter Group Parents (ortu ngerumpi)
Merupakan kelompok orang tua yang memiliki dan senang pergaulan. Mereka terkadang cukup berpendidikan namun tidak cukup berada atau terkadang tidak memiliki pekerjaan tetap. Terkadang juga merupakan kelompok orang tua yang kurang bahagia dalam perkawinan nya.Mereka menyukai dan sangat mementingkan nilai-nilai relationship dalam membina hubungan dengan orang lain. Mereka membuang-buang waktu dengan kelompoknya sehingga mengabaikan fungsi mereka sebagai orang tua. Mereka berharap anak-anak mereka jadi superkids. Namun banyak dari anak-anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang diharapkan.

8. Milk and Cookies Parents (ortu ideal)
Merupakan kelompok orang tua yang memiliki masa kanak-kanak yang bahagia, memiliki kehidupan masa kecil yang sehat dan manis. Mereka cenderung menjadi orang tua yang hangat dan menyayangi anak-anaknya dengan tulus. Mereka juga sangat peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka dengan penuh dukungan. Mereka memenuhi rumah tangga mereka dengan buku-buku, lukisan dan musik yang disukai anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang makan, bersahabat dan menciptakan lingkungan yang menstimulasi anak-anak mereka untuk tumbuh mekar disegala potensi dirinya. Anak-anak mereka pun meninggalkan masa kanak-kanak dengan penuh kenangan indah. Kehangatan hidup berkeluarga menumbuhkan kekuatan rasa yang sehat pada anak untuk percaya diri dan antusias dalam kelompok belajar. Kelompok ini merupakan kelompok orang tua yang menjalankan tugasnya dengan patut kepada anak-anak mereka. Mereka begitu yakin bahwa anak-anak membutuhkan proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya. Dengan kata lain mereka percaya bahwa anak sendirilah yang akan menemukan sendiri kekuatan di dirinya. Bagi mereka setiap anak adalah benar-benar seorang anak yang hebat dengan kekuatan potensi yang juga berbeda dan unik.

"ANAK ADALAH ANUGERAH TUHAN...SEBAGAI HADIAH KEPADA SEMESTA ALAM, TETAPI CITRA ANAK DIBENTUK OLEH SENTUHAN TANGAN-TANGAN MANUSIA DEWASA YANG BERTANGGUNG JAWAB". Kesimpulannya aku termasuk tipe orang tua yang mana ya?

Pengenalan Tuhan dan Etika Berawal dari Usia Dini

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag
(Kepala TK-PAUD Citra Al Madina Padang)



Di dalam keluarga, orangtua bertanggung jawab memberikan pendidikan bagi anak-anaknya. Pendidikan yang harus diberikan pertama kali dan sangat penting adalah pendidikan agama. Karena, pendidikan agama itu mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik di akhirat maupun di dunia. Bila agamanya baik maka baik pula kualitas manusia itu.

Memberikan pendidikan akidah bagi anak bisa didahulukan dengan mengenalkan Allah swt dan menanamkan kecintaan terhadap-Nya. Orangtua dapat menjelaskan bahwa Allah swt adalah Maha Pencipta semesta alam, dunia beserta isinya, Allah swt adalah Maha Pemberi Rezeki, Maha Baik, Maha Kuasa, Maha Mengetahui dan Mendengar segalanya, dan sebagainya. Kemudian, dengan bertahap anak diajarkan untuk menjalankan semua perintah Allah swt seperti sholat, puasa, dan lain-lain, serta untuk menjauhi segala larangan Allah swt. Salah satu metode dalam pendidikan akidah yaitu metode penghafalan. Hafalan-hafalan yang dilakukan anak-anak akan dapat mengantarnya kepada sebuah pemahaman. Bila sang anak mau menghafalkan dan memahaminya, maka akan tumbuh dalam dirinya sebuah keyakinan. Keyakinan inilah yang akan membuatnya melakukan hal-hal yang benar karena ia tahu keyakinannya itu akan menyelamatkannya di dunia dan di akhirat. Dengan begitu, anak tidak akan menyekutukan Tuhannya, Allah swt.


Hafalan-hafalan yang diajarkan pada anak-anak misalnya saja gerakan dan bacaan sholat, doa-doa, Al Quran, dan adab-adab. Selain itu, penting pula untuk mengajari anak sunnah-sunnah qauli (yang sifatnya ucapan/bacaan), misalnya saja:

  • Membaca bismillah ketika hendak melakukan sesuatu.
  • Membaca doa makan ataupun bismillah ketika hendak makan dan melafalkan hamdalah ketika selesai makan.
  • Memuji Allah saat bersin (mengucapkan Alhamdulillah), dan mengucapkan yarhamukallah ketika mendengar orang yang bersin.
  • Membiasakan mengucapkan Subhanallah bila melihat sesuatu yang mengagumkan.
  • Mengajarkan doa-doa lainnya kepada anak hingga hafal, seperti doa hendak tidur, doa bangun tidur, doa masuk dan keluar rumah, dan lain-lain.


Akhlak merupakan cerminan dari iman yang mencakup dalam segala bentuk perilaku. Pendidikan akhlak juga harus diberikan kepada anak-anak sejak dini agar mereka kelak menjadi manusia yang diridhoi oleh Allah swt dan dapat menghargai semua orang. Pendidikan akhlak adalah proses pembinaan budi pekerti anak sehingga menjadi budi pekerti yang mulia (akhlaqul karimah). Dalam hal ini orangtua sangat berperan dalam memberikan pendidikan agama secara menyeluruh. Selain itu, akhlak anak-anak bergantung pada kebiasaan dan perilaku orangtua dan saudara-saudaranya di rumah. Anak-anak akan mencontoh ayah dan ibunya dalam berperilaku. Anak-anak akan meniru kebiasaan dan tingkah laku orangtua dan saudara-saudaranya. Bila anak sering melihat orang tuanya saling menolong dan bergaul dengan baik, maka anak dengan mudah berprilaku seperti itu pula. Begitupun dengan ucapan-ucapan yang sering didengar oleh anak-anak, akan mudah ditiru oleh mereka. Oleh karena itu, sudah semestinya orangtua dapat menjadi contoh teladan bagi-anak-anaknya, seperti sopan santun dalam bertutur maupun berprilaku sehari-hari. Dalam mengajarkan pendidikan akhlak di rumah, orangtua dapat mengajarkan dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu seperti berbakti pada orangtua, menuruti kata-kata orangtua, sopan kepada orangtua dan saudara-saudara, dan sebagainya.

Insert : IFA latihan Manasik Haji

Jumat, 20 Maret 2009

Sosialisasi Anak dan Televisi

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag
(Kepala PAUD-TK Citra Al Madina Padang)

Dalam zaman kini, kekhawatiran seorang ibu terhadap rasa sepi yang hinggap pada anak-anak mereka di rumah, barangkali sudah tidak lagi menemukan relevansinya. Pertama, di setiap rumah tangga selalu hadir si “tube tolol” (baca: televisi) yang senantiasa menemani si kecil menghabiskan hari-harinya. TV telah menjadi mesin dongeng yang jauh lebih memukau daripada nenek pencerita, yang mudah dilumpuhkan oleh batuk kronis dan kepikunan. Semenjak TV bertengger di ruang tamu, atau bahkan berekspansi ke setiap kamar tidur, orangtua sudah tidak perlu lagi capek-capek mendongeng dan meninabobokan anak. Bagi anak-anak jaman sekarang, cerita kekerasan dan kematian bukanlah sesuatu yang ganjil dan menakutkan. Kedua, Setiap hari mereka duduk di depan TV, mengunyah ilusi-ilusi tersebut yang konon begitu “jorok dan berlumuran darah”. Beberapa Media Massa yang melakukan Survei membenarkan bahwa anak-anak adalah penonton berat televisi. Rata-rata anak usia 2-5 tahun menonton televisi 27,8 jam/minggu. Padahal sekitar 80% dari waktu utama pertunjukkan menampilkan kekerasan. Frekuensi tersebut makin meningkat pada acara kartun Sabtu pagi, yang rata-rata lebih dari 25 episode kekerasan/jam.

Seiring dengan dengan tumbuhnya kepercayaan khalayak pada aneka prasangka psikologis mengenai kerapuhan jiwa anak dan hubungannya dengan TV, akan lebih tepat sekiranya jika kekhawatiran seorang ibu dialamatkan untuk teror mental televisi terhadap perkembangan jiwa anak. TV tampaknya telah menjadi semacam nenek penyihir yang memperkenalkan anak pada pesona kematian (nekrofilia) dan the art of destruction (Yasraf Amir Piliang, 1995). Disinyalir bahwa televisi bukan hanya merupakan hiburan bagi anak-anak, tetapi juga sarana sosialisasi (kekerasan) yang penting.

Cara Mendidik Anak


Jika anak dibesarkan dengan cacian, maka ia akan belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia akan belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia akan belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia akan belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia akan belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, maka ia akan belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengansebaik-baiknya perlakuan,
maka ia akan belajar berkeadilan
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,
maka ia akan belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Salah satu sudut kelas (Sempoa Class) di TK-PAUD Citra Almadina

Senin, 16 Maret 2009

NALURI SANG IBU

Sungguh ........ "segunung dan seangkasa" kata-kata, sangat sulit mendeskripsikan dan menarasikan gambar "naluri monyet yang ibu" di bawah ini.





Kamis, 12 Maret 2009

Kesetiaan Pada Pasangan

Oleh : Muhammad Ilham (Ayah Ifa-Adek)

Untuk : "My Soulmate" Imla W. Ilham (Biarlah Engkau yang Tercantik di Hatiku)

M. Fauzil Adzim (1999: 451) mengawali uraian bab 15 dalam bukunya Kado Pernikahan Untuk Istriku. Setelah menikah menurut nya, sepasang suami istri memiliki amanah untuk saling menjaga. Suami menjaga pandangannya sehingga ia tidak memandang dengan perasaan ”besar” kecuali terhadap istrinya. Ia tidak mengangankan orang lain kecuali istrinya sendiri. Tidak ada yang cantik dalam arti sesungguhnya, kecuali istrinya sendiri. Karenanya, para istri hendaknya berusaha membuat pandangan mata suami hanya tertuju pada mereka. Tidak ada peluang yang diberikan bagi para suami untuk memandang yang lain disebabkan mereka tertawan ”pesona” istri mereka di rumah. Jika wajah istri membawa kesejukan, insha Allah mereka tidak tergerak untuk memalingkan pandangan.

Kesejukan wajah lanjut Fauzil Adzim, tidak berhubungan dengan kecantikan. Bagi seseorang yang belum menikah, kecantikan wajah bisa jadi menjadi faktor penting dan mungkin paling menentukan, sehingga ditemukan orang yang menikah atas dasar kecantikan fisik ini. Tetapi bagi seseorang yang sudah menikah, atau menghayati dengan benar sebuah pernikahan, kecantikan wajah menjadi tidak demikian penting. Kecantikan wajah diletakkan dalam nomor sekian. Kesejukan wajah istri ketika dipandang akan jauh lebih penting dibandingkang kecantikannya. Berkenaan dengan hal ini Rasulullah Saw. dalam hadith riwayat Abu Dawud menegaskan bahwa sebaik-baik wanita adalah istri yang shalihah. Jika dipandang menyejukkan mata suaminya, jika diperintah akan taat, dan apabila ditinggalkan ia akan menjaga diri dan hartanya. Istri yang menyejukkan mata suami tentunya tidak hanya berlaku bagi yang memiliki paras ayu dan kecantikan luar biasa. Bisa jadi seorang istri yang dinilai kebanyakan orang ”biasa” saja, justru menyimpan keteduhan jiwa yang luar biasa sehingga dapat menghapus kepenatan psikis dan fisik suami saat pulang dari aktivitas kerja. Sebaliknya, boleh jadi kecantikan wajah yang diangan-angankan seseorang sebelum menikah, akan tampak membosankan dan melelahkan mata karena tidak memancarkan kesejukan sedikitpun.

Hadith Nabi diatas mengisyaratkan bahwa seorang istri hendaknya dapat melakukan berbagai cara untuk tampil menarik di depan suami. Kecantikan rohani atau batin dalam berbagai bentuknya seperti sopan santun, keikhlasan dalam melayani keluarga, ketekunan dalam beribadah, dan kesabaran tentu merupakan prioritas utama. Tetapi kecantikan lahiriyah berupa wajah yang bersih, ”body” yang tetap ramping, serta cara berpakaian yang apik juga tidak boleh diabaikan. Ini berarti bahwa istri tida selayaknya tampil nglombrot di depan suami. Dengan memadukan keduanya diharapkan suami tetap ”tertawan” dan tidak berpaling ke lain hati.

Meski hadith Nabi di atas hanya menyebut ”kewajiban” istri untuk tampil menarik bagi pasangannya, tetapi hadith diatas juga berkonotasi sebaliknya. Suami yang shalih hendaknya juga menarik bagi suami. Hal ini berarti, bahwa suami diharapkan dapat ”ganteng” secara batiniyah maupun lahiriyah. Suami tidak hanya menuntut istri untuk menarik hatinya, tetapi ia juga dituntut tampil menarik untuk si istri. Perasaan untuk tetap saling menarik bahkan sesudah lama berumah tangga merupakan salah satu modal penting untuk mewujudkan kesetiaan dalam berkeluarga yang pada gilirannya dapat menghadirkan keharmonisan rumah tangga.

Kesetiaan memang bersumber dari perasaan di hati tetapi akarnya juga melekat pada tampilan fisik. Karenanya mempercantik tampilan fisik tetap diperlukan untuk merawat kesetiaan disamping tentunya mempercantik ”hati” dan tubuh bagian dalam. Sebutan innerbeauty yang populer belakangan ini tidak menafikan keberadaan outerbeauaty tetapi mendorong seseorang untuk tidak hanya mengandalkan tampilan fisik. Paduan kedua kecantikan pada suami istri diharapkan dapat menepis hadirnya ”cinta lain” yang dapat menggerogoti keutuhan rumah tangga.

Kesetiaan ibarat sebuah tanaman yang perlu dipelihara. Ia membutuhkan siraman air, suplai pupuk, dan penyiangan. Dengan pemeliharaan yang baik ”tanaman” kesetiaan akan tumbuh besar dan berbuah cinta kepada pasangan dan anak-anak. Sebaliknya, perasaan cinta kepada bukan “pasangan sah” tidak akan tumbuh subur dan merajalela, apabila kita bisa memupuk dan merawat cinta kepada “pasangan sah” kita. Dan itu tentu saja harus dilakukan oleh kedua belah pihak, bukan hanya salah satu pihak. Kesetiaan, kepercayaan, kejujuran, dan keterbukaan benar-benar harus menjadi “pilar” yang kokoh dalam berumah tangga, dan dilakukan oleh pasangan suami istri atas dasar keikhlasan, bukan karena “keharusan” dan “keterpaksaan” semata-mata. Generasi dan keturunan yang bermutu hanya dapat dilahirkan dari rahim keluarga-keluarga kokoh. (Postingan dari seorang Sahabat)

RAHASIA KEBAHAGIAAN

RAHASIA KEBAHAGIAAN adalah memusatkan perhatian pada kebaikan dalam diri orang lain. Sebab, hidup bagaikan lukisan: Untuk melihat keindahan lukisan yang terbaik sekalipun, lihatlah di bawah sinar yang terang, bukan di tempat yang tertutup dan gelap sama halnya sebuah gudang. RAHASIA KEBAHAGIAAN adalah tidak menghindari kesulitan. Dengan memanjat bukit, bukan meluncurinya, kaki seseorang tumbuh menjadi kuat. RAHASIA KEBAHAGIAAN adalah melakukan segala sesuatu bagi orang lain. Air yang tak mengalir tidak berkembang. Namun, air yang mengalir dengan bebas selalu segar dan jernih. RAHASIA KEBAHAGIAAN adalah belajar dari orang lain, dan bukan mencoba mengajari mereka. Semakin Anda menunjukkan seberapa banyak Anda tahu, semakin orang lain akan mencoba menemukan kekurangan dalam pengetahuan Anda. Mengapa bebek disebut "bodoh"? Karena terlalu banyak bercuap-cuap. RAHASIA KEBAHAGIAAN adalah kebaikan hati: memandang orang lain sebagai anggota keluarga besar Anda. Sebab, setiap ciptaan adalah milik Anda. Kita semua adalah ciptaan Tuhan yang satu. RAHASIA KEBAHAGIAAN adalah tertawa bersama orang lain, sebagai sahabat, dan bukan menertawakan mereka, sebagai hakim. RAHASIA KEBAHAGIAAN adalah tidak sombong. Bila Anda menganggap mereka penting, Anda akan memiliki sahabat ke manapun Anda pergi. Ingatlah bahwa musang yang paling besar akan mengeluarkan bau yang paling menyengat.

RAHASIA KEBAHAGIAAN datang kepada mereka yang memberikan cintanya secara bebas, yang tidak meminta orang lain mencintai mereka terlebih dahulu. Bermurah hatilah seperti mentari yang memancarkan sinarnya tanpa terlebih dahulu bertanya apakah orang-orang patut menerima kehangatannya. Kebahagiaan berarti menerima apapun yang datang, dan selalu mengatakan kepada diri sendiri "Aku bebas dalam diriku". Kebahagiaan berarti membuat orang lain bahagia. Padang rumput yang penuh bunga membutuhkan pohon-pohon di sekelilingnya, bukan bangunan-bangunan beton yang kaku. Kelilingilah padang hidup Anda dengan kebahagiaan. Kebahagiaan berasal dari menerima orang lain sebagaimana adanya; nyatanya menginginkan mereka bukan sebagaimana adanya. Betapa akan membosankan hidup ini jika setiap orang sama. Bukankah taman pun akan tampak janggal bila semua bunganya berwarna ungu? RAHASIA KEBAHAGIAAN adalah menjaga agar hati Anda terbuka bagi orang lain, dan bagi pengalaman-pengalaman hidup. Hati laksana pintu sebuah rumah. Cahaya matahari hanya dapat masuk bilamana pintu rumah itu terbuka lebar.

Rabu, 11 Maret 2009

Surat Dari Ayah Buat Anakku IFA dan Anakku yang Masih dalam Kandungan (ADEK)

Aku tuliskan surat ini atas nama rasa sayang yang besarnya
hanya Allah yang tahu

Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia. Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu, belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui. Nak, bacalah sejarah Nabi-nabi dan Rasul, serta temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ayah. Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit. Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, aku seperti menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu. Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling aku banggakan di depan siapapun, bahkan di hadapan Allah, ketika aku duduk berduaan berhadapan denganNya, hingga saat usia ayah yang sudah 35 tahun ini.

Nak, saat pertama engkau hadir, kucium dan kupeluk engkau sebagai buah cintaku dan ibumu. Sebagai bukti bahwa aku dan ibumu tak lagi terpisahkan oleh apapun jua. Tapi seiring waktu, ketika engkau suatu kali telah mampu berkata: “TIDAK”, timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya. Engkau bukan milikku, atau milik ibumu, Nak. Engkau lahir bukan karena cintaku dan cinta ibumu. Engkau adalah milik Allah. Tak ada hakku menuntut pengabdian darimu. Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya untuk Allah.

Nak, sedih, pedih, dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya aku dan siapa engkau. Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi, kusesali kesalahanku itu sepenuh-penuh air mata di hadapan Allah. Syukurlah, penyesalan itu mencerahkanku. Sejak saat itu, Nak, satu-satunya usahaku adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya. Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan pemilikmu. Melakukan segala sesuatu karenaNya, bukan karena aku dan ibumu. Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan.

Inilah usaha terberatku, Nak, karena artinya aku harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Allah. Keinginanku harus lebih dulu sesuai dengan keinginan Allah. Agar perjalananmu mendekatiNya tak lagi terlalu sulit. Kemudian kita pun memulai perjalanaan itu berdua, tak pernah engkau kuhindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam. Aku cuma menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain. Agar dapat kau rasakan perjalanan rohaniah yang sebenarnya. Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh berhenti, Nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan menghapus airmatamu, ketika engkau hampir putus asa. Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Allah, dan kudapati jarakku amat jauh dariNya, aku akan ikhlas, karena seperti itulah aku di dunia. Tapi kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Allah. Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya.

Kutulis surat ini, Pagi hari 1 jam setelah Tsunamy Aceh
Ketika ayah masih di Malaysia
Ketika rinduku memuncak padamu nak
Ketika rindu Ibumu memuncak pada Ayah
Ketika Ibumu sudah mulai "merasa berat" membawa adikmu (adek) dalam kandungan
Ketika untuk pertama kalinya Ayah "menangis" di rantau orang

Salam sayang dan selalu menghormati kalian sebagai anak
Sungai Serai Lorong Serai Hulu Langat, Selangor DE., Malaysia
(Ayahmu)

Senin, 09 Maret 2009

Mengapa Wanita Menangis ?

Ditulis Ulang Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag
(Kepala TK PAUD Citra Al Madina Padang)

Postingan ini dari seorang sahabat.

“Kenapa ibu menangis?” Tanya seorang anak kepada ibunya.
“Karena aku seorang wanita,” jawabnya.
“Aku tidak mengerti,” katanya.
Ibunya memeluknya dan berkata,”Kamu tidak akan pernah tahu, tapi itu tidak jadi masalah.”
Tak lama kemudian anak itu bertanya pada ayahnya, “Mengapa ibu menangis tanpa alasan yang jelas?”
“Semua wanita menangis tanpa alasan,” hanya jawaban seperti itulah yang dapat diberikannya.
Anak kecil itu tumbuh menjadi seorang pria, masih tetap bertanya-tanya mengapa wanita menangis. Akhirnya dia bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, kenapa wanita mudah menangis?”

Tuhan menjawab…..
Ketika Aku menciptakan wanita, aku putuskan dia harus istimewa. Aku membuat pundaknya cukup kuat untuk memikul beban kehidupan; namun aku membuat lengannya cukup lembut untuk memberikan kenyamanan…..

Aku berikan kekuatan batin untuk menanggung persalinan serta penolakan yang sering kali dialaminya, bahkan dari anak-anaknya sendiri…..
Kuberikan padanya ketangguhan sehingga memungkinkannya merawat keluarga dan teman-temannya, bahkan ketika semua orang menyerah karena penyakit dan kelelahan, dia tidak mengeluh…..

Kuberikan kepekaan padanya untuk mencintai anak-anaknya dalam keadaan apapun. Bahkan ketika anak-anaknya sangat mengecewakannya… ..
Dia memiliki kekuatan istimewa yang menenangkan tangis anaknya serta mengatasi kegelisahan dan kekhawatiran anak remajanya…..
Kuberikan kekuatan untuk merawat suaminya, walau dia melakukan kesalahan. Dan Aku menciptakannya dari rusuk laki-laki untuk melindungi hati suaminya…..
Kuberikan kearifan agar mengetahui bahwa seorang suami yang baik tak kan pernah menyakiti isterinya, tapi kadang-kadang menguji ketegaran serta ketabahan isterinya untuk terus mendampingi suaminya tanpa ragu…..
Untuk semua kerja kerasnya ini, Aku juga memberi dia air mata untuk dicucurkannya. Ini adalah yang dibutuhkannya untuk meringankan bebannya, dan ini adalah satu-satunya kelemahannya… ..

Ketika kamu melihatnya menangis, katakan padanya betapa kamu mencintainya, dan menghargai semua yang telah dilakukannya bagi banyak orang, dan walaupun mungkin dia masih tetap menangis, tapi sesungguhnya kamu telah membuat hatinya terhibur…..

Sabtu, 07 Maret 2009

Pendidikan Anak Mulai Dari Kandungan

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag
(Kepala TK PAUD Citra Al Madina Padang)

Artikel Dr Stephen Carr Leon patut menjadi renungan bersama. Stephen menulis dari pengamatan langsung. Setelah berada 3 tahun di Israel karena menjalani housemanship dibeberapa rumah sakit di sana. Dirinya melihat ada beberapa hal yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu, "Mengapa Yahudi Pintar?" Ketika tahun kedua, akhir bulan Desember 1980, Stephen sedang menghitung hari untuk pulang ke California, terlintas di benaknya, apa sebabnya Yahudi begitu pintar? Kenapa tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu kebetulan? Atau hasil usaha sendiri? Maka Stephen tergerak membuat tesis untuk Phd-nya. Sekadar untuk Anda ketahui, tesis ini memakan waktu hampir delapan tahun. Karena harus mengumpulkan data-data yang setepat mungkin. Marilah kita mulai dengan persiapan awal melahirkan. Di Israel, setelah mengetahui sang ibu sedang mengandung, sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano. Si ibu dan bapak akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal bersama suami.

Stephen sungguh heran karena temannya yang mengandung sering membawa buku matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan. Kebetulan Stephen suka matematika. Stephen bertanya, “Apakah ini untuk anak kamu?” Dia menjawab, "Iya, ini untuk anak saya yang masih di kandungan, saya sedang melatih otaknya, semoga ia menjadi jenius." Hal ini membuat Stephen tertarik untuk mengikut terus perkembangan nya. Kembali ke matematika tadi, tanpa merasa jenuh si calon ibu mengerjakan latihan matematika sampai genap melahirkan.Hal lain yang Stephen perhatikan adalah cara makan. Sejak awal mengandung dia suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu. Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan.

Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandungi kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan. Ini adalah adat orang orang Yahudi ketika mengandung. menjadi semacam kewajiban untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan. Ketika diundang untuk makan malam bersama orang orang Yahudi. Begitu Stephen menceritakan, “Perhatian utama saya adalah menu mereka. Pada setiap undangan yang sama saya perhatikan, mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet),” ungkapnya. Biasanya kalau sudah ada ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada bersama di satu meja. Menurut keluarga Yahudi, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan bersama. Salad dan kacang, harus, terutama kacang badam. Uniknya, mereka akan makan buah buahan dahulu sebelum hidangan utama. Jangan terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan buah buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan kabohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita merasa ngantuk. Akibatnya lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah. Di Israel, merokok adalah tabu, apabila Anda diundang makan dirumah Yahudi, jangan sekali kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar dari rumah mereka. Menyuruh Anda merokok di luar rumah mereka. Menurut ilmuwan di Universitas Israel, penelitian menunjukkan nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Artinya, keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak ( bodoh). Suatu penemuan yang dari saintis gen dan DNA Israel. Perhatian Stephen selanjutnya adalah mengunjungi anak-anak Yahudi. Mereka sangat memperhatikan makanan, makanan awal adalah buah buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever).

Dalam pengamatan Stephen, anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata rata mereka memahami tiga bahasa, Hebrew, Arab dan Inggris. Sejak kecil mereka telah dilatih bermain piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban. Menurut mereka bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. Sudah tentu bakal menjadikan anak pintar.Ini menurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak. Tak heran banyak pakar musik dari kaum Yahudi. Seterusnya di kelas 1 hingga 6, anak anak Yahudi akan diajar matematika berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan Stephen, “Perbandingan dengan anak anak di California, dalam tingkat IQ-nya bisa saya katakan 6 tahun kebelakang!!!” katanya. Segala pelajaran akan dengan mudah di tangkap oleh anak Yahudi. Selain dari pelajaran tadi olahraga juga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga yang diutamakan adalah memanah, menembak dan berlari. Menurut teman Yahudi-nya Stephen, memanah dan menembak dapat melatih otak fokus. Disamping itu menembakbagian dari persiapan untuk membela negara. Sumber : http://sabili.co.id/

Rumah adalah Tempat Bersemainya CINTA

Oleh : Imla W. Ilham, S.Ag
(Kepala TK PAUD Citra Al Madina Padang)

Cinta adalah kekuatan magis yang membakar semangat manusia. Siapapun yang mendapatkan bara cinta dari orang-orang dekatnya maka ia akan bangkit dari keterpurukannya dan kemudian menemukan jalan hidupnya. Orang yang frustasi adalah orang yang kehilangan cinta. Cinta adalah jembatan yang dilalui anak manusia untuk mendapatkan kesempurnaan jiwanya. Tanpa cinta, manusia akan menjalani hidup yang basa-basi dan menoton alias menjemukan. Cintalah yang membuat manusia survive dalam mengatasi pelbagai problema dan derita. Rumah adalah tempat pertama dan terbaik untuk menuai cinta. Manusia yang sukses adalah manusia yang memetik embun cinta dan menghisap hembusan angin cinta di rumah nya. Anak yang gagal meneguk secawan cinta dari kedua orang tuanya akan menjadi anak yang terpaksa memburu cinta di luar rumahnya. Orang tua yang gagal menjadi sumber cinta bagi anak-anaknya akan membuat suasana rumah tegang, tak nyaman dan kehilangan fungsi sebagai tempat peristirahatan fisik dan spiritual. Akibatnya, si anak yg tidak menghirup angin cinta di rumah maka bahkan di saat tidur pun pikirannya ke mana-mana. Ia justru merasa tenang saat keluar dan jauh dari rumah.

Memandang wajah orang tua yang kata Nabi saw adalah ibadah adakalanya saat orang tua gagal menjadi teladan bagi anaknya malah membuat anak ketakutan, gelisah dan salah tingkah. Maka, adakalanya kenakalan remaja didahului oleh kenakalan orang tuanya. Anak yang nakal adalah anak yang gagal meniru orang tuanya, karena orang tua tidak mampu memberikan contoh yang baik bagi anaknya. Sehingga ada dua kemungkinan bagi anak ini: pertama, ia akan mencari contoh di luar. Bila ia mendapatkan teman/ pembimbing yang baik maka ia akan menjadi anak yg baik. Atau bila ia menemukan contoh yg buruk di luar rumah maka boleh jadi ia lebih “nakal” daripada orang tuanya.

Insert : Foto Ifa dari kecil disamping ASI, sangat suka minum susu sambil memeluk boneka atau siku ibunda.... dengan ini biasanya cepat tidur

Tips Merawat Kulit Bayi

Oleh : Imla W. Ilham
(Kepala TK-PAUD Citra Al Madina Padang)

Saat anak Anda masih balita, sangat rentan dengan gangguan kulit. Hal ini disebabkan karena sensitifkannya kulit bayi. Untuk itu diperlukan adanya perawatan yang cermat terhadap kulit bayi. Ketidakcermatan dalam perawatan bayi dapat menyebabkan berbagai gangguan terhadap kulit yang diakibatkan oleh biang keringat, ruam popok atau eksim susu. Biang keringat ditandai dengan timbulnya bintil merah yang disertai rasa gatal. Biasanya timbul di daerah dahi, paha dan bagian tubuh lain yang tertutup oleh pakaian bayi. Biang keringat ini disebabkan oleh hawa udara yang panas dan pengap sehingga menyebabkan tersumbatnya kelenjar keringat. Sedangkan ruam popok ditandai dengan timbulnya radang di daerah yang tertutup oleh popok, seperti di pangkal paha atau di pantat. Biasanya berwarna merah diserta luka ringan dan terasa gatal. Berikut adalah tips perawatan terhadap kulit bayi untuk menjaga kelembutan kulit bayi Anda :

* Biasakan bayi anda mandi secara teratur, sebaiknya tiga kali sehari dengan menggunakan sabun khusus untuk bayi.
* Setelah bayi anda selesai mandi, keringkan dengan handuk bayi yang lembut dan pastikan bahwa daerah yang tertutup maupun lipatan benar-benar kering.
* Gunakanlah pakaian bayi yang tidak terlalu ketat dan tebal untuk menghindarkan dari timbulnya keringat.
* Setiap bayi berkeringat seka dengan lap basah dan keringkan dengan kain bersih. Taburkan bedak bayi yang lembut tipis tipis ke kulit bayi Anda.
* Sebaiknya bayi diletakkan dalam ruang yang memiliki ventilasi cukup untuk pertukaran udara.
* Gunakan popok yang lembut dan dapat dengan mudah menyerap basah.
* Jangan terlalu lama menggunakan popok atau diaper. Begitu popok basah, cepatlah menggantinya dengan popok yang baru. Dan jangan lupa untuk membersihkan daerah popok tersebih dahulu dengan air hangat dan keringkan dengan kain atau handuk yang lembut. Lalu berikanlah bedak lembut pada kulit bayi Anda.

Untuk mencegah eksim susu, beberapa perawatan yang bisa dilakukan seperti menghindari pengunan air yang terlalu panas, menggunakan sabun mandi khusus untuk bayi, mengoleskan lotion bayi setelah mandi untuk menjaga kelembaban kulitnya. Jika kondisi membusuk dan lebih banyak kulit teriritasi, maka segera bawa ke dokter. Yang memiliki pengalaman lain dalam merawat kulit bayi, silahkan sampaikan di command bawah untuk di bagi dengan teman-teman lain. Semoga bermanfaat. (Dari berbagai sumber)

Insert : Foto Adek ketika belajar mandi, umur 14 bulan

Kamis, 05 Maret 2009

Adek "On Air" : Outing di RRI Padang



CERITA "ADEK" TENTANG KODOK

Suatu ketika, ada sekelompok kodok yang berjalan melintasi hutan. Merekasemua berjalan beriringan. Hop..hop..lompat..lompat, begitu cara merekaberjalan. Tapi, plung...., tiba-tiba, ada 2 ekor kodok yang terjatuh kedalam sebuah lubang yang dalam. Semuanya kebingungan. Mereka lalu berkumpul di pinggir lubang, dan melonggok ke bawahnya. Saat itulah mereka melihat, betapa dalamnya lubang itu. Mereka semua berpikir, 2 ekor kodok itu pasti sudah mati karena terjatuh. Namunmereka keliru, saat terdengar suara dari bawah sana. Tolong...tolong, begitu teriak mereka.

Tak ada yang dapat mereka lakukan, karena, memang, lubang itu terlalu dalam bagi seekor kodok. Mereka yang ada dipinggir lubang sudah kehilangan semangat. Mereka berseru, tak ada gunanya berusaha, sebab, kecil kemungkinan bagi keduanya untuk selamat. Mereka mengatakan, setiap kodok yang terjatuh kedalam lubang itu, pasti mati. Namun, kedua kodok itu menghiraukan mereka. Keduanya mencoba melompat dan terus melompat agar dapat mencapai bibir lubang. Mereka lakukan berbagai cara agar dapat keluar dari lubang tersebut. Akan tetapi, semua kodok yang diatas telah patah semangat. Mereka tetap menyarankan agar keduanya berhenti berusaha. Sebab tak ada yang pernah berhasil keluar dari lubang itu sebelumnya. "Hentikan perbuatan itu, teriak mereka..."Kalian hanya membuang tenaga dengan melompat-lompat seperti itu. Kalau tak mati kelaparan, kalian pasti akan mati kelelahan."

Akhirnya, ada salah satu dari kodok itu yang menyerah. Sebab, kodok itu berpendapat, ia pasti tak akan berhasil. Semua temannya pun berpendapat yang sama. Tak ada yang pernah selamat dari lubang ini. Begitu pikir sang kodok pertama. Ia lalu melompat, terjatuh dan akhirnya mati. Namun, kodok yang kedua tetap melanjutkan usahanya. Ia terus melompat dan melompat. Sekali lagi, kumpulan kodok yang ada dipinggir lubang berteriak agar ia menghentikan usahanya. Mereka terus memperingatkan sang kodok ini. "Ayo..ayo..sudahlah, hentikan perbuatan bodoh itu. Jangan pernah berpikir untuk berhasil, lubang ini terlalu dalam buat seekor kodok sepertimu." Begitu teriak mereka bersama-sama. Sang kodok itu berusaha lebih keras dan lebih keras. Akhirnya ia berhasil. Sebuah lompatan yang tinggi membuatnya dapat mencapai pinggir lubang. Ahhha.....plop. Sang kodok sampai di atas kembali. Saat sampai diatas, teman-temannya berseru, "Hei...apakah kamu tidak mendengarkan kita semua?" Kodok itu malah berkata, "sobat, terima kasih atas sorakan-sorakan itu. Lho? Semuanya malah saling berpandangan. Ohho...tak lama kemudian kelompok kodok itu mengerti. Kodok kedua lalu menjelaskan bahwa, SEBENARNYA ia tuli, dan menyangka, semuanya tadi berusaha menyemangatinya agar terus mencoba melompat....

Sahabat, kisah ini mengajarkan kita 2 hal. Pertama, ada kekuatan antara hidup dan mati yang terletak dalam sebuah ucapan. Kata-kata yang berisi semangat kepada seseorang yang sedang lara dan dirundung kemalangan akan dapat membuatnya nyaman. Kata-kata yang menyejukkan akan dapat membuatnya melewati hari-hari dengan lebih cerah. Kedua, kata-kata yang memojokkan, yang hanya bercerita tentang kemalangan, akan dapat "membunuh" orang lain. Kata-kata itu hanya akan membuat orang yang sedang dilanda kesedihan, menjadi patah semangat. Teman, berhati-hatilah pada setiap kata yang kita ucapkan. Kadangkala, kata-kata yang kita ucapkan akan sangat berpengaruh kepada orang lain. Kata-kata itu bisa membuat orang frustasi, pesimis, dan enggan berusaha. Sangat sayang jika seandainya, semua ucapan itu hanya akan merenggut jiwa-jiwa pantang menyerah yang sebenarnya ada di dalam raga. Sungguh mulia mereka yang dapat membuat hidup orang lain lebih cerah, lebih nyaman, lebih indah dan lebih menyenangkan. Karena, bukankah "Hidup itu Indah?"

Sulungku : IFA

Buat Anakku : IFA
Tanpa terasa nak ....... engkau telah menjadi "gadis mungilku nan cantik". Bahagia melihat detik demi detik pertumbuhanmu


Melihat mata bening anak pertama, setiap wanita yang menjadi ibu pertama kalinya menyadari jika mereka diberi anugerah makhluk cantik, cerdas, dengan banyak kemampuan yang pernah ada. Kehadiran anak pertama bagi orang tua--terutama yang berambisi besar dalam pendidikan--evolusi sang anak menjadi perhatian utama dari hari-ke hari.

Setiap orang tua, yang mungkin mengalami pengalaman serupa, mungkin tidak mengejutkan jika sebuah penelitian mengungkapkan jika orang tua dari kelas pekerja menengah memberi perhatian lebih besar kepada anak pertama dari adik-adiknya. Bagaimana tidak? Membayar diri sendiri, orang tua memiliki misi besar dan rencana untuk membawa si pembaharu mungil agar menjadi pribadi yang paling cermelang dan berharap mereka adalah berkah.



(Ibunda IFA dengan Idola IFA - "Kak Seto Mulyadi")


Jumat, 27 Februari 2009

CERITA DARI BUNDA UNTUK ANAKKU : IFA DAN ADEK


(HUT IFA ke-5 bulan Juli 2008 & Foto 2 : HUT Adek ke-3 bulan Nopember 2008)

Sebuah ekspressi yang kontradiktif. Sulungku IFA memiliki kecenderungan adaptasi yang begitu murah, sangat ekspressif dan "gandrung" di potret (terkadang ia sendiri yang memilih pose). Sementara Bungsuku ADEK, agak protektif. Tak mudah mengikuti keinginan orang di luar "habitat ingroup"nya. Sehingga terlihat : "Ifa begitu siap menghadapi kamera, sementara Adek tidak". Mereka berdua memiliki kelebihan masing-masing.

KUPU - KUPU

Suatu ketika, terdapat seorang pemuda di tepian telaga. Ia tampak termenung. Tatapan matanya kosong, menatap hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata angin telah di lewatinya, namun tak ada satupun titik yang membuatnya puas. Kekosongan makin senyap, sampai ada suara yang menyapanya. Ada orang lain disana. “Sedang apa kau disini anak muda?” tanya seseorang. Rupanya ada seorang kakek tua. “Apa yang kau risaukan..?” Anak muda itu menoleh ke samping, “Aku lelah Pak Tua. Telah berkilo-kilo jarak yang kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namun tak juga kutemukan rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari melewati gunung dan lembah, tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemana kah aku harus mencarinya? Bilakah kutemukan rasa itu?”

Kakek Tua duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Di pandangnya wajah lelah di depannya. Lalu, ia mulai bicara, “di depan sana, ada sebuah taman. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku. Mereka berpandangan. “Ya…tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan tanganmu” sang Kakek mengulang kalimatnya lagi. Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya menuju satu arah, taman. Tak berapa lama, dijumpainya taman itu. Taman yang yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang berterbangan disana. Sang kakek, melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah yang diperbuat pemuda yang sedang gelisah itu.

Anak muda itu mulai bergerak. Dengan mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran. Perlahan. Namun, Hap! sasaran itu luput. Di kejarnya kupu-kupu itu ke arah lain. Ia tak mau kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Ia gagal. Ia mulai berlari tak beraturan. Diterjangnya sana-sini. Ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana. Gerakannya semakin liar. Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat ditangkap. Sang pemuda mulai kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergerak naik-turun dengan cepat. Sampai akhirnya ada teriakan, “Hentikan dulu anak muda. Istirahatlah.” Tampak sang Kakek yang berjalan perlahan. Tapi lihatlah, ada sekumpulan kupu-kupu yang berterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu. Mereka terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu.

“Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang? Menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?” Sang Kakek menatap pemuda itu. “Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi dari dirimu.” “Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri.”

Kakek Tua itu mengangkat tangannya. Hap, tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang hinggap di ujung jari. Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya. MoralMencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi mereka yang terlalu bernafsu, namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini, menabrak sana-sini, atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya. Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah. Kita pun dapat meraihnya dengan bernafsu, seperti menangkap buruan yang dapat kita santap setelah mendapatkannya.

Namun kita belajar. Kita belajar bahwa kebahagiaan tak bisa di dapat dengan cara-cara seperti itu. Kita belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat di genggam atau benda yang dapat disimpan. Bahagia adalah udara, dan kebahagiaan adalah aroma dari udara itu. Kita belajar bahwa bahagia itu memang ada dalam hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pula kebahagiaan itu akan pergi dari kita. Semakin kita berusaha meraihnya, semakin pula kebahagiaan itu akan menjauh.

Cobalah temukan kebahagiaan itu dalam hatimu. Biarkanlah rasa itu menetap, dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan. Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani hidup kita. Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam riuh. Temukanlah bahagia itu, dengan perlahan, dalam tenang, dalam ketulusan hati kita. Saya percaya, bahagia itu ada dimana-mana. Rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan mungkin, bahagia itu “hinggap” di hati kita, namun kita tak pernah memperdulikannya. Mungkin juga, bahagia itu berterbangan di sekeliling kita, namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.

Rabu, 25 Februari 2009

Ibunda IFA-DEDEK dan CITRA AL MADINA

(Imla dalam acara Himpaudi Sumbar di Pangeran's Beach Hotel)

Kegiatan Outing TK Citra Al Madina Padang ke LANUD Tabing


Melatih bicara anak sejak dini akan membantu kemampuan komunikasi dan interaksi sosial anak dengan lingkungan. Setiap apa yang dikatakan oleh orang tua, akan tersimpan di memori otak anak, dan suatu saat si anak akan meniru apa yang dia perolehnya, baik itu yang diajarkan orang tua maupun oleh orang-orang disekitarnya. Betapa penting mengajarkan bicara anak dengan kata-kata yang patut dicontoh oleh anak, meskipun si anak saat ini belum dapat berbicara satu dua kata pun. Berikut adalah tips mengajarkan bicara bagi bayi atau anak Anda :

* Ajaklah anak berbicara sesering mungkin, sejak dini, meskipun sebenarnya mereka belum waktunya berbicara.
* Berbicara dengan anak menggunakan suara yang lembut, karena anak lebih suka dengan suara yang lembut.
* Hindarkan berbicara kata kasar dan buruk di depan anak. Karena apa yang Anda ucapkan akan tersimpan di memori otak anak. Suatu saat kata-kata itu akan ditiru oleh anak Anda.
* Selain Anda mengajak bicara anak sesering mungkin, dengarkan juga apa yang diucapkan oleh anak meskipun kata-katanya belum begitu jelas. Lalu berilah respon terhadap apa yang dia katakan. Hal ini akan membuat si anak senang untuk berbicara.
* Jangan menyalahkan apa yang dia katakan. Ulangi apa yang disampaikan meskipun salah dengan kata yang benar dan berulang-ulang.
* Ajak anak berbicara sambil memakai pempers, sambil bermain ataupun sambil berjalan-jalan denan anak. Kombinasi waktu berbicara dengan anak membuat anak tidak bosan dan lebih menyenangkan buat anak.
* Lihat respon anak saat diajak berbicara. Jika anak masih memperhatikan Anda, maka Anda dapat terus mengajak anak untuk berbicara. Tetapi kalau anak tidak lagi memperhatikan Anda dan mulai mengalihkan perhatian, maka sebaiknya Anda menghentikan untuk sementara waktu berbicara dengan anak, untuk diulang lagi di lain waktu. Mungkin anak mulai bosan, jangan dipaksakan.
(Bahan : Diringkaskan Dari berbagai Sumber)


Seminar Tekhnik Mendongeng bersama Kak BIMO di Pangeran's Beach Hotel


Beberapa diantara guru TK-PAUD Citra Almadina (ka-ki : Teacher Vivit, saya (jilbab putih), Teacher Yanti, Teacher In Sempoa dan Teacher Sofie) ketika sedang membimbing anak-anak Outing ke Pantai Padang (Tema : Laut Ciptaan Allah SWT)



Studi Komparasi ke Malaysia-Singapura

"Alam takambang jadi guru", demikian kata pepatah Minangkabau. Dari perjalanan ke Malaysia dan Singapura, begitu banyak "kekurangan" yang harus kita tutupi. Begitu banyak pelajaran berarti yang harus kita pedomani, dan begitu banyak "kelebihan" kita yang harus tetap kita pupuk, ayomi dan kembangkan. Karena itulah, studi komparatif ini, dilakukan oleh PAUD Citra Al Madina.


Di Masjid Putrajaya Malaysia bareng Ibu Emma Yohanna, Riri, Siska Maidona, Sophie dan Ni Yanti


Ketika sampai di Kuala Lumpur International Airport, Malaysia bersama dengan Pak Abdul
Ibu Siska dan Bu Sophi


Ayah : IFA dan Adek Punya Puisi dari Kakek Taufik Ismail

Di Pelataran Ibu Pejabat PM Malaysia

Ayah di Pelataran Masjid Putrajaya Malaysia bersama Encik Edi -- Pedagang Buah asal Balai Selasa Pesisir Selatan yang telah menjadi Warga Negara Malaysia


Semoga Ayah terus belajar mengurangi merokok ......... IFA dan Adek belum bisa berikan apa-apa buat ayah, mungkin puisi dari Kakek Taufik Ismail ini kami berikan untuk ayah baca sebagai bentuk rasa sayang kami secara utuh pada ayah



TUHAN SEMBILAN SENTI
Oleh : Taufiq Ismail


Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok, Di sawah petani merokok,di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara- perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na'im sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah...ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika
melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan
HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di
kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di
dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok, Istirahat main tenis orang merokok, dipinggir lapangan voli orang merokok,menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, Turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok, Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil'ek-'ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedun 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok
merokok, Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na'im sangat ramah bagi orang
perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.

Mereka ulama ahli hisap. Haasapa, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala
kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan
setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan, Cuma sedikit yang memegang dengan tangan
kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang
sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.

25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith.

Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan, Para ulama ahli hisap itu terkejut
mendengar perbandingan ini.

Selasa, 24 Februari 2009

IFA dan ADEK : Buah Cinta Amanah ALLAH SWT.

Adek disamping "Teta" Iffa waktu Teta lagi Ulang Tahun ke-5.



Mungkin karena "jarak" yang tidak begitu lama. Hanya selang dua tahun, Ifa punya Adek. Begitu bahagia melihat mereka tumbuh. Ifa yang ceplas-ceplos (persis ayahnya), Adek yang "montok" karena suka makan dan "ganas" minum susu. Karena itulah, Adek seakan-akan mengejar pertumbuhan fisik "teta"nya (panggilan kesayangan Adek pada Ifa). 10 tahun ke depan, mereka adalah "gadis-gadis" kami yang sama tinggi dan sama cantik. Sungguh indah menantikan saat-saat itu.